Politisi Anti-Muslim Andy Ogles Keok dalam Pemilihan Pendahuluan AS, Padahal Didukung Trump

Politisi Anti-Muslim Andy Ogles Keok dalam Pemilihan Pendahuluan AS, Padahal Didukung Trump

Global | sindonews | Minggu, 9 Agustus 2026 - 10:26
share

Andy Ogles, anggota Kongres asal Tennessee yang dikenal sering melontarkan pernyataan anti-Muslim, kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik Amerika Serikat (AS). Padahal, dia mendapat dukungan dari Presiden Donald Trump.

Dukungan presiden selama ini dianggap sebagai "tiket emas" bagi kandidat anggota Kongres dari Partai Republik.

Baca Juga: Politisi Murtad yang Didukung Trump Kalah Pemilihan Pendahuluan, Justru karena Namanya Khas Muslim

Andy Ogles, anggota Kongres yang telah menjabat dua periode, kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik dari Charlie Hatcher—seorang peternak sapi perah dan pejabat pertanian negara bagian Tennessee—yang juga menyatakan dukungannya terhadap Trump.

Berkampanye dengan slogan "pekerjakan seorang petani", situs web Hatcher mendeskripsikan dirinya sebagai sosok yang "pro-senjata, pro-kehidupan, dan pro-Trump".

Dia juga mengeluarkan dana lebih besar daripada Ogles dalam pemilihan pendahuluan ini berkat aliran dana dari kelompok-kelompok luar yang mendukung platform Hatcher, yang berfokus pada upaya menghidupkan kembali produksi energi terbarukan.Kekalahan tak terduga ini dapat dikaitkan dengan penataan ulang batas wilayah daerah pemilihan tempat Ogles mencalonkan diri—sesuatu yang dimungkinkan karena putusan Mahkamah Agung AS baru-baru ini telah melemahkan Undang-Undang Hak Pilih

Namun, Ogles juga sangat terpaku pada kelompok-kelompok tertentu. Dalam sebuah unggahan di X yang kini telah dihapus, dia menyatakan pada bulan Juni: "Homoseksualitas tidak memiliki tempat di Amerika."

Akan tetapi, dia lebih sering menyerang umat Muslim dibandingkan kelompok lainnya.

Sebagai pendukung setia Israel dan anggota House Freedom Caucus yang berhaluan kanan keras, Ogles telah melontarkan beberapa usulan garis keras yang menyasar umat Muslim.

Baru-baru ini, dia menyatakan niatnya untuk mengajukan undang-undang yang melarang imigrasi dari negara-negara tertentu yang berpenduduk mayoritas Muslim. Ogles juga menyatakan bahwa "keberagaman adalah kelemahan kita" dan menyerukan deportasi terhadap warga Amerika Muslim hasil naturalisasi, termasuk Wali Kota New York City, Zohran Mamdani."Zohran 'si Muhammad kecil' Mamdani adalah seorang antisemit, sosialis, dan komunis yang akan menghancurkan New York City yang hebat," tulis Ogles di X pada bulan Juni. "Dia harus DIDEPORTASI. Itulah sebabnya saya menyerukan agar dia dikenai proses pencabutan status kewarganegaraan (denaturalisasi)."

Meningkatnya Sentimen Anti-Muslim

Awal tahun ini, Ogles memicu kecaman luas setelah menyatakan di media sosial bahwa umat Islam tidak memiliki tempat dalam masyarakat Amerika.

Dia menulis di X pada awal Maret: "Pluralisme adalah sebuah kebohongan."

Pemantau media sosial melaporkan peningkatan tajam konten anti-Muslim di X sejak Israel dan AS melancarkan perang gabungan melawan Iran pada 28 Februari.

Center for the Study of Organized Hate yang berbasis di Washington, DC, menyatakan telah melacak unggahan yang secara eksplisit merendahkan martabat kemanusiaan, mengucilkan, dan menghasut kekerasan terhadap umat Islam dari 1 Januari hingga 5 Maret—periode saat Trump terus-menerus mengancam akan memulai perang tersebut.Pada hari perang dimulai, jumlah unggahan semacam itu melonjak dari sedikit di bawah 2.000 per hari menjadi lebih dari 6.000, menurut laporan tersebut, yang dikutip Middle East Eye, Minggu (9/8/2026).

Council on American–Islamic Relations (CAIR) mengecam Ogles, menyebutnya sebagai "ekstremis anti-Muslim".

"Ogles adalah anggota dari kelompok yang disebut 'Sharia-Free America Caucus' (Kaukus Amerika Bebas Syariah), sebuah kelompok perwakilan AS yang mendukung undang-undang ekstremis yang, jika disahkan, pada dasarnya akan melarang praktik agama Islam di Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Islam adalah keyakinan Amerika yang telah ada sejak era kolonial, ketika banyak Muslim didatangkan sebagai tenaga kerja budak, tanpa kebebasan individu atau kebebasan beragama," kata CAIR.

Komentar-komentar Oglas memicu kecaman cepat dari para legislator Partai Demokrat, yang menggambarkan retorika itu sebagai tindakan yang secara terang-terangan Islamofobik.Legislaot Judy Chu menyebut pernyataan itu "menjijikkan", sementara legislator Lisa Blunt Rochester mendesak para pemimpin Partai Republik untuk secara terbuka mengecam anggota Kongres asal Tennessee tersebut.

Politisi Katherine Clark menulis di X: "Omong kosong menjijikkan ini tidak pantas ada dalam masyarakat Amerika. Dan anggota Partai Republik yang mendukungnya tidak pantas berada di Kongres."

Namun, tidak pernah ada konsekuensi apa pun—seperti upaya untuk menjatuhkan kecaman resmi terhadap Ogles, yang merupakan langkah yang lebih bersifat simbolis—di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.

Anggota Kongres AS keturunan Palestina, Rashida Tlaib, tahun lalu dijatuhi kecaman resmi karena menggunakan frasa "dari sungai hingga ke laut, Palestina akan merdeka".

Masa jabatan Andy Ogles saat ini akan berakhir pada Januari 2027.

Topik Menarik