4 Fakta Kurikulum Pendidikan Arab Saudi Berubah Drastis, Instruksi Melaporkan Tukang Sihir Dihapus

4 Fakta Kurikulum Pendidikan Arab Saudi Berubah Drastis, Instruksi Melaporkan Tukang Sihir Dihapus

Global | sindonews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 03:30
share

Sistem pendidikan Arab Saudi terus melunakkan sikapnya terhadap Israel dan konflik Israel-Palestina dalam kurikulum sekolah. Itu dilaporkan surat kabar berbahasa Ibrani, Maariv.

Surat kabar tersebut mengutip laporan baru dari lembaga penelitian IMPACT-se, yang menelaah kurikulum sekolah Arab Saudi dari tahun 2024 hingga 2026.

Laporan itu menyebutkan bahwa Arab Saudi telah menghapus "pernyataan bermusuhan" dan mengubah konten terkait Israel, Yahudi, dan Yerusalem sebagai bagian dari upaya reformasi yang dijalankan oleh keluarga kerajaan di bawah Visi 2030.

4 Fakta Kurikulum Pendidikan Arab Saudi Berubah Drastis, Instruksi Melaporkan Tukang Sihir Dihapus

1. Kalimat "Umat Muslim tidak akan melepaskan Yerusalem" Dihapus dari Buku Teks

Laporan tersebut menyatakan bahwa salah satu perubahan paling mencolok dilakukan pada buku teks bahasa Arab untuk Kelas 11. Edisi tahun 2023-2024 memuat kalimat, "Umat Muslim tidak akan melepaskan Yerusalem", namun kalimat tersebut dihapus sepenuhnya dari edisi tahun ajaran 2024-2025 dan seterusnya.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa kalimat itu sebelumnya menggambarkan kendali atau keberadaan umat Muslim di Yerusalem sebagai sesuatu yang terancam, dan penghapusannya menghilangkan referensi mengenai kota tersebut yang memicu perdebatan dari sisi politik maupun agama.

2. Menjabarkan Visi 2030

Melansir Semafor, Arab Saudi telah mengatasi sebagian besar "tema bermasalah" dalam kurikulum sekolahnya yang sebelumnya dianggap tidak toleran terhadap umat Kristen dan Yahudi. Hal ini terungkap dalam tinjauan terhadap 136 buku pelajaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga kajian Israel yang telah memantau buku pelajaran kerajaan tersebut selama lebih dari 20 tahun.Sebuah hadis yang menyamakan umat Kristen dan Yahudi dengan hewan yang cacat kini telah dihapus; siswa kelas 11 kini belajar tentang hidup berdampingan melalui perjanjian Nabi Muhammad dengan umat Kristen dan Yahudi. Siswa kelas 9 mempelajari sosok Galileo sebagai pelajaran mengenai pemikiran mandiri. Siswa kelas 6 diminta untuk menyanggah gagasan bahwa kebaikan hanya perlu diberikan kepada sesama Muslim.

Tinjauan oleh Institute for Monitoring Peace and Cultural Tolerance in School Education (IMPACT-se)—sebuah organisasi yang memiliki kritikus terkemuka yang mempertanyakan metodologi serta kesimpulannya—mencatat adanya perubahan di luar aspek agama. Pelajaran kini juga mendorong sikap welas asih terhadap pekerja migran dan penyandang disabilitas. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa kurikulum telah bergerak "menuju moderasi yang lebih besar, inklusivitas, dan keselarasan dengan tujuan reformasi yang lebih luas dalam Visi 2030."

Sistem pendidikan Arab Saudi menjadi sorotan internasional setelah serangan 11 September 2001 di AS, ketika Komisi 9/11 meneliti buku-buku pelajaran kerajaan tersebut. Para peneliti AS menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menerjemahkan kurikulum itu, dan Riyadh berjanji kepada Washington untuk melakukan revisi sejak tahun 2006.

Proses penulisan ulang ini semakin cepat di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang mencabut sebagian wewenang polisi agama pada tahun 2016 dan berjanji untuk kembali ke "Islam moderat" setahun kemudian. Pemikiran kritis dan filsafat mulai diajarkan di sekolah menengah pada tahun 2021 sebagai upaya memerangi ekstremisme. Pelajaran musik kemudian menyusul, dan pengajaran bahasa Inggris diperluas hingga ke tingkat sekolah dasar.

3. Instruksi Melaporkan Tukang Sihir Dihapus

Menurut IMPACT-se, revisi-revisi tersebut dilakukan secara bertahap dan terkadang tidak konsisten. Instruksi untuk melaporkan "tukang sihir" kepada pihak berwenang sempat dihapus pada satu tahun, namun diberlakukan kembali pada tahun berikutnya. Sebuah latihan tata bahasa tingkat SMA menggunakan ayat Al-Qur'an yang menggambarkan orang-orang kafir dan musyrik sebagai pihak yang divonis masuk neraka—sebuah pilihan yang dipertanyakan oleh para peneliti, mengingat poin-poin tata bahasa yang sama sebenarnya bisa dijelaskan dengan mudah melalui kalimat-kalimat lain.

Geopolitik juga menjadi sorotan dalam studi tersebut. IMPACT-se menyatakan bahwa bahasa yang bernuansa antisemitisme telah dihapus dari buku-buku pelajaran, namun sikap "tidak mengakui Israel dan pelabelan Israel sebagai kekuatan pendudukan" tetap ada. Hal lain yang juga konsisten ditemukan adalah: siswa diajarkan bahwa istilah "Teluk Persia" mencerminkan bias anti-Arab.

IMPACT-se telah mendokumentasikan materi yang mengkhawatirkan, namun para kritikus berpendapat bahwa menarik kesimpulan umum berdasarkan segelintir frasa dan kalimat yang tersebar di ratusan buku dapat mengarah pada kesimpulan mengenai intoleransi atau ekstremisme yang tidak mencerminkan keseluruhan kurikulum secara akurat.

4. Melakukan Transformasi

Nathan J. Brown, seorang profesor ilmu politik dan hubungan internasional di Universitas George Washington, mempertanyakan anggapan bahwa buku pelajaran semata-mata menjadi pemicu ekstremismeyang digunakan di sekolah-sekolah Palestina antara tahun 1967 hingga 1994, namun generasi yang dididik pada masa itu menunjukkan sikap menentang Israel yang sama besarnya dengan warga Palestina yang dididik setelahnya. Brown menggambarkan kelompok-kelompok seperti IMPACT-se sebagai bagian dari "lobi penghasut" yang memanfaatkan buku pelajaran sebagai bahan bakar untuk perselisihan politik yang lebih luas.

Tidak diragukan lagi bahwa kurikulum Arab Saudi telah mengalami transformasi. Pernah ada masa ketika pelajaran biologi melewatkan materi evolusi, atau saat penyensor materi keagamaan menghitamkan gambar perempuan maupun bagian tubuh tertentu. Menjelang tahun terakhir saya di SMA pada 2015, sebagian besar pembatasan tersebut telah dicabut; setahun kemudian, Visi Saudi 2030 diumumkan, yang membawa negara tersebut ke jalur modernisasi seperti saat ini.

Topik Menarik