UEA: Rudal Iran Serang Kapal Tanker Minyak ADNOC di Selat Hormuz
Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai serangan rudal Iran terhadap kapal tanker yang terkait dengan perusahaan minyak Emirat saat melintasi Selat Hormuz. Pemerintah negara Teluk itu menuduh Teheran melakukan "tindakan pembajakan".
Kantor berita negara UEA, WAM, awalnya melaporkan pernyataan perusahaan minyak ADNOC bahwa salah satu kapalnya menjadi sasaran rudal pada Sabtu pagi dan situasi saat itu terkendali.
Baca Juga: Jenderal Tertinggi AS Diam-diam Cari Jalan Keluar dari Perang Iran, Opsi Militer Amerika Makin Terbatas
Kementerian Luar Negeri UEA, sebagaimana dikutip Reuters, Minggu (9/8/2026), kemudian mengecam apa yang mereka sebut sebagai "serangan bermusuhan Iran" terhadap kapal ADNOC tersebut.
Kedua pernyataan tersebut tidak memberikan rincian mengenai kapal tanker minyak, muatannya, ataupun kemungkinan kerusakan yang terjadi. Tidak ada laporan mengenai korban luka.Sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz—jalur perairan sempit di antara Oman dan Iran—sebelum konflik pecah. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, aktivitas pelayaran berulang kali terganggu, yang menyebabkan kenaikan biaya pengiriman dan memicu kekhawatiran keamanan.Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa serangan tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai kebebasan navigasi dan menuduh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan "tindakan pembajakan" dengan menargetkan pelayaran komersial serta menggunakan jalur perairan tersebut sebagai alat tekanan ekonomi.
UEA mendesak Iran untuk menghentikan serangan-serangan tersebut serta membuka kembali selat itu sepenuhnya dan tanpa syarat.
IRGC sebelumnya telah mengancam akan mengambil tindakan terhadap kapal apa pun yang melintasi selat tersebut jika kapal-kapal itu terkait dengan pihak musuh Teheran, atau jika mereka gagal mematuhi arahan Iran.
ADNOC menyatakan bahwa pihaknya sangat terdampak oleh apa yang mereka sebut sebagai serangan tanpa provokasi terhadap personel dan asetnya, sembari tetap berupaya memenuhi kebutuhan pelanggan di tengah "lingkungan yang sangat menantang."
Perusahaan tersebut menyebutkan bahwa 15 kapalnya telah diserang menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone) saat melintasi selat itu sejak awal konflik—termasuk tiga serangan pada minggu ini—yang mengakibatkan satu awak kapal tewas dan 20 lainnya terluka.
Dalam pernyataannya, ADNOC tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan-serangan tersebut.
ADNOC, perusahaan minyak milik negara Abu Dhabi, merupakan salah satu produsen energi terbesar di dunia yang mengekspor minyak mentah, gas alam, dan produk olahan ke berbagai pelanggan di seluruh dunia.






