Qatar Akui Tembak 2 Jet Tempur Su-24, tapi Tak Menangkap 3 Pilot, Terus Siapa yang Menahannya?

Qatar Akui Tembak 2 Jet Tempur Su-24, tapi Tak Menangkap 3 Pilot, Terus Siapa yang Menahannya?

Global | sindonews | Minggu, 16 Agustus 2026 - 14:40
share

Qatar membantah klaim Teheran bahwa pilot-pilot Iran sedang ditahan secara rahasia menyusul penembakan jatuh pesawat mereka dalam permusuhan awal tahun ini.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri menyatakan keterkejutannya pada hari Sabtu atas "pernyataan yang menyesatkan" dari para pejabat Iran dan menegaskan kembali bahwa pasukan Qatar tidak menahan awak pesawat yang selamat. Terus siapa yang menangkap 3 pilot Iran?

"Kami secara tegas membantah klaim yang beredar mengenai penahanan pilot Iran & terkejut dengan pernyataan menyesatkan ini pada saat seperti ini, di tengah upaya & inisiatif diplomatik yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan di kawasan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, dalam sebuah unggahan di X, dilansir Al Jazeera.

Pernyataan tersebut muncul setelah adanya tuntutan publik dari Teheran yang mendesak pembebasan para penerbang tersebut. Jenderal Mohammad Bagherzadeh dari angkatan bersenjata Iran mengatakan dalam sebuah surat kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) bahwa tiga pilot—Javad Salehi, Abdolmajid Dashtian, dan Omran Behraveshian—ditangkap dalam keadaan hidup setelah pesawat tempur Su-24 mereka jatuh pada bulan Maret, menurut kantor berita Iran, Fars. Bagherzadeh menyatakan bahwa para penerbang tersebut telah ditahan tanpa akses komunikasi—termasuk akses ke keluarga maupun perwakilan diplomatik—selama enam bulan, seraya mendesak adanya intervensi kemanusiaan internasional.Iran sebelumnya telah mengakui bahwa satu pilot tewas dan yang lainnya hilang setelah misi mereka ke Qatar, namun rincian mengenai dugaan penangkapan mereka belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Doha mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan udara Qatar menjalin kontak dengan pesawat tersebut setelah terjadi pelanggaran wilayah udara Qatar tanpa izin pada bulan Maret. Setelah peringatan tidak diindahkan, pasukan Qatar mengambil tindakan terhadap target tersebut. Tim pencarian dan penyelamatan kemudian menemukan jenazah salah satu pilot, Majid Kazemi, dan berkoordinasi dengan pihak berwenang Iran untuk pemulangan jenazahnya.

“Qatar … berkomunikasi dengan pihak Iran untuk mengoordinasikan penyerahan jenazah salah satu pilot yang ditemukan, sesuai dengan ketentuan hukum humaniter internasional yang relevan,” ujar al-Ansari pada hari Sabtu. “Qatar juga telah mengundang tim Iran untuk berkunjung ke Qatar guna mendapatkan penjelasan rinci mengenai operasi pencarian dan penyelamatan pada bulan April, namun pihak Iran belum menanggapi undangan tersebut.”

Konfrontasi militer tersebut terjadi saat serangan terhadap pangkalan udara Al Udeid di Qatar—instalasi militer Amerika Serikat terbesar di kawasan tersebut yang menampung personel Komando Pusat AS (CENTCOM).

Pada awal Maret, Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan penembakan jatuh dua pesawat pengebom Sukhoi Su-24 milik Iran; ini merupakan kali pertama sebuah negara Teluk melaporkan penembakan jatuh pesawat Iran selama konflik berlangsung. Pencegatan tersebut terjadi di tengah gelombang serangan balasan yang lebih luas di kawasan Teluk menyusul pecahnya permusuhan pada 28 Februari. Meskipun gencatan senjata bulan April—yang dicapai dengan bantuan Pakistan sebagai mediator awal—sempat menghentikan pertempuran besar untuk sementara waktu, perundingan mengenai kerangka perdamaian justru gagal pada bulan Juni. Hal ini memicu bentrokan sporadis di dekat Selat Hormuz serta serangan lanjutan terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur di kawasan tersebut.

Terlepas dari perselisihan ini, Qatar tetap aktif berperan sebagai mediator utama dan terus mendorong penyelesaian melalui perundingan antara Iran dan AS.

Gesekan diplomatik ini muncul di saat upaya perdamaian yang lebih luas menghadapi kendala menjelang tenggat waktu penting. Periode perundingan selama 60 hari, yang ditetapkan berdasarkan nota kesepahaman pertengahan Juni, akan berakhir pada hari Senin; namun, hanya sedikit pembicaraan langsung yang telah terlaksana, sehingga lalu lintas maritim melewati Selat Hormuz dalam jumlah yang sangat sedikit.

Saat berbicara di hadapan hadirin di New York pada hari Jumat, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Iran sedang mengalami "kekalahan telak" dan mengisyaratkan bahwa ia akan "segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat".

Teheran dengan cepat menepis pernyataan tersebut pada hari Sabtu.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mencuit di platform X bahwa jalur perairan yang sangat strategis itu "tidak bisa direbut hanya dengan sebuah cuitan ataupun kapal induk", seraya memperingatkan bahwa Iran akan terus memberlakukan blokadenya sampai Washington menerima "kenyataan akan kekalahan".

Topik Menarik