IHSG Turun Tajam Akibat Isu MSCI, Analis Soroti WIIM hingga ERAA
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 6,53 persen ke level 8.393 pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026).
Tekanan jual meluas sejak awal sesi, menyeret seluruh sektor ke zona merah. Sejumlah saham konglomerasi terpantau ramai-ramai menyentuh auto reject bawah (ARB), mencerminkan tingginya tekanan jual di pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menjelaskan, pelemahan IHSG dipicu oleh keputusan MSCI yang membekukan sementara penilaian (review) terhadap saham-saham Indonesia.
Kebijakan tersebut berkaitan dengan isu free float serta transparansi kepemilikan saham di pasar domestik. Menurut David, sentimen ini memicu aksi jual berskala besar, terutama pada saham-saham konglomerasi dan blue chip yang selama ini menjadi komponen utama indeks.
Meski demikian, da menegaskan bahwa koreksi tajam IHSG tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia.
“Penurunan ini bukan berasal dari fundamental Indonesia, melainkan faktor eksternal. Ini bisa menjadi peluang, namun investor tetap perlu waspada dan menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing,” ujar David pada Rabu (28/1/2026)
Di tengah tekanan pasar, David menilai masih terdapat sejumlah saham yang berpotensi menguat secara teknikal.
Dia merekomendasikan saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) dengan strategi buy on breakout di level 1.870, target harga 2.100, serta stop loss di 1.765, seiring tren pergerakan yang masih berada dalam fase uptrend.
Selain itu, saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga masuk dalam rekomendasi dengan entry di level 428, target harga 450, serta stop loss di 416. Saham ini dinilai menunjukkan sinyal bullish divergence yang mengindikasikan potensi pembalikan arah.
Sementara itu, saham PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) direkomendasikan buy di level 460 dengan target harga 540 dan stop loss di 428. Secara teknikal, pergerakan SOFA masih cenderung uptrend dengan peluang reversal, di mana harga tetap bertahan di atas indikator MA50.
(DESI ANGRIANI)










