Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Diproyeksi Bisa Tembus USD100 per Barel

Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Diproyeksi Bisa Tembus USD100 per Barel

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 1 Maret 2026 - 21:14
share

IDXChannel - Minyak mentah Brent melonjak 10 persen menjadi sekitar USD80 per barel di perdagangan luar bursa pada Minggu, menurut para trader minyak. 

Para analis memperkirakan harga bisa naik hingga USD100 per barel setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran menyeret Timur Tengah ke dalam perang baru.

"Meski serangan militer itu sendiri mendukung kenaikan harga minyak, faktor kuncinya di sini adalah penutupan Selat Hormuz," kata Direktur Energi dan Pemurnian di ICIS, Ajay Parmar, dilansir Reuters, Minggu (1/3/2026).

Sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar dan rumah perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz, setelah Teheran memperingatkan kapal agar tidak melintasi jalur tersebut. 

Lebih dari 20 persen minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz.

"Kami memperkirakan harga akan dibuka (setelah akhir pekan) jauh lebih dekat ke USD100 per barel dan bahkan bisa melampaui level itu jika terjadi gangguan berkepanjangan di Selat tersebut," ujar Parmar.

Analis RBC Helima Croft menuturkan bahwa para pemimpin Timur Tengah telah memperingatkan Washington bahwa perang terhadap Iran dapat mendorong harga minyak melonjak di atas USD100 per barel. Analis Barclays juga menyebut harga bisa mencapai USD100.

Ekonom Energi, Rystad Jorge Leon, mengatakan meski ada infrastruktur alternatif yang dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak bersih dari penutupan jalur tersebut diperkirakan menyebabkan kehilangan pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta barel per hari, bahkan setelah sebagian aliran dialihkan melalui pipa East-West Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi.

Rystad memperkirakan harga akan naik sekitar USD20 menjadi sekitar USD92 per barel saat perdagangan dibuka.

Krisis Iran juga mendorong pemerintah dan kilang di Asia untuk mengevaluasi cadangan minyak serta mencari rute dan pasokan alternatif.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik