Kapal Induk dan 5.000 Tentara AS Merapat ke Pattaya, Ada Uang Besar dan Risiko Wisata Seks
Setelah menjalani penugasan panjang di Timur Tengah, kapal induk USS Abraham Lincoln Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) akan bersandar di kota wisata Pattaya, Thailand, pekan ini. Kehadirannya yang membawa sekitar 5.000 tentara memunculkan harapan terhadap peningkatan ekonomi lokal, tetapi juga kekhawatiran terkait wisata seks sehingga otoritas setempat memperketat pengawasan di sejumlah kawasan.
USS Abraham Lincoln dijadwalkan bersandar pada Rabu (2/9/2026) di Pelabuhan Laem Chabang yang berada di dekat Pattaya, bersama dua kapal Angkatan Laut AS yang mengiringinya. Menurut pejabat Thailand, kedatangan tersebut memungkinkan sekitar 5.000 pelaut dan marinir di dalam kapal untuk beristirahat dan memulihkan kondisi setelah menghabiskan lebih dari 250 hari di laut.
Baca Juga: Mundur dari Perang Iran, Kapal Induk USS Abraham Lincoln Amerika Akan Mampir di Dekat Indonesia
Menjelang kedatangannya, polisi mempersiapkan patroli tambahan di sekitar kawasan pantai utama dan distrik hiburan malam Pattaya. Langkah tersebut dilakukan setelah penggerebekan pada akhir pekan yang membuat 40 hingga 50 orang ditahan karena diduga terlibat prostitusi.
"Kami melakukan yang terbaik, tetapi ini sulit," kata Kepala Kepolisian Pattaya Anek Srathongyoo pada hari Senin (31/8/2026), yang dilansir Reuters. Dia menjelaskan bahwa pekerja seks komersial (PSK) berpotensi menawarkan jasa di ruang publik tanpa diketahui aparat.Prostitusi merupakan tindakan ilegal di Thailand. Namun, meskipun sesekali dilakukan operasi penertiban, industri seks terlihat secara terbuka di sejumlah pusat pariwisata utama, termasuk beberapa kawasan di Bangkok dan Pattaya.USS Abraham Lincoln meninggalkan pangkalan asalnya di San Diego pada November dan kemudian dialihkan ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer dalam perang AS-Israel melawan Iran. Menurut anggota parlemen Partai Demokrat AS, penugasan tersebut mencatat rekor modern untuk jumlah hari berturut-turut sebuah kapal berada di laut.
Galang Aliansi Pertahanan Maritim untuk Bab al-Mandab, Arab Saudi Gelar Pertemuan Internasional
Namun, penugasan panjang tersebut juga diwarnai laporan mengenai masalah kesehatan mental dan memburuknya kondisi di dalam kapal. Dua media yang berfokus pada isu militer bulan ini melaporkan adanya upaya bunuh diri dan menurunnya moral para awak di atas kapal.
Pattaya Berharap Ekonomi Terdongkrak
Di Pattaya, yang awalnya merupakan desa nelayan dan kemudian sebagian berubah menjadi pusat pariwisata karena banyak personel militer AS mencari hiburan selama Perang Vietnam, sejumlah pihak berharap kunjungan kapal induk tersebut memberikan keuntungan ekonomi.Wali Kota Pattaya Poramase Ngampiches mengatakan setiap personel militer AS diperkirakan dapat menghabiskan 1.000 hingga 3.000 baht atau sekitar USD30 hingga USD91 per hari, tergantung berapa lama mereka berada di darat dan apakah mereka menginap.
Waktu turun ke darat (shore leave) biasanya dilakukan secara bergiliran sehingga tidak semua personel akan meninggalkan kapal pada waktu yang sama."Ini seharusnya membantu menggairahkan perekonomian Pattaya dalam jangka pendek," kata Poramase.
Risiko Eksploitasi Seksual
Namun, aliran uang tersebut juga berpotensi masuk ke sisi kontroversial industri hiburan Pattaya yang berkembang sangat besar. Satu dekade lalu, Biro Investigasi Federal (FBI) AS menggambarkan Pattaya sebagai "salah satu destinasi wisata seks terkemuka di dunia.""Risiko terhadap kesehatan dan keselamatan, karena masuknya sejumlah besar pelanggan dapat meningkatkan kemungkinan eksploitasi seksual dan penyebaran penyakit menular seksual," kata Pipatpong Fakfare, profesor madya di Sekolah Humaniora dan Manajemen Pariwisata Universitas Bangkok.
Dia juga menyoroti laporan mengenai stres dan upaya bunuh diri di kalangan personel kapal induk yang menambah lapisan kekhawatiran lainnya.
Dampak komersial secara keseluruhan terhadap Pattaya, yang memiliki lebih dari 300.000 kamar, sebagian akan bergantung pada lokasi yang dipilih para personel untuk menghabiskan waktu. Sebagian dari mereka kemungkinan juga akan bepergian ke ibu kota Bangkok, kata Thanet Supornsahasrungsi, Presiden Asosiasi Federasi Pariwisata Chonburi.
"Ketika kami mendengar kabar bahwa kapal perang Angkatan Laut AS akan bersandar di Pattaya, hal itu menjadi sumber harapan bagi kami," kata Lisa Hamilton, Presiden Pattaya Nightlife Business Association.
"Saya telah tinggal di Pattaya selama lebih dari 20 tahun, dan saya belum pernah melihat tahun yang sesepi ini."



