3 Alasan Kuwait dan Bahrain Melancarkan Serangan Udara ke Iran, Lelah dan Capek Jadi Target

3 Alasan Kuwait dan Bahrain Melancarkan Serangan Udara ke Iran, Lelah dan Capek Jadi Target

Global | sindonews | Senin, 27 Juli 2026 - 05:05
share

Bahrain dan Kuwait mengirim pesawat tempur untuk menyerang Iran sebagai balasan atas serangan terhadap negara mereka. Itu dilaporkan The Wall Street Journal melaporkan pada hari Jumat.

Kedua negara Teluk tersebut menargetkan depot penyimpanan drone dan rudal, dengan UEA menyediakan intelijen dan "perlindungan udara defensif" untuk operasi tersebut, menurut laporan itu.

Baik UEA maupun Arab Saudi melakukan serangan terhadap Iran pada awal perang. Abu Dhabi mengambil sikap yang lebih agresif, melancarkan puluhan serangan terhadap Republik Islam tersebut ketika negara itu berada di bawah serangan rudal dan drone yang intens.

3 Alasan Kuwait dan Bahrain Melancarkan Serangan Udara ke Iran, Lelah dan Capek Jadi Target

1. Bahrain dan Kuwait Jadi Sasaran Serangan Iran Paling Intens

Masuknya Bahrain dan Kuwait ke dalam perang akan menandai perluasan konflik. Kedua negara Teluk tersebut telah menjadi sasaran serangan Iran paling intens dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan meningkatnya kembali pertempuran di kawasan tersebut.

Kedua negara tersebut merupakan pemain militer yang relatif kecil dibandingkan dengan UEA dan Arab Saudi, meskipun Bahrain telah berinvestasi lebih banyak di sektor pertahanannya. Bahrain menjalin hubungan diplomatik dengan Israel berdasarkan Perjanjian Abraham 2020.

Iran telah menyerang kedua negara tersebut karena menghindari serangan terhadap tetangga mereka yang lebih kaya dan lebih besar, Arab Saudi dan UEA.

2. Tergantung dengan Kondisi Selat Hormuz

Kuwait dan Bahrain dipandang sangat rentan karena letak geografisnya dan ketergantungan hampir total pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak.

Bahrain adalah kerajaan pulau yang satu-satunya koneksi daratnya ke dunia luar adalah jalan lintas dengan Arab Saudi.

Kuwait pernah terhubung dengan provinsi Basra Ottoman di Irak modern. Terletak di ujung paling utara Hormuz dan berbatasan dengan Irak. Pejabat regional mengatakan Kuwait telah menjadi sasaran serangan intensif dari Iran dan kelompok milisi di Irak yang bersekutu dengan Teheran.

Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan awal pekan ini bahwa Iran menyerang pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air. Serangan tersebut tampaknya relatif terkendali, tetapi para ahli telah memperingatkan bahwa negara-negara Teluk akan menghadapi krisis kemanusiaan jika pabrik desalinasi mereka menjadi sasaran dalam skala besar.

3. Tahu Risiko Tak Akan Mengubah Hasil Perang

Tidak mungkin tindakan militer oleh Kuwait dan Bahrain akan mengubah hasil perang. AS dan Israel melancarkan serangan dahsyat terhadap Iran awal tahun ini. Perpanjangan gencatan senjata yang ditandatangani pada bulan Juni hampir sepenuhnya gagal, dengan Iran menyerang negara-negara Teluk dan kapal-kapal di Selat Hormuz.

Arab Saudi bergabung dengan AS dalam menyerang Iran pada awal konflik, kemudian beralih mendukung mediasi oleh Pakistan. Riyadh memang memberikan AS akses yang lebih luas ke wilayah udara dan pangkalan-pangkalan mereka.UEA mengambil posisi paling aktif awal tahun ini, melancarkan puluhan serangan terhadap Republik Islam Iran.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios pada hari Kamis bahwa ia sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran.

Militer AS mengatakan bahwa Jumat menandai malam ke-13 berturut-turut serangan terhadap Iran.

Topik Menarik