Kapal Tanker Minyak Raksasa Terkena Ranjau di Selat Hormuz dan Terbakar

Kapal Tanker Minyak Raksasa Terkena Ranjau di Selat Hormuz dan Terbakar

Global | sindonews | Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:48
share

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan satu kapal tanker raksasa yang mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah telah menabrak ranjau laut saat mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute yang “tidak sah”.

“Tabrakan tersebut memicu ledakan besar dan kebakaran hebat di atas kapal,” ungkap IRGC dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim.

Pihak IRGC menduga kapal tanker tersebut telah mematikan seluruh sistem pelacakan dan radar, serta berupaya melewati selat itu dengan cara menipu dan dengan dukungan militer AS.

“Selat Hormuz ditutup,” tegas Angkatan Laut IRGC, seraya menambahkan kapal-kapal yang melanggar peraturan Iran akan menghadapi konsekuensi berat karena mengandalkan dukungan AS.Lembaga penyiaran pemerintah Iran, Press TV, telah membagikan rekaman yang diklaim berasal dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang memperlihatkan satu kapal tanker raksasa meledak setelah menabrak ranjau laut di Selat Hormuz.

Menurut laporan sebelumnya dari media pemerintah Iran, IRGC menyatakan kapal tanker minyak raksasa tersebut terbakar saat mencoba melintasi selat melalui rute yang “tidak sah”. IRGC menduga kapal tersebut telah mematikan sistem pelacakannya.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan adanya 12 serangan dalam periode mingguan terakhir: 10 serangan di Selat Hormuz, satu di Teluk, dan satu di Teluk Oman.

Dari kapal-kapal yang terlibat, enam di antaranya melanjutkan perjalanan atau tiba di pelabuhan, satu kapal hilang, dan dua kapal mengalami kerusakan hingga tidak dapat beroperasi atau tidak dapat dikendalikan.

Berdasarkan tinjauan yang diterbitkan pada 16 Oktober, kerusakan atau dampak pada tiga kasus lainnya belum dapat dikonfirmasi.UKMTO menyatakan kesulitan untuk memastikan jumlah serangan yang sebenarnya karena sebagian besar kapal yang diserang menolak melaporkan insiden tersebut kepada badan tersebut. Laporan yang diterima melalui sumber lain pun tidak selalu dapat diverifikasi.

Total lalu lintas kapal yang masuk maupun keluar melalui Selat Hormuz masih berada sekitar 70 persen di bawah tingkat sebelum perang. Pihak UKMTO juga memperingatkan bahwa data mengenai lalu lintas kapal yang diklaim difasilitasi oleh AS tidak dapat diverifikasi secara independen.

Baca juga: Arab Saudi Senang Dewan Keamanan PBB Kecam Serangan Houthi

Topik Menarik