Dibayangi Tekanan Fiskal, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.828 per USD

Dibayangi Tekanan Fiskal, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.828 per USD

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 12 Februari 2026 - 16:10
share

IDXChannel - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 42 poin atau 0,25 persen ke Rp16.828 per USD.

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti. 

"Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka ini melonjak Rp391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp3.451,4 triliun," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Belanja tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.149,7 triliun dan transfer ke daerah Rp693 triliun. 

Dari total belanja pemerintah pusat, porsi terbesar dialokasikan untuk pembayaran bunga utang yang mencapai sekitar 19 persen. Angka ini belum termasuk cicilan pokok utang pemerintah.

Selain utang, belanja besar juga dialokasikan untuk program makan bergizi gratis melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dengan porsi 8,51 persen. Selanjutnya, anggaran Kementerian Pertahanan dan TNI mencapai 5,94 persen, serta anggaran Polri sebesar 4,63 persen.

Di sisi lain, upaya mengejar penerimaan negara dinilai tidak mudah. Pemerintah mematok defisit anggaran sebesar Rp689,14 triliun atau setara 2,68 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Sorotan utama tertuju pada rasio pembayaran pokok dan bunga utang terhadap penerimaan negara atau debt service ratio (DSR). Rasio ini diperkirakan menembus 40 persen, jauh di atas ambang batas aman internasional sekitar 30 persen.

Dari eksternal, Presiden AS Donald Trump mengatakan setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu bahwa mereka tidak mencapai kesepakatan "pasti" tentang bagaimana melanjutkan negosiasi dengan Iran, tetapi dia menegaskan negosiasi dengan Teheran akan berlanjut.

Pada Selasa, Trump mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah jika kesepakatan tidak tercapai dengan Iran, bahkan ketika Washington dan Teheran bersiap untuk melanjutkan pembicaraan. 

Selain itu, Laporan Utama Ketenagakerjaan AS untuk Januari yang tertunda menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) naik 130 ribu, mengalahkan ekspektasi pasar sekitar 70 ribu dan berada di atas peningkatan revisi Desember sebesar 48 ribu. 

Sementara, Tingkat Pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3 persen dari 4,4 persen.

Dari sisi pendapatan, Pendapatan Per Jam Rata-Rata meningkat sebesar 0,4 persen MoM pada Januari, meningkat dari 0,1 persen pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3 persen, sementara laju tahunan tetap stabil di 3,7 persen YoY, juga melampaui ekspektasi sebesar 3,6 persen.

Laporan pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat ini mengurangi urgensi untuk pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat dan memberikan dukungan kepada Dolar AS dalam jangka pendek.


(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik