Israel Bombardir Lebanon Lagi, Padahal Telah Setuju Gencatan Senjata yang Dimediasi AS
Israel kembali membombardir Lebanon selatan dan timur pada Kamis petang, yang menyebabkan delapan orang tewas dan 15 lainnya terluka. Serangan udara ini diluncurkan kurang dari 24 jam setelah Tel Aviv dan Beirut menyetujui proposal gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS).
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan mematikan Zionis Israel menargetkan kota Sohmor, Masaken, dan Arab Al-Jalil.
Sementara itu, militer Israel atau IDF mengeklaim sebuah rudal anti-tank yang ditembakkan oleh Hizbullah menewaskan seorang tentara Israel di Lebanon selatan. Israel juga menyalahkan Hizbullah atas kematian seorang tentara penjaga perdamaian PBB yang terluka dalam serangan mortir malam sebelumnya.
Baca Juga: Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Israel-Lebanon, Anggap Tak Tahu Malu
Departemen Luar Negeri AS mengatakan pada hari Rabu bahwa Israel dan Lebanon telah sepakat untuk menerapkan gencatan senjata dengan syarat "penghentian total" tembakan Hizbullah dan evakuasi para milisinya dari Sektor Litani Selatan.
Pernyataan itu mengatakan kedua pihak juga telah sepakat untuk memajukan "zona percontohan" di mana Angkatan Bersenjata Lebanon pada akhirnya akan mengambil kendali eksklusif "dengan mengesampingkan semua aktor non-negara."Hizbullah bukan pihak dalam pembicaraan Washington dan mengatakan bahwa setiap pengaturan yang menuntut penarikan pasukannya sementara Israel tetap menempatkan pasukan di Lebanon selatan akan menguntungkan rezim pendudukan daripada mengakhiri konflik.Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menyebut kesepakatan yang dimediasi Washington itu sebagai upaya "tidak tahu malu" untuk memaksa Lebanon menyerah.
"Itu sama dengan peta jalan untuk memusnahkan sebagian rakyat Lebanon," kata Qassem, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (5/6/2026).
Dia mengatakan Hizbullah tidak akan meninggalkan Lebanon selatan selama pasukan Israel tetap berada di dalam negeri, dan memperingatkan bahwa Israel utara juga akan tetap terancam selama Lebanon dibom.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Oval Office pada hari Kamis bahwa dia telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. "Dan sebenarnya juga berbicara dengan Hizbullah tentang hal itu," ujarnya, menepis anggapan bahwa Hizbullah menolak inisiatif tersebut."Mereka tidak akan menolak saya, mereka tidak menolak," katanya, menegaskan bahwa "kemajuan" sedang dibuat antara Israel dan Lebanon.
"Akan sangat bagus jika Lebanon bisa memiliki perdamaian. Lebanon telah diserang selama bertahun-tahun," imbuh dia.
Pertempuran terbaru ini terjadi setelah berminggu-minggu serangan dan operasi darat Israel di Lebanon, termasuk perebutan Kastil Beaufort, yang juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif. Benteng abad pertengahan ini, yang terletak di puncak bukit strategis di Lebanon selatan, sebelumnya digunakan oleh Israel selama pendudukan dua dekade di wilayah tersebut, yang berakhir pada tahun 2000.







