Pakar Militer Ini Sebut Arab Saudi dan Turki Tak Bisa Andalkan Aliansi Tradisional Pimpinan AS

Pakar Militer Ini Sebut Arab Saudi dan Turki Tak Bisa Andalkan Aliansi Tradisional Pimpinan AS

Global | sindonews | Minggu, 9 Agustus 2026 - 03:30
share

Direktur The Killowen Group sekaligus pensiunan perwira senior angkatan laut, Harlan Ullman. Ia menyatakan bahwa pakta pertahanan baru antara Arab Saudi,Turki, dan Pakistan merupakan akibat dari melemahnya aliansi tradisional selama masa jabatan kedua Trump.

“Pemerintahan Trump telah menyatakan bahwa sekutu harus mengurus diri mereka sendiri,” ujar Ullman kepada Al Jazeera.

“Yang jelas bagi saya adalah sekutu-sekutu kita sedang mencari alternatif lain,” kata Ullman. “Menurut saya, khususnya di Arab Saudi—mengingat sikap Trump yang berubah-ubah dan terkesan impulsif terkait konflik dengan Iran—bisa dipastikan aliansi kita kehilangan kepercayaan terhadap konsistensi Amerika, dan inilah salah satu penyebabnya.”

“Landasan aliansi kita—baik di Timur Tengah, Teluk Persia, dengan sekutu NATO, maupun dengan Asia—jelas telah terguncang,” tambah pensiunan perwira senior angkatan laut tersebut.

Kemudian, kesepakatan pertahanan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dapat saling melengkapi kekurangan masing-masing pihak.

Ullman mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kesepakatan ini menawarkan keuntungan tersendiri bagi setiap peserta berdasarkan kebutuhan strategis mereka.

“Pakistan membutuhkan dana, maka mereka menjalin kerja sama dengan Arab Saudi. Pakistan memiliki senjata nuklir—secara implisit—yang bisa menjadi faktor penangkal bagi Arab Saudi,” kata Ullman. “Turki dan Erdogan ingin memimpin dunia Muslim. Turki memiliki industri pertahanan yang kuat, jadi dalam hal ini, kesepakatan tersebut memiliki potensi yang sangat nyata.”

Namun, Ullman mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk memprediksi bagaimana deklarasi ini akan berjalan dalam praktiknya. Ia mencatat bahwa pakta tersebut bergantung pada pemilihan kata spesifik yang menyisakan ruang untuk penafsiran saat terjadi krisis.

“Kami meyakini isinya menyatakan bahwa serangan terhadap satu pihak harus dianggap [sebagai serangan terhadap semua pihak]—dan frasa ‘harus dianggap’ adalah poin kuncinya, karena hal itu tidak berarti pasti demikian,” ujarnya.“Namun, bayangkan jika India dan Pakistan berkonflik. Bayangkan jika Iran menyerang Arab Saudi. Bayangkan jika kelompok Houthi dan pihak di Yaman menyerang Arab Saudi,” tambah Ullman. “Apakah langkah ini melibatkan Turki? Apakah ini melibatkan Pakistan? Hal itu masih harus kita lihat.”

Sewdangkan mantan Duta Besar AS untuk Tunisia, Gordon Gray, mengatakan bahwa Arab Saudi sedang melakukan langkah antisipasi (lindung nilai) dengan menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Turki dan Pakistan.

“Saya melihatnya sebagai langkah lindung nilai strategis yang dilakukan oleh Arab Saudi,” ujar Gray kepada Al Jazeera.

“Mengingat sikap pemerintahan AS saat ini yang cenderung kurang antusias terhadap aliansi, masuk akal bagi Turki maupun pihak Saudi untuk mendiversifikasi hubungan pertahanan mereka,” kata Gray.

Topik Menarik