Saham Tambang Nikel hingga Tembaga Kompak Hijau, TINS-INCO Terdepan

Saham Tambang Nikel hingga Tembaga Kompak Hijau, TINS-INCO Terdepan

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 25 Februari 2026 - 10:20
share

IDXChannel – Saham-saham emiten nikel menguat pada perdagangan Rabu (25/2/2026) pagi, seiring membaiknya sentimen komoditas.

Berdasarkan persentase kenaikan, hingga pukul 09.46 WIB, penguatan terbesar dicatatkan oleh PT Timah Tbk (TINS) yang melonjak 6,51 persen ke Rp4.420 per unit.

Menyusul di bawahnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menguat 4,64 persen ke Rp7.325 per saham.

Selanjutnya, PT Harum Energy Tbk (HRUM) naik 3,33 persen ke Rp1.240 per unit. PT PAM Mineral Tbk (NICL) turut terapresiasi 3,12 persen ke Rp1.155 per unit, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 2,90 persen ke Rp3.900 per unit.

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga bergerak positif dengan kenaikan 2,61 persen ke Rp1.570 per saham. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) menyusul dengan penguatan 2,29 persen ke Rp895 per unit.

Lebih lanjut, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,83 persen ke Rp4.460 per unit.

Sementara itu, PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) menguat 1,08 persen ke Rp376 per saham dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik tipis 0,57 persen ke Rp885 per unit.

Pasar logam dasar tengah mengalami pergeseran signifikan setelah harga nikel melonjak 3,94 persen menjadi USD17.966,88 per ton pada Selasa (24/2/2026).

Melansir dari Mine Listings, kenaikan ini menjadi salah satu pergerakan paling menonjol di sektor komoditas pekan ini.

Lonjakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasokan dan ketatnya tingkat persediaan yang mendorong harga naik.

Mengutip Trading Economics, harga spot nikel sehari sebelumnya tercatat USD17.662 per ton, menunjukkan kenaikan yang cukup besar.

Kenaikan tajam harga nikel terjadi bersamaan dengan peningkatan tipis stok nikel di London Metal Exchange (LME).

Berdasarkan data Westmetall, persediaan naik 215 ton menjadi 17.570 ton per 23 Februari 2026.

Meski ada tambahan stok, kondisi pasar dinilai masih ketat sehingga tetap menopang kenaikan harga.

Penguatan juga terjadi pada logam dasar lainnya, dengan harga seng naik 1,65 persen dan aluminium menguat 0,46 persen.

Lonjakan harga nikel dipicu sejumlah faktor. Gangguan pasokan masih membayangi sejumlah wilayah produsen utama, diperparah oleh ketegangan geopolitik dan kendala logistik.

Di sisi lain, permintaan dari sektor baterai dan baja tahan karat, terutama dari China, terus meningkat.

Sejumlah laporan industri menyebutkan bahwa kebutuhan nikel untuk baterai kendaraan listrik menjadi salah satu motor pertumbuhan utama, yang memperketat pasokan dan mendorong harga lebih tinggi.

Pergerakan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang lebih luas. Pelemahan dolar AS turut menopang harga komoditas secara umum. Namun, pasar nikel secara khusus lebih sensitif terhadap persoalan pasokan jangka pendek.

Walaupun stok sedikit bertambah, level persediaan masih tergolong rendah secara historis, menjadi faktor penting di balik lonjakan harga.

Kembalinya pelaku pasar China setelah libur Tahun Baru Imlek juga menambah likuiditas dan permintaan di pasar.

Ke depan, pasar nikel diperkirakan tetap bergejolak. Jika hambatan pasokan berlanjut, harga diperkirakan bertahan di level tinggi atau bahkan meningkat.

Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik atau membaiknya distribusi logistik dapat mengurangi tekanan harga.

Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan sektor baterai serta rencana proyek tambang baru atau ekspansi operasi yang sudah ada.

Meski pasar menunjukkan penguatan, kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang.

Investor dan pelaku industri tetap perlu waspada dengan memantau indikator makroekonomi serta dinamika sektoral.

Logam dasar lainnya, seperti tembaga, menguat pada awal perdagangan Asia, Rabu (25/2), memimpin kenaikan di antara logam dasar seiring pasar China kembali beraktivitas pekan ini setelah libur panjang Tahun Baru Imlek.

Menurut analis ANZ Research dalam catatannya, dikutip Dow Jones Newswires, sentimen pasar terdorong oleh prospek penurunan tarif Amerika Serikat (AS) setelah Mahkamah Agung (MA) memutuskan sebagian kebijakan tersebut tidak sah.

“Pengenaan tarif yang tidak terlalu menghukum seharusnya menjadi katalis positif bagi ekspor China yang intensif menggunakan logam,” tulis mereka, meski bea masuk AS terhadap tembaga masih tetap berlaku.

Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat naik 0,7 persen ke level USD13.257,00 per ton. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik