Bocah Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Elite Kerap Nonton Konten Kekerasan di Medsos
Bocah 14 tahun yang melakukan penembakan massal di sekolah elite di Thailand pada Jumat pekan lalu diketahui kerap menonton konten kekerasan di media sosial. Total delapan orang tewas, termasuk pelaku, dalam penembakan tersebut.
Tragedi tersebut terjadi di sekolah Debsirin Nonthaburi, sebuah lembaga pendidikan elite yang melahirkan banyak tokoh penting di Thailand—termasuk perdana menteri dan raja. Pelaku merupakan siswa di sekolah tersebut.
Baca Juga: Horor! Siswa Umbar Tembakan di Sekolah Elite, 7 Orang Tewas, 15 Luka
Jumlah korban tewas awalnya tujuh orang, namun bertambah satu lagi pada hari Minggu setelah seorang siswa yang terluka parah mengembuskan napas terakhirnya.
Polisi yang menyelidiki serangan tersebut menyatakan bahwa pelaku telah menunjukkan ketertarikan pada senjata api jauh sebelum peristiwa penembakan terjadi."Berdasarkan keterangan saksi, pelaku sudah mulai menunjukkan minat untuk mempelajari penggunaan senjata api sejak beberapa waktu lalu, sekitar satu hingga dua tahun," ujar Atthapol Anusit, wakil komisaris kepolisian wilayah setempat.Polisi menyebutkan bahwa pelaku juga kerap menonton konten kekerasan secara daring. "Setelah memeriksa komputer pribadinya, ditemukan bahwa anak tersebut pernah menonton konten media sosial yang memuat unsur kekerasan," kata Atthapol.
Pihak penyidik menyatakan bahwa sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan remaja tersebut pernah berlatih menembak.
Polisi telah memeriksa 17 saksi serta mengamankan sebuah senjata api, selongsong peluru, dan sebuah komputer pribadi dari lokasi kejadian. Sebuah pisau juga ditemukan di dalam tas pelaku.
Pihak berwenang juga mengungkapkan bahwa seorang guru pernah menyita pistol BB (senapan angin peluru plastik) dari pelaku setelah dia membawanya ke sekolah pada tahun lalu.
Menurut Atthapol, pelaku tinggal bersama kakek dan neneknya selama sekitar 12 tahun setelah orang tuanya berpisah.Menurut petugas polisi, beberapa jam sebelum serangan di sekolah, pelaku diduga telah menembak mati kakek dan neneknya di rumah mereka.
Selain delapan orang tewas, lebih dari 20 orang terluka dalam insiden ini. Setidaknya 14 orang masih dirawat di rumah sakit, termasuk tujuh orang dalam kondisi kritis.
Peristiwa penembakan massal ini kembali memicu perdebatan mengenai akses terhadap senjata api di Thailand serta menimbulkan pertanyaan apakah tanda-tanda peringatan yang melibatkan kaum muda dapat dideteksi lebih dini.
Kementerian Pendidikan Thailand menyatakan akan menyusun langkah-langkah keselamatan sekolah yang baru dalam tiga bulan ke depan, termasuk pemeriksaan kesehatan mental dan sistem rujukan bagi individu berisiko kepada tenaga ahli.
Langkah-langkah tersebut juga diperkirakan akan mencakup simulasi tanggap darurat, upaya penanganan perundungan (bullying), serta peningkatan pemeriksaan untuk mencegah masuknya barang-barang terlarang ke lingkungan sekolah.Penyelidikan polisi mengenai bagaimana remaja tersebut memperoleh senjata api serta situasi yang melatarbelakangi serangan itu masih terus berlangsung.
Ayah Pelaku Minta Maaf
Sementara itu, ayah pelaku telah meminta maaf kepada para korban dan keluarga mereka dalam pernyataan publik pertamanya sejak serangan tersebut terjadi.Saat keluar dari kantor polisi Plai Bang usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik, sang ayah dikerumuni oleh wartawan dan kru kamera ketika dia berjalan menuju mobil yang telah menunggunya.
"Saya minta maaf," ujarnya, sebagaimana dilaporkan oleh Independent UK, Senin (10/8/2026). "Saya sangat menyesal kepada seluruh keluarga korban."






