Pasar Panik Karena Moody’s, Menkeu Purbaya: Data Kita Lebih Kuat dari China!

Pasar Panik Karena Moody’s, Menkeu Purbaya: Data Kita Lebih Kuat dari China!

Terkini | idxchannel | Senin, 9 Februari 2026 - 15:34
share

IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi menyusul perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai reaksi pasar tersebut cenderung berlebihan dan belum sepenuhnya mencerminkan kinerja ekonomi terkini.

Menurut Purbaya, data makroekonomi terbaru justru menunjukkan perbaikan yang signifikan, terutama dari sisi pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini relatif solid dibandingkan dengan beberapa negara lain, termasuk China.

“Memang ada kekhawatiran di pasar setelah sinyal dari Moody’s. Namun, perlu dicatat bahwa penilaian tersebut dilakukan sebelum rilis data terbaru. Faktanya, pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal IV mencapai 5,39 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan pertumbuhan tahunan 5,11 persen—lebih tinggi dibandingkan China,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senin (9/2/2026).

Ia menilai volatilitas IHSG lebih merupakan reaksi jangka pendek terhadap sentimen eksternal ketimbang perubahan fundamental ekonomi domestik. Seiring berjalannya waktu dan masuknya data ekonomi yang lebih komprehensif, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali menguat.

“Kemungkinan ada perbedaan asumsi dalam perhitungan awal. Jika kinerja ekonomi terus terjaga, persepsi pasar berpotensi membaik dengan sendirinya. Karena itu, pelaku pasar tidak perlu terlalu cemas,” tambahnya.

Purbaya juga menyoroti keberhasilan pemerintah menjaga momentum pemulihan ekonomi pada kuartal keempat 2025. Menurutnya, kebijakan fiskal yang ditempuh telah membantu menahan perlambatan dan mendorong pertumbuhan kembali ke jalur positif.

“Stabilitas yang tercapai di akhir tahun lalu menunjukkan bahwa instrumen kebijakan yang kita miliki cukup efektif. Ini menjadi modal penting untuk terus mendorong pertumbuhan menuju target 6 persen,” katanya.

Meski mengakui adanya tantangan dari kondisi ekonomi global, Menkeu menilai risiko perlambatan tajam bagi Indonesia relatif terbatas. Pemerintah akan tetap berfokus pada penguatan daya beli masyarakat, peningkatan investasi, serta efektivitas transmisi kebijakan fiskal guna menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

(Shifa Nurhaliza Putri)

Topik Menarik