Jet Tempur Pakistan Dilaporkan Bombardir Houthi, Islamabad Langsung Menyangkal
Jet-jet tempur Pakistan dilaporkan telah membombardir posisi kelompok Houthi Yaman untuk membantu mitra Aliansi Makkah-nya, Arab Saudi. Namun, Islamabad langsung menyangkal laporan tersebut.
Laporan itu berasal dari The New York Times (NYT), yang mengutip seorang pejabat senior militer Pakistan. Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu mengatakan bahwa jet tempur Angkatan Udara Pakistan digunakan dalam serangan terhadap kelompok pemberontak Yaman tersebut.
Baca Juga: Dihantam Rudal Houthi, Pesawat Penumpang Arab Saudi Hancur di Bandara Riyadh
Pejabat Pakistan lainnya mengatakan bahwa peran Islamabad bertujuan melemahkan ancaman drone dan rudal Houthi melalui dukungan udara, bukan melancarkan serangan darat di Yaman.
Tak lama setelah laporan itu muncul, Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyampaikan bantahan. Menurut kementerian tersebut, laporan itu “palsu dan direkayasa”.“Klaim dalam laporan NYT yang disebutkan di atas bahwa pesawat Angkatan Udara Pakistan digunakan untuk menyerang Houthi adalah palsu dan direkayasa,” kata kementerian tersebut, seperti dikutip dari unggahan di akun X-nya, Jumat (9/10/2026).Dalam unggahannya, kementerian itu menyampaikan pernyataan pemeriksaan fakta yang menegaskan bahwa pemberitaan tersebut tidak benar.
Lebih lanjut, kementerian itu meminta media internasional menghindari pemberitaan spekulatif mengenai pengerahan militer Pakistan berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah.
“Rincian mengenai pengerahan apa pun, jika diperlukan, akan disampaikan oleh otoritas terkait. Kebenaran akan menang atas kebohongan,” imbuh Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan.
Laporan The New York Times muncul beberapa hari setelah Pakistan dan Turki sepakat mengerahkan pasukan ke Arab Saudi berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah.
Kolonel David O. Smith, mantan atase Angkatan Darat AS di Pakistan sekaligus mantan analis Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), mengatakan dirinya tidak memiliki angka rahasia mengenai pengerahan tersebut. Namun, menurutnya, perkiraan yang disepakati para analis menyebut sekitar 8.000 personel Pakistan telah ditempatkan di Arab Saudi.Smith mengatakan pasukan tersebut mencakup kontingen Angkatan Udara Pakistan dan unit pertahanan udara Angkatan Darat. Mereka kemungkinan membantu mengamankan infrastruktur minyak, sementara tentara Pakistan diperkirakan tidak akan bertempur langsung melawan Houthi karena Islamabad berupaya mempertahankan hubungannya dengan Iran.
Juru bicara militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, mengonfirmasi kepada CNN bahwa pasukan Pakistan sudah berada di Arab Saudi. Dia menggambarkan kemungkinan peran mereka sebagai upaya pertahanan, tanpa menjelaskan apakah pasukan tersebut akan beroperasi melintasi perbatasan hingga ke wilayah Yaman.
Di sisi lain, militer Pakistan membantah keras klaim yang beredar di media sosial bahwa Islamabad kehilangan tiga jet tempur JF-17 akibat serangan rudal Houthi yang menargetkan Pangkalan Udara Raja Abdulaziz di Arab Saudi.
“Ini sepenuhnya palsu. Tidak ada sumber resmi atau kredibel yang melaporkan kerusakan apa pun terhadap JF-17 milik Angkatan Udara Pakistan,” imuh pernyataan Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan.
Kementerian tersebut menyebut klaim mengenai kerusakan pesawat dan dugaan evakuasinya sebagai “propaganda India yang terang-terangan”, yang menurut Islamabad merupakan bagian dari upaya penyesatan yang bermotif ideologis.Jet tempur dan pesawat pendukung Angkatan Udara Pakistan, termasuk JF-17, tiba di Arab Saudi pada April 2026. Pengerahan itu dilakukan berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis yang ditandatangani Pakistan dan Arab Saudi pada September 2025.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menolak kemungkinan pengerahan pasukan negaranya ke Yaman untuk melancarkan serangan terhadap Houthi, meskipun Ankara telah menjalin kesepakatan pertahanan dengan Arab Saudi.
“Ini adalah perjanjian pertahanan,” kata Fidan. “Jika salah satu negara diserang, Anda mendukung pertahanannya. Ini bukan perjanjian ofensif,” ujarnya.
Fidan menegaskan bahwa Turki tidak akan mengirim pasukannya ke wilayah negara lain untuk melancarkan serangan.
Dia mengatakan delegasi militer Turki dan Arab Saudi akan bekerja sama untuk menilai langkah-langkah pertahanan yang mungkin diperlukan, tetapi tidak memberikan perincian lebih lanjut.
Dengan demikian, Pakistan dan Turki sama-sama menekankan bahwa kerja sama pertahanan mereka dengan Arab Saudi tidak serta-merta berarti keterlibatan dalam operasi ofensif terhadap Houthi di Yaman.









