Rusia: Uni Eropa Lakukan Harakiri dan Bangga Nyatakan Rakyatnya Harus Menderita

Rusia: Uni Eropa Lakukan Harakiri dan Bangga Nyatakan Rakyatnya Harus Menderita

Global | sindonews | Selasa, 8 September 2026 - 12:28
share

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Uni Eropa (UE) pada dasarnya melakukan "harakiri" dengan meninggalkan energi Rusia dalam upaya untuk merugikan Moskow.

Berbicara pada hari Senin di hadapan para mahasiswa di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO)—perguruan tinggi utama Rusia bagi para diplomat—Lavrov berpendapat bahwa para pemimpin Eropa membebankan biaya kebijakan mereka terhadap Rusia kepada para pemilih mereka sendiri.

Baca Juga: Balas Dendam, Rusia Tutup Konsulat Jerman di St Petersburg dan Usir Para Diplomatnya

UE telah berkomitmen untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil Rusia secara bertahap hingga tuntas pada tahun 2027, setelah secara drastis mengurangi impor minyak dan gas Rusia sejak eskalasi konflik Ukraina pada Februari 2022.

Biaya energi telah melonjak di sebagian besar wilayah blok Eropa tersebut, dengan perang AS-Israel melawan Iran menambah tekanan lebih lanjut.

Jerman, yang pernah dianggap sebagai pusat kekuatan industri UE, sangat terdampak. Ekonominya mengalami kontraksi pada tahun 2023 dan 2024—penurunan tahunan berturut-turut yang pertama dalam lebih dari dua dekade—dan diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 0,5 tahun ini."Eropa benar-benar melakukan harakiri dan dengan bangga menyatakan bahwa rakyatnya harus menderita... demi nilai-nilai Eropa," kata Lavrov, merujuk pada ritual bunuh diri Jepang yang juga dikenal sebagai seppuku.

"Rupanya, yang mereka maksud dengan 'nilai-nilai Eropa' adalah Nazisme, memakamkan penjahat Nazi dengan penghormatan, serta melarang bahasa Rusia, pendidikan berbahasa Rusia, budaya dan media Rusia, dan juga Gereja Ortodoks Ukraina yang kanonis," imbuh dia.

Lavrov berpendapat bahwa upaya Uni Eropa untuk menekan Moskow gagal membuat Rusia kehilangan pelanggan.

"Sama sekali tidak ada kepanikan di sini. Kami selalu memiliki banyak pembeli," ujarnya, seraya menambahkan bahwa para eksportir Rusia telah beralih ke pihak-pihak yang lebih dapat diandalkan.

"Jika Eropa ingin membayar 800-900 dolar AS per 1.000 meter kubik untuk gas alam cair Amerika, apa yang bisa kami lakukan?" tanyanya.Rusia semakin mengalihkan ekspor energinya ke Asia di tengah sanksi Barat. Pengiriman minyak mentah melalui jalur laut ke China mencapai rekor 1,86 juta barel per hari pada bulan Januari, naik 46 secara tahunan. Rusia juga tetap menjadi pemasok minyak terbesar bagi India, dengan penjualan sekitar 2,1 juta barel per hari pada bulan Agustus—atau 45 dari total impor negara tersebut—menurut perusahaan intelijen maritim Kpler.

Lavrov, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (8/9/2026), mengatakan bahwa pergeseran ini tidak boleh dipandang sebagai "poros ke Timur" yang tiba-tiba, karena menurutnya Rusia telah lama membina hubungan ekonomi ke kedua arah tersebut.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico, yang selamat dari upaya pembunuhan oleh seorang aktivis pro-Ukraina, sebelumnya juga menggambarkan Uni Eropa sebagai "kapal yang sedang menuju bunuh diri" pada bulan April, serta menuduh Brussels mengalami "kebutaan ideologis dan ketidakmampuan."

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengakui bulan lalu bahwa hilangnya impor energi murah telah memberikan pukulan telak bagi perekonomian blok tersebut.

Lavrov berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan itu menunjukkan para pemimpin Eropa "tidak memikirkan para pemilih yang telah mengantarkan mereka ke tampuk kekuasaan."

Topik Menarik