Menlu Iran dan Pemimpin Hamas di Gaza Bahas Perkembangan Terkini Palestina

Menlu Iran dan Pemimpin Hamas di Gaza Bahas Perkembangan Terkini Palestina

Global | sindonews | Jum'at, 5 Juni 2026 - 16:29
share

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi melakukan panggilan telepon pada hari Kamis (4/6/2026) dengan Khalil al-Hayya, kepala gerakan Palestina Hamas di Jalur Gaza. Mereka membahas Palestina dan perkembangan regional terkini.

Araghchi menjelaskan langkah-langkah terbaru yang diambil Iran untuk menghentikan perang di kawasan tersebut. Kabar itu dilaporkan kantor berita semi-resmi Tasnim, mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran.

Ia menekankan “kebijakan prinsip Iran untuk mendukung perlawanan sah rakyat di kawasan tersebut, khususnya di Palestina dan Lebanon, terhadap pendudukan dan serangan entitas Zionis,” yang berarti Israel.

Sementara itu, al-Hayya memuji sikap delegasi negosiasi Iran yang menekankan penghentian perang secara serentak di semua front regional, dan menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan Iran yang teguh terhadap perjuangan sah rakyat Palestina.

Ia memberikan informasi terkini tentang situasi di Palestina yang diduduki, khususnya Jalur Gaza, di tengah agresi, pendudukan, dan penghambatan gencatan senjata yang terus berlanjut oleh Israel.Perang genosida Israel selama dua tahun di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 telah menewaskan hampir 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut data Palestina.

Meskipun gencatan senjata mulai berlaku Oktober lalu, tentara Israel sejak itu telah membunuh 932 warga Palestina dan melukai 2.859 orang dalam serangan yang hampir setiap hari terjadi, menurut Kantor Media Gaza.

Lebanon dan Israel sepakat pada hari Rabu untuk memperbarui gencatan senjata mereka yang rapuh dan membentuk "zona percontohan" yang menempatkan tentara Lebanon dalam kendali teritorial eksklusif, dengan semua aktor non-negara dikecualikan.

Kesepakatan tersebut diumumkan dalam pernyataan bersama yang dirilis setelah putaran keempat pembicaraan yang dimediasi AS yang diadakan di Washington.

Perundingan yang disponsori AS ini menyusul serangan Israel yang hampir setiap hari terjadi di Lebanon selama beberapa minggu terakhir, yang telah menewaskan hampir 3.500 orang sejak 2 Maret.

Serangan Israel berlanjut meskipun ada gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli.

Baca juga: Surat Netanyahu Ungkap Upaya Israel Ganti Bantuan AS dengan Integrasi Militer: Rencana Saya

Topik Menarik