Imbas Perang, Arab Saudi Batalkan Pengiriman Minyak ke Kilang-kilang Eropa

Imbas Perang, Arab Saudi Batalkan Pengiriman Minyak ke Kilang-kilang Eropa

Global | sindonews | Sabtu, 19 September 2026 - 10:41
share

Arab Saudi telah memberi tahu setidaknya dua pelanggan kilang minyak di Eropa bahwa mereka tidak akan menerima alokasi minyak mentah pada bulan Oktober. Pembatalan itu seiring dampak perang di Timur Tengah terhadap pasar energi global.

Kilang-kilang Eropa membeli minyak mentah Arab Saudi berdasarkan kontrak jangka panjang yang menjamin pasokan bulanan tetap, namun perusahaan energi dapat membatalkan pengiriman tersebut dalam keadaan luar biasa, yang dikenal sebagai force majeure.

Awal bulan ini, Qatar memperpanjang status force majeure untuk pengiriman gas alam cair hingga awal November akibat blokade maritim di Selat Hormuz.

Arab Saudi tampak lebih terlindungi dari konflik tersebut berkat Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) yang membentang dari Teluk hingga pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang memungkinkan kerajaan tersebut menghindari persaingan antara Iran dan AS dalam memperebutkan kendali atas Selat Hormuz.

Pipa ini memungkinkan Arab Saudi mengekspor sekitar dua pertiga dari volume minyaknya sebelum perang, atau sekitar empat juta barel per hari (bpd).Pekan lalu, satu serangan pesawat nirawak (drone) melumpuhkan pipa tersebut. Arab Saudi menyatakan serangan itu berasal dari Irak, tempat bercokolnya milisi yang bersekutu dengan Iran.

Kelompok Houthi juga mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap pelabuhan Yanbu dan fasilitas minyak Aramco lainnya.

Harga minyak Brent, sebagai acuan internasional, telah meningkat sejak Houthi melancarkan serangan di Yaman yang membuat mereka menguasai garis pantai Laut Merah negara tersebut.

Pada saat yang sama, mereka menargetkan Arab Saudi dengan pesawat nirawak dan rudal, sementara kerajaan itu melancarkan serangan ke wilayah mereka.

Harga Brent diperdagangkan pada level USD103 per barel pada hari Jumat, namun para analis energi menyatakan harga tersebut tidak mencerminkan biaya fisik pembelian minyak mentah, dan harga produk olahan—seperti solar dan bahan bakar jet—bahkan lebih tinggi.Di AS, yang lebih terlindungi dari dampak perang berkat industri energi domestiknya, harga solar naik 7,7 persen dalam sepekan terakhir.

Arab Saudi mulai mengalihkan rute pengiriman minyaknya melalui Pipa Suez-Mediterania setelah Houthi menyatakan embargo terhadap pelayaran kerajaan tersebut.

Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Arab yang berupaya menggulingkan Houthi dari kekuasaan setelah kelompok itu merebut wilayah luas di Yaman barat laut satu dekade lalu.

Pada tahun 2022, sekutu Yaman bagi kerajaan tersebut—yakni pemerintah yang diakui secara internasional—menandatangani kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Houthi, sementara Arab Saudi berupaya melepaskan diri dari konflik tersebut.

Namun, kerajaan itu tetap mempertahankan blokade udara dan laut terhadap pelabuhan serta bandara yang dikuasai Houthi. Kelompok tersebut menyatakan menginginkan pencabutan blokade itu agar mereka dapat mengakhiri embargo yang mereka terapkan terhadap Arab Saudi.

Baca juga: 2 Miliar Warga Asia Selatan Terdampak Perang di Timur Tengah

Topik Menarik