Lebih dari 20 Kapal Perang AS Blokade Iran Meski Trump Bilang Semi-Negosiasi
Militer Amerika Serikat (AS) menegaskan kembali bahwa lebih dari 20 kapal perangnya masih dikerahkan di Timur Tengah untuk menegakkan blokade laut terhadap Iran. Pernyataan ini muncul bahkan saat Presiden AS Donald Trump mengeklaim Washington dan Teheran pada dasarnya hanya melakukan "semi-negosiasi" untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Komando Pusat AS (CENTCOM), dalam sebuah unggahan di X, menyatakan bahwa pasukan AS telah mengalihkan setidaknya 55 kapal komersial, melumpuhkan dua di antaranya, dan menaiki dua kapal lainnya sejak blokade diberlakukan.
Baca Juga: Senator AS: Trump Kalah dalam Perang Iran!
"Pelaut AS berjaga di anjungan USS Ross (DDG 71). Ross adalah salah satu dari lebih dari 20 kapal perang AS yang dikerahkan ke Timur Tengah untuk mendukung misi militer, termasuk penegakan ketat blokade AS terhadap Iran. Per 9 Agustus, CENTCOM telah mengalihkan 55 kapal komersial, melumpuhkan 2 kapal, dan menaiki 2 kapal lainnya untuk memastikan kepatuhan," demikian bunyi unggahan CENTCOM di X, Senin (10/8/2026).
Unggahan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz, di mana Teheran tetap bersikeras pada tuntutan yang harus dipenuhi sebelum mereka melonggarkan cengkeramannya atas jalur perairan strategis bagi pelayaran komersial tersebut.Jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab—yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia pada masa damai—telah menjadi salah satu titik api utama dalam "konflik pilihan" Presiden Trump.
Status Terkini Perundingan AS-Iran
Iran menyatakan sedang mendekati kesepakatan akhir dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di antara kedua negara yang melintasi Selat Hormuz.Namun, Iran menegaskan kembali bahwa AS harus memenuhi syarat-syarat lain—termasuk pemberian kompensasi serta penghentian sanksi dan ancaman militer—sebelum jalur perairan strategis tersebut dibuka kembali.
Kesepakatan dengan Iran akan menetapkan jalur pelayaran baru yang akan digunakan setelah AS memenuhi syarat-syarat tersebut dan Selat Hormuz dibuka kembali, demikian pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang dilansir Mehr News Agency.
Menurut Araghchi, Iran dan AS tidak sedang melakukan pembicaraan langsung, dan Teheran tidak akan memulainya selama Washington melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan Juni. Dia menambahkan bahwa pesan-pesan kedua pihak disampaikan melalui perantara.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Axios bahwa AS mengambil sikap "tidak terlalu agresif" terhadap Iran. "Kami hanya melakukan negosiasi setengah-setengah dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan tingkat inflasi yang tinggi dan fakta bahwa mereka tidak memiliki uang," ujarnya.
Araghchi mengatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sebagian bergantung pada pembayaran kompensasi oleh AS atas kerusakan yang diakibatkannya dalam serangan luas terhadap Iran.
Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, juga memaparkan sejumlah syarat dari Teheran, antara lain mengakhiri segala ancaman lebih lanjut AS terhadap Iran, menghentikan agresi terhadap Iran serta sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, mencabut blokade Angkatan Laut AS di kawasan Teluk, menghapus sanksi terhadap Iran, serta melepas aset-aset Iran yang dibekukan.






