Di WEF 2026 Davos, RI Tekankan AI sebagai Peluang Inovasi Hadapi 2030
IDXChannel - Pemerintah berupaya mempercepat transformasi digital global dan disrupsi pasar tenaga kerja yang berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemajuan teknologi tidak dianggap sebagai krisis, melainkan hal strategis.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menekankan Indonesia memilih pendekatan optimistis dan adaptif dalam perubahan dunia kerja. Mengacu pada proyeksi World Economic Forum (WEF), meskipun jutaan pekerjaan berpotensi tergantikan, peluang penciptaan lapangan kerja baru justru terbuka lebih besar.
"Indonesia memandang ini bukan sebagai krisis pekerjaan, tetapi sebagai peluang pekerjaan. Peluang untuk memanfaatkan individu dengan keterampilan, kemampuan beradaptasi, inovasi dan kontribusi dalam dunia yang terus berubah," ujarnya dalam panel diskusi bertajuk 'Crisis or Opportunity? Skills for a 2030 Workforce', yang digelar di WEF Davos, Swiss, dikutip Kamis (22/1/2026).
Polisi Gelar Rekonstruksi Penembakan Hansip di Cakung Jaktim, Tersangka Peragakan 32 Adegan
Optimisme tersebut didukung oleh agenda penguatan talenta digital nasional, Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital dalam lima belas tahun ke depan.
Pemerintah telah menjalankan beberapa program berskala nasional, mulai dari kartu prakerja hingga transformasi pendidikan vokasi sebagai bagian dari upaya sistematis menyiapkan sumber daya yang selaras dengan kebutuhan industri masa depan.
Pemanfaatan AI di sektor riil juga tak luput disorot, khususnya di bidang kesehatan dan layanan publik. President of the Center Global Health and Development serta Co-Chair Women's Health and Economic Empowerment Network Joanne Manrique menegaskan AI seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung tugas-tugas operasional sehingga manusia dapat berfokus pada peran strategis dan empatik.
"Kita menggunakan AI untuk tugas-tugas yang rutin namun ketika menyangkut perancangan model kesehatan finansial dan diplomasi pembiayaan, peran manusia tetap tidak tergantikan," kata Joanne.
Dari perspektif pendidikan dan literasi digital, Founder dan Chief Executive Officer AI Academy Asia Bolor-Erdene Battsengel menekankan pentingnya pemahaman dasar tentang AI sejak dini. "Literasi algoritma diperlukan agar generasi muda memahami bahwa AI merupakan alat pendukung, bukan pembuat keputusan hidup," ujarnya.
Peran kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor turut disoroti. Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rudy Salahuddin menegaskan pentingnya kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta dalam membangun ekosistem talenta nasional.
"Di Indonesia kami bekerja sama dengan sektor swasta tidak hanya dalam penyediaan pelatihan dan pendidikan, tetapi juga dalam penyesuaian kurikulum dan standar industri agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja," kata Rudy.
Dia menambahkan, pemerintah juga menyiapkan insentif untuk mendorong keterlibatan dunia usaha dalam menyiapkan sumber daya manusia. "Kami memberikan fasilitas pengurangan pajak hingga 200 persen bagi sektor swasta yang berinvestasi di bidang pelatihan dan pendidikan tenaga kerja," katanya.
Secara konklusi, forum menegaskan kesiapan tenaga kerja menuju 2030 tidak hanya ditentukan adopsi teknologi, tetapi juga kualitas kebijakan, kolaborasi lintas serta komitmen untuk memastikan transformasi digital berjalan inklusif dan berkelanjutan. Pendekatan ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam memperkuat sumber daya bersaing global.
(Dhera Arizona)










