2 Miliar Warga Asia Selatan Terdampak Perang di Timur Tengah

2 Miliar Warga Asia Selatan Terdampak Perang di Timur Tengah

Global | sindonews | Sabtu, 19 September 2026 - 03:33
share

India, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal secara keseluruhan merupakan rumah bagi hampir dua miliar penduduk, atau sekitar 23 persen dari populasi dunia. Bahkan sebelum perang yang melibatkan Iran terjadi, kawasan ini sangat bergantung pada impor energi, yang sebagian besar berasal dari negara-negara Teluk.

Namun, tingkat dan sifat ketergantungan masing-masing negara Asia Selatan terhadap pasokan dari Teluk dan Selat Hormuz sangatlah beragam.

Kini, mereka semua merasakan dampak dari perang yang berkepanjangan dan meluas ini, seiring dengan semakin terhambatnya berbagai jalur pasokan.

Ketergantungan Asia Selatan pada Energi dari Teluk

India mengimpor sekitar 85 persen minyak mentah yang dikonsumsinya—menjadikannya importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia.Sebelum perang, negara-negara produsen di Teluk—termasuk Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait—merupakan pemasok utama bagi India, sementara Qatar menjadi sumber utama gas alam cair (LNG).

India memiliki jaringan pasokan yang lebih beragam dibandingkan negara-negara tetangganya di Asia Selatan, dengan pasokan minyak mentah yang juga datang dari Rusia, Afrika, dan benua Amerika.

Pakistan juga sangat bergantung pada impor energi, khususnya minyak mentah, produk olahan minyak bumi, dan LNG. Arab Saudi, UEA, dan Kuwait selama ini menjadi pemasok minyak penting, sementara Qatar merupakan penyedia utama LNG untuk jangka panjang.

Bangladesh memproduksi gas alam di dalam negeri, namun semakin bergantung pada impor LNG karena produksi lokal kesulitan memenuhi permintaan.

Qatar adalah salah satu pemasok utama LNG bagi negara ini, yang juga mengimpor produk olahan minyak bumi.Nepal tidak melakukan impor minyak mentah atau LNG secara langsung dari Teluk. Sebaliknya, negara yang tidak memiliki akses laut (landlocked) ini bergantung pada India untuk hampir seluruh kebutuhan produk minyak buminya, termasuk bensin, solar, minyak tanah, dan LPG.

Dampak gangguan pasokan dari Teluk dirasakan Nepal secara tidak langsung: kenaikan biaya atau kelangkaan pasokan di India dapat berdampak pada ketersediaan dan harga bahan bakar di Nepal.

India menghadapi risiko dampak terbesar dalam hal volume absolut, sementara Pakistan dan Bangladesh memiliki lebih sedikit alternatif untuk beberapa pasokan energi vital.

Ketergantungan Nepal bersifat tidak langsung, namun gangguan pada rantai pasokan energi India dapat dengan cepat berdampak pada pasar Nepal.

Seperti yang sering terjadi, kelompok masyarakat miskin dan rentan secara ekonomi-lah yang paling merasakan beban berat akibat krisis ini.

"Secara Finansial, Saya Merasa Benar-benar Tak Berdaya"

Sajida Jibran adalah seorang pekerja rumah tangga berusia 45 tahun di Karachi, kota pesisir di wilayah selatan Pakistan.

Ia bekerja berjam-jam di kawasan permukiman kelas atas, memiliki suami yang tidak bisa lagi bekerja karena masalah kesehatan, serta tiga anak yang duduk di bangku SMP dan SMA.

Jibran mengatakan biaya sewa tempat tinggalnya telah naik dari 15.000 rupee Pakistan (USD54) pada akhir tahun lalu menjadi 25.000 rupee (USD90) pada bulan lalu.

"Sebelum perang, semua orang bisa makan dan minum dengan layak. Saya bisa membeli daging dan ayam, tetapi sejak perang dimulai, harga sayuran pun menjadi sangat mahal sehingga sulit untuk membelinya," ujarnya.

"Harga listrik melonjak tajam; tagihan kami dulu berkisar di angka 1.500 rupee (USD5,4), namun sekarang mulai dari 5.000 rupee (USD18). Tagihan gas juga sangat tinggi, mencapai angka minimum 2.000 rupee (USD7)," kata Jibran. Tagihan gas alam di Pakistan sebelumnya tergolong rendah karena diproduksi secara lokal, namun kini, setelah cadangannya menipis, Pakistan sebagian besar mengimpor gas alam.

Keputusan tersulit yang harus diambil Jibran adalah berhenti membayar biaya sekolah anak-anaknya. Ia harus memilih antara membiayai pendidikan mereka atau memberi mereka makan.

"Saya selalu berharap anak-anak saya bisa belajar, mendapatkan pendidikan yang layak, dan berkesempatan bersekolah di tempat yang bagus. Saat ini, saya bahkan kesulitan sekadar untuk menyediakan makanan di meja makan. Di luar itu, tak banyak yang bisa saya lakukan untuk mereka," ujarnya.

Dia menjelaskan, "Saat melihat anak-anak saya hanya duduk di rumah tanpa bisa melanjutkan sekolah, saya tidak bisa tidur, baik siang maupun malam. Secara finansial, saya merasa benar-benar tak berdaya."

Baca juga: Arab Saudi Mungkin Harus Menelan Pil Pahit dan Berunding dengan Iran

Topik Menarik