Tantangan Menanti di Juni Mendatang Usai Rebalancing MSCI untuk Saham RI Dibekukan
IDXChannel - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan tidak ada penambahan jumlah emiten di Indonesia yang masuk dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk periode Februari-Mei 2026.
Hal ini menyusul sorotan MSCI terhadap penilaian free float saham Indonesia.
"Jadi hasil daripada yang terjadi hari ini menurut saya ada panic selling karena dua hal. Pertama untuk di bulan Februari rebalancingnya di freeze. Jadi kalau terjemahkan, tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026).
Berdasarkan hasil rebalancing yang efektif per 25 November 2025, sebanyak 18 emiten saham Indonesia resmi masuk dalam MSCI Global Standard Index. Dua pendatang baru pada periode ini adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang menggantikan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).
"Mulai Februari sampai dengan Mei, tidak ada pergerakan yang artinya jumlah emiten kita akan tetap. Market share kita yang saat ini 1,5 persen di MSCI, akan stay di sana. itu yang kami baca," kata dia.
Iman menyebut, Juni mendatang akan menjadi tantangan ketika data yang diminta oleh lembaga indeks global itu tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Hal ini berpotensi terjadinya pengurangan jumlah emiten saham yang masuk dalam indeks MSCI.
"Memang challange kita di bulan Juni apabila keterbukaan atau transparansi data yang dibutuhkan MSCI itu tidak sesuai dengan keinginan seperti yang disampaikan," kata Iman.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, pihaknya akan memperbaharui aturan terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Hal ini menyusul permintaan data yang mendetail dari indeks global MSCI.
Dia memastikan data yang disampaikan emiten telah melalui validasi ketat karena terdapat sanksi tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila ditemukan ketidaksesuaian di Kemudian hari.
Selain itu, saat ini Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BEI menyajikan 9 jenis data investor dari kepemilikan individu, reksa dana, korporasi dan lainnya. Selanjutnya dari kepemilikan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu asing dan domestik, serta pengelompokan pemilik di bawah 5 persen dan di atas 5 persen.
"Ini teman-temen KSEI sedang merumuskan, nanti akan kita tambah lagi beberapa jenis investor di bawahnya. Tapi 9 itu tetap fix, tapi akan ada tambahan. Terutama untuk institutional client, ini kan macam-macam, ada asset management, ada private equity, venture capital SWF, itu yang nanti akan kita detailkan," kata dia.
Dia menargetkan, penyesuaian klasifikasi jenis investor ini dapat rampung sebelum Mei mendatang. Sehingga pada Juni tidak ada sentimen pasar yang berpengaruh dalam terhadap pergerakan indeks pasca rilis MSCI.
"Jadi poin yang paling penting adalah, data yang disajikan oleh kita di Indonesia, baik dari perusahaan tercatat maupun KSEI, Insyaallah data yang benar dan akurat. Cuma sekarang mungkin karena kebutuhan data (MSCI) ini belum match (sesuai keinginan)," kata dia.
(NIA DEVIYANA)








