Menteri Israel Serukan Kuota Pembunuhan 40 Warga di Gaza Setiap Malam, Iran: Para Penjahat Ini Akan Diadili

Menteri Israel Serukan Kuota Pembunuhan 40 Warga di Gaza Setiap Malam, Iran: Para Penjahat Ini Akan Diadili

Global | sindonews | Selasa, 18 Agustus 2026 - 01:10
share

Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengatakan bahwa pasukan Israel harus "membunuh 30 atau 40" orang di Gaza setiap malam dan melampaui tindakan terhadap "mereka yang menimbulkan bahaya... pada saat itu juga".

Ben-Gvir menyampaikan komentar tersebut kepada Rom Braslavski—mantan tawanan Israel yang ditahan di Gaza saat Israel melancarkan perang genosida di wilayah itu setelah serangan yang dipimpin Hamas pada Oktober 2023—dalam sebuah episode siniar (podcast) yang muncul pada hari Minggu dan disebarluaskan secara luas di media Palestina.

"Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka seharusnya tidak hidup. Mereka bahkan bukan manusia," tambah Ben-Gvir sembari menyerukan pembunuhan terarah terhadap warga Palestina di Gaza.

Pernyataan tersebut merupakan yang terbaru dalam rangkaian panjang pernyataan ekstrem dari Ben-Gvir, yang duduk di pemerintahan koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta mengendalikan kepolisian dan layanan penjara Israel. Menteri dari kubu sayap kanan ini semakin berpengaruh di Israel menjelang pemilihan umum pada 27 Oktober.

Ben-Gvir mengatakan kepada Braslavski bahwa ia tidak setuju dengan keputusan Netanyahu untuk mengurangi serangan militer di Gaza di bawah "gencatan senjata" saat ini; sebaliknya, ia mendesak dilanjutkannya kembali operasi pembunuhan terarah yang cakupannya melampaui sekadar individu yang dianggap sebagai ancaman aktif.

Ia tidak memiliki wewenang resmi atas militer dan tidak dapat memerintahkan serangan secara langsung, meskipun ia duduk di kabinet keamanan Israel—kelompok menteri senior yang berperan merumuskan kebijakan perang dan keamanan.

Ben-Gvir juga berjanji kepada Braslavski bahwa ia akan mengupayakan agar Braslavski bisa ikut serta secara pribadi dalam eksekusi tahanan, jika hukuman mati—yang baru saja disahkan Israel bagi warga Palestina yang divonis bersalah di pengadilan militer atas serangan mematikan terhadap warga Israel—benar-benar dilaksanakan.

"Saya punya permintaan pribadi, dan saya benar-benar menatap mata Anda, Menteri. Izinkan saya menjadi orang yang menggantung mereka," ujar Braslavski kepada Ben-Gvir.

"Saya tidak ingin menggunakan tali; saya ingin menekan tombol senjata. Dengan tangan saya sendiri, saya akan mengeksekusi setiap teroris di negara Israel," tambahnya.Ben-Gvir menjawab: "Saya akan jungkir balikkan dunia demi mewujudkan hal itu. Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan segala upaya dan jungkir balikkan dunia sampai hal itu terjadi."

Mantan tawanan Israel meminta Ben-Gvir mengizinkannya mengeksekusi tahanan Palestina

Dalam diskusi tersebut, Ben-Gvir juga menyerukan agar warga Palestina didorong untuk meninggalkan Gaza secara permanen, seraya mendukung pembangunan permukiman baru Israel di wilayah itu. Ia mengatakan kepada Braslavski bahwa ia menganggap "seluruh Gaza sebagai milik kita"—sebuah komentar yang telah ia sampaikan berulang kali.

Para ahli hukum internasional telah memperingatkan bahwa emigrasi massal, paksaan, atau emigrasi yang direkayasa semacam ini dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis.

Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.250 orang di Gaza sejak "gencatan senjata" diberlakukan pada bulan Oktober, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.Komentar Ben-Gvir ini sejalan dengan pola perilaku yang telah berlangsung selama beberapa dekade, bermula dari keterlibatannya di masa remaja dalam gerakan nasionalis Kahanis yang telah dilarang.

Sebagai menteri, ia gencar memperjuangkan hukuman mati sebagai vonis standar bagi warga Palestina yang terbukti melakukan serangan mematikan, serta membanggakan tindakannya yang sengaja memperburuk kondisi di penjara-penjara Israel yang menahan warga Palestina.

Rekam jejak tersebut telah memicu kecaman internasional, namun tanpa konsekuensi serius. Ia telah dijatuhi sanksi oleh Inggris dan beberapa negara Uni Eropa, namun hal itu tidak memengaruhi tindakannya.

Sementara itu, seorang diplomat senior Iran menyatakan kemarahannya setelah seorang menteri ekstremis Israel menyarankan agar rezim Tel Aviv menghabisi nyawa warga Palestina di Jalur Gaza berdasarkan "kuota pembunuhan malam hari."

"Pengakuan-pengakuan ini harus didokumentasikan dan disimpan untuk saat di mana para penjahat ini akan diadili," tulis Wakil Menteri Luar Negeri bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, dalam sebuah unggahan di platform X pada hari Senin.Gharibabadi juga mengecam keras pejabat Israel tersebut karena menganjurkan pengusiran warga Palestina dari Gaza dan pembangunan permukiman ilegal di wilayah pesisir tersebut, merujuk pada pernyataan sang menteri yang mengatakan, "Saya menganggap seluruh Gaza sebagai milik kita."

Banyak dari pernyataan tersebut telah diserahkan kepada Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebagai bukti adanya niat melakukan genosida.

Sebelum mengakhiri masa jabatannya di tengah tekanan pihak Israel yang banyak diberitakan, mantan Jaksa Penuntut Umum ICC, Karim Khan, dilaporkan sedang menyusun draf surat perintah penangkapan untuk Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich—pejabat Israel kontroversial lainnya—atas keterlibatan mereka dalam pembangunan permukiman ilegal.

Awal tahun ini, surat kabar Israel Ha’aretz melaporkan bahwa Kantor Jaksa Penuntut secara diam-diam telah mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadap Ben-Gvir dan sejumlah pihak lainnya.

Topik Menarik