Saudi Mulai Kekurangan Rudal untuk Melawan Houthi: Minta Bantuan Prancis, Inggris, hingga Mesir

Saudi Mulai Kekurangan Rudal untuk Melawan Houthi: Minta Bantuan Prancis, Inggris, hingga Mesir

Global | sindonews | Kamis, 17 September 2026 - 09:37
share

Arab Saudi mulai kekurangan rudal pencegat pencegat untuk menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman. Riyadh pun meminta bantuan sejumlah sekutu regional dan negara Barat ketika ketegangan dengan kelompok tersebut berlarut-larut.

Mengutip laporan AP, Kamis (17/9/2026), dua pejabat regional mengatakan pada Rabu bahwa Arab Saudi telah meminta bantuan Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir mengerahkan dukungan pertahanan udara ke kawasan. Bantuan tersebut dibutuhkan untuk menghadapi ancaman rudal dan drone yang diluncurkan Houthi maupun kelompok milisi lain yang didukung Iran.

Baca Juga: Heboh Makkah Diserang: Arab Saudi Menuduh tapi Houthi Menyangkal, Siapa yang Benar?

Salah satu pejabat mengatakan langkah itu diambil karena Amerika Serikat (AS), sekutu utama sekaligus pemasok senjata terbesar Arab Saudi, juga mulai menghadapi penurunan stok rudal pencegat setelah enam bulan berperang melawan Iran.

Kedua pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media. Pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Arab Saudi Terdesak di Tengah Perang Iran

Konfrontasi antara Arab Saudi dan Houthi menjadi salah satu front baru yang muncul di tengah perang Iran melawan AS dan Israel.

Pada Rabu, Riyadh menuduh Houthi berupaya menyerang kota suci Makkah menggunakan drone. Tuduhan tersebut memicu kecaman dari berbagai negara di kawasan, meski sejauh ini belum ada indikasi pengerahan dukungan militer langsung untuk Arab Saudi.

Riyadh menyatakan Makkah, kota kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan "garis merah". Arab Saudi mengatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat drone tersebut sebelum mencapai kota suci.

Houthi membantah telah menargetkan MAkkah. Kota tersebut berjarak sekitar 1.100 kilometer dari perbatasan Arab Saudi-Yaman.

Di tengah meningkatnya serangan, Arab Saudi menghadapi persoalan ganda. Sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, kerajaan itu membutuhkan perlindungan terhadap fasilitas energinya sekaligus jalur yang aman untuk menyalurkan minyak mentah ke pasar internasional. Namun, kedua kebutuhan tersebut kini menghadapi tekanan.

Salah satu jaringan pipa minyak penting Arab Saudi dilaporkan ditutup selama beberapa pekan setelah diserang milisi yang didukung Iran di Irak.Houthi juga terus menargetkan infrastruktur Arab Saudi serta kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Kelompok tersebut bahkan dilaporkan telah menguasai sejumlah pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Di sisi lain, Iran masih menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat jalur ekspor energi utama dunia semakin tidak menentu dan mendorong harga minyak tetap berada di atas USD100 per barel.

Salah satu pejabat regional menggambarkan posisi Arab Saudi saat ini sebagai "sangat sulit".

Menurutnya, Riyadh tidak hanya harus melindungi pangkalan militer dan fasilitas vital pemerintah, tetapi juga menjaga fasilitas minyak yang tersebar di berbagai wilayah kerajaan.

Arab Saudi Terus Galang Dukungan Internasional

Pejabat kedua mengatakan Arab Saudi juga berupaya menggalang dukungan dari sekutu internasional untuk menghadapi Houthi secara bersama-sama.

"Namun, keputusan saat ini adalah memberikan kesempatan kepada diplomasi," kata pejabat tersebut.

Dia menambahkan bahwa Oman dan Mesir saat ini memimpin upaya untuk meredakan ketegangan di Yaman.

Dua orang yang mengetahui persoalan tersebut, termasuk seorang pejabat Houthi, mengatakan Oman menjadi tuan rumah pertemuan antara perwakilan Amerika Serikat dan Houthi pada akhir pekan lalu.

Pertemuan itu membahas meningkatnya ketegangan di kawasan. Mereka tidak memberikan perincian lebih lanjut dan berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media.

Sementara itu, juru bicara Perdana Menteri Inggris Tom Wells mengonfirmasi bahwa London memiliki "kemitraan pertahanan yang erat" dengan Arab Saudi.Namun, dia tidak bersedia mengungkap apakah Riyadh telah meminta bantuan militer kepada Inggris maupun apakah pasukan Inggris saat ini berada di Arab Saudi.

Kemampuan negara-negara Eropa untuk memberikan bantuan juga menghadapi kendala. Pejabat Amerika Serikat dan NATO sebelumnya mengakui adanya kekurangan kritis rudal pencegat di Eropa.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana negara-negara Eropa mampu membantu Arab Saudi jika serangan rudal dan drone terus meningkat.

Turki dan Pakistan Belum Terima Permintaan Bantuan dari Saudi

Seorang pejabat pemerintah Turki mengatakan Ankara tengah melakukan pembicaraan dengan Iran dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk meredakan ketegangan. Namun, pejabat tersebut tidak memberikan perincian lebih lanjut.

Eskalasi terbaru juga menjadi ujian bagi pakta pertahanan baru yang melibatkan Arab Saudi, Turki sebagai anggota NATO, dan Pakistan yang memiliki senjata nuklir.

Meski demikian, pejabat Turki dan Pakistan mengatakan kepada AP bahwa hingga kini mereka belum menerima permintaan bantuan dari Riyadh untuk menghadapi eskalasi Houthi.

Kedua pejabat tersebut berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada publik.

Di tengah kecaman terhadap upaya serangan ke Mekkah, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan Pakistan dan Arab Saudi berdiri "tanpa goyah, bahu-membahu".

Menteri Luar Negeri Turki juga menyatakan solidaritas kepada Arab Saudi. Menurut laporan Anadolu Agency, dia mengatakan tidak ada negara yang dapat "tetap bersikap acuh tak acuh" terhadap situasi tersebut.

AS Enggan Ribut dengan Houthi

Amerika Serikat telah menjual senjata senilai miliaran dolar kepada Arab Saudi dan memiliki berbagai komitmen dukungan pertahanan kepada kerajaan tersebut.Namun, sejumlah pejabat tinggi AS mengisyaratkan bahwa Washington tidak ingin terlibat langsung dalam konflik.

Wakil Presiden AS JD Vance pada hari Senin mengatakan Washington terus melakukan "kontak" dengan Arab Saudi dan telah "terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Houthi".

Ketika ditanya apakah Riyadh meminta intervensi militer, seorang pejabat AS mengatakan Komando Pusat AS (CENTCOM) telah membentuk satuan tugas untuk "meningkatkan pertukaran intelijen dan dukungan perencanaan dengan pasukan Saudi".

Militer AS juga menjadi tuan rumah bagi pejabat senior militer dari delapan negara dalam sebuah konferensi di Jerman pekan lalu. Pertemuan tersebut membahas peluang meningkatkan kerja sama keamanan di Timur Tengah.

Pejabat AS itu tidak mengungkap negara mana saja yang menghadiri konferensi. Dia berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan komentar secara terbuka.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Houthi juga mengklaim telah menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 yang dioperasikan koalisi pimpinan Arab Saudi di atas Provinsi Marib, Yaman tengah.

Juru bicara militer Houthi Brigadir Jenderal Yahya Saree menyampaikan klaim tersebut pada Rabu, tetapi tidak menjelaskan kapan insiden itu terjadi.

Houthi diketahui terkadang baru mengumumkan klaim serangan beberapa hari setelah insiden berlangsung.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi maupun pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas klaim Houthi tersebut.Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di China, negara yang menjadi pembeli terbesar minyak Iran.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan Amerika Serikat dan Iran menahan diri serta segera membuka kembali Selat Hormuz.

Menurut Kementerian Luar Negeri China, Wang juga menyampaikan kekhawatiran Beijing terhadap meluasnya konflik ke Yaman dan Laut Merah.

Araghchi mengatakan Teheran menginginkan "pemulihan ketenangan di kawasan serta hubungan yang bersahabat dan damai dengan negara-negara tetangga".

China sejauh ini menghindari keterlibatan langsung dalam perang. Namun, Presiden Xi Jinping kembali menawarkan bantuan Beijing untuk mengakhiri konflik tersebut saat menghadiri KTT BRICS di New Delhi pada akhir pekan lalu.

Sementara itu, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan sedikit pemulihan.

Sejumlah kapal tanker mulai menggunakan rute di dekat Oman, di sisi lain jalur pelayaran tersebut, dengan panduan dari pasukan Amerika Serikat.

Sulit memastikan volume sebenarnya karena kapal dapat mematikan sistem pelacakan lokasinya. Namun, sejumlah perkiraan menyebutkan sekitar 5 juta hingga 7 juta barel minyak per hari masih mengalir melalui selat tersebut.

Volume itu kurang dari separuh tingkat sebelum perang dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Topik Menarik