Iran dan Oman Sepakati Peta Pergerakan Navigasi di Selat Hormuz, Perang Segera Berakhir?
Juru bicara Kementerian Luar NegeriIran, Esmail Baghaei, mengatakan pembicaraan antara Teheran dan Muscat terus berjalan dengan stabil dan positif meskipun ada hambatan dari AS. Apakah itu akan jadi sinyal perang AS dan Iran yang memperebutkan Selat Hormuz akan berakhir?
Berbicara kepada Defa Press, Baghaei mengatakan Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan mengenai peta pergerakan navigasi.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan "buah dari kerja sama kolektif berbagai entitas di dalam negeri," seraya mencatat bahwa proses tersebut dipimpin oleh Kementerian Luar Negeri dengan partisipasi sektor pertahanan, keamanan, dan lingkungan.
Sebelumnya hari ini, Baghaei mengkritik kebijakan luar negeri AS terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa pendekatan Washington telah berkembang menjadi "pola struktural yang didasarkan pada kebohongan dan tipu daya".
Dalam sebuah unggahan di X, ia mengutip sebuah bagian dari novel karya penulis Rusia Fyodor Dostoevsky, The Brothers Karamazov, yang menurutnya menggambarkan secara akurat kondisi tata kelola dan kebijakan luar negeri AS dalam hubungannya dengan kawasan tersebut dan Iran sebagai akibat dari "ketergantungan yang berlebihan pada kebohongan".
Kutipan yang disampaikan Baghaei berbunyi, "Dia yang berbohong pada dirinya sendiri dan mendengarkan kebohongannya sendiri akan sampai pada titik di mana ia tidak dapat membedakan kebenaran di dalam dirinya atau di sekitarnya, dan dengan demikian kehilangan rasa hormat terhadap dirinya sendiri maupun orang lain".
Pernyataan Baghaei muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Jumat mengklaim bahwa Iran sedang mengalami "kekalahan telak" dan menegaskan kembali bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran memperoleh senjata nuklir. Trump juga mengatakan blokade laut yang diberlakukan terhadap Iran tetap berlaku, dengan mengklaim bahwa "tidak ada kapal yang diizinkan melintas tanpa izin AS" dan menggambarkan blokade tersebut sebagai "dinding baja".
Di tengah situasi ini, upaya diplomatik regional terkait navigasi di Selat Hormuz tampaknya mulai mendapatkan momentum, di mana Qatar juga mengindikasikan adanya kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman.
Pembicaraan antara Oman dan Iran mengenai pengaturan navigasi di Selat Hormuz telah mencapai tahap lanjut, ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, pada hari Selasa, seraya menegaskan kembali dukungan Doha terhadap upaya memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut.Al-Ansari mengatakan para mediator sedang berupaya membuka kembali Selat Hormuz sesegera mungkin, seraya menambahkan bahwa negosiasi berada pada "titik krusial" dan Qatar mendukung segala upaya untuk meredakan ketegangan.
Ia menegaskan bahwa Doha mendukung pengaturan apa pun yang menjamin keamanan selat dan kebebasan navigasi, sekaligus mencegah selat tersebut dijadikan sebagai "alat tekanan politik".
Sebelumnya pada minggu ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negosiasi dengan Oman sedang berlangsung mengenai mekanisme hukum untuk pengelolaan Selat Hormuz dan penentuan rute navigasi maritim, seraya menambahkan bahwa kesepakatan kini sudah dekat.
Araghchi mengatakan pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada beberapa syarat, termasuk kompensasi atas pelanggaran yang dilakukan AS terhadap nota kesepahaman (MoU) Islamabad.
"Pembukaan selat bergantung pada syarat-syarat lain, termasuk kompensasi atas pelanggaran Nota Kesepahaman Islamabad oleh Amerika Serikat," kata Araghchi.Ia menegaskan bahwa, dari sudut pandang Iran, rute navigasi sementara yang digunakan sebelumnya tidak lagi dapat diterima untuk lalu lintas maritim.
Sementara itu, lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz turun menjadi enam kapal pada hari Senin—turun dari rata-rata 10 hari yang berkisar 11 kapal—menurut data pelayaran, di tengah memudarnya prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Data dari Kpler pada hari Selasa pukul 04.20 GMT menunjukkan bahwa empat kapal pengangkut komoditas, termasuk dua kapal tanker produk minyak kosong, memasuki jalur perairan tersebut. Dua kapal keluar dari selat itu, yang terdiri dari sebuah kapal tanker kecil bermuatan gas minyak cair (LPG) dan satu kapal lainnya yang mengangkut bahan bakar residu, menurut data tersebut.
Dalam kondisi sebelum perang, lalu lintas transit yang umum melalui selat tersebut berkisar antara 130 hingga 140 kapal. Secara terpisah, data Kpler menunjukkan bahwa pada hari Senin, sebanyak 25 kapal melintasi Selat Bab al-Mandab di Laut Merah; angka ini secara umum tidak berubah dibandingkan rata-rata 10 hari terakhir yang mencapai hampir 24 kapal.
Hal ini terjadi di tengah upaya Iran untuk terus memperkuat kendalinya atas jalur perairan vital tersebut sebagai tanggapan terhadap agresi berkelanjutan Amerika Serikat terhadap negara itu.






