Ditopang Transformasi, Analis Sebut Celah Saham TPIA yang Perlu Dimitigasi

Ditopang Transformasi, Analis Sebut Celah Saham TPIA yang Perlu Dimitigasi

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 25 Februari 2026 - 20:36
share

IDXChannel - Kalangan pelaku pasar dan analis saham mengapresiasi langkah transformasi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dari semula sebagai perusahaan chemical menjadi penyedia solusi energi, kimia dan infrastruktur terintegrasi.

Apresiasi diberikan karena langkah transformasi tersebut dinilai telah terbukti berimbas positif terhadap kinerja Perseroan secara keseluruhan.

Klaim ini didasarkan pada kemampuan TPIA mencatat rebound signifikan pada 2025, dengan laba bersih yang melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya yang masih mencatatkan kerugian.

Secara umum, financial snapshot terbaru menunjukkan bahwa TPIA memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp618,6 triliun, dengan rasio price earning (PER) di kisaran 28–29 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata industri.

"Selain itu, dengan transformasi juga, TPIA jadi semakin gencar melakukan akuisisi strategis, seperti Aster Chemicals and Energy Pte Ltd, lalu juga jaringan SPBU Esso milik ExxonMobil di Singapura, dan banyak lagi yang lain. Ini tentu sangat positif dari sudut pandang pelaku pasar," ujar Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta Utama, dalam diskusi bersama media, di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Namun demikian, Nafan juga mengingatkan bahwa di tengah keunggulan yang dimiliki, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dimitigasi oleh pihak manajemen Perseroan, antara lain margin keuntungan yang dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dan harga produk kimia global, serta kondisi oversupply industri petrokimia dari China yang berpotensi menekan harga jual produk.

"Satu lagi, saham TPIA seringkali diperdagangkan dengan rasio price earning (PER) dan PBV (price to book value) yang jauh di atas rata-rata industrinya, sehingga termasuk dalam kategori valuasi premium. Ini membuat harga saham jadi rentan terkoreksi, jika pertumbuhan yang diharapkan pasar rupanya tidak tercapai dengan tepat waktu," ujar Nafan.

(taufan sukma)

Topik Menarik