Trump Habis Kesabaran, tapi Militer Iran Janji Lawan AS hingga Tetes Darah Terakhir

Trump Habis Kesabaran, tapi Militer Iran Janji Lawan AS hingga Tetes Darah Terakhir

Global | sindonews | Jum'at, 15 Mei 2026 - 19:16
share

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kesabarannya terhadap Iran sudah habis. Dia juga mengeklaim telah sepakat dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Teheran tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali Selat Hormuz.

Dengan kesepakatan resmi dari KTT AS-China yang belum dirilis, komentar Trump tidak memberikan indikasi apakah Beijing, pembeli utama minyak Iran, mungkin akan menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mengakhiri konflik yang menurutnya seharusnya tidak pernah dimulai.

Baca Juga: Eks Perwira AS Membelot ke Iran, FBI Tawarkan Hadiah Rp3,5 Miliar untuk Memburunya

"Kami telah menyelesaikan banyak masalah berbeda yang tidak dapat diselesaikan oleh orang lain," kata Trump pada hari Jumat (15/5/2026) setelah dia bertemu Xi di Beijing pada hari kedua pembicaraan yang mencakup perang Iran, Taiwan, perdagangan, dan masalah lainnya.

Xi tidak berkomentar tentang diskusinya dengan Trump tentang Iran, meskipun Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan pernyataan blakblakan yang menguraikan frustrasi Beijing terhadap perang Iran.

"Konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi, tidak punya alasan untuk berlanjut," kata kementerian tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

Iran secara efektif menutup selat tersebut untuk sebagian besar lalu lintas pengiriman sebagai tanggapan terhadap serangan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Tindakan Iran ini telah menyebabkan gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pasokan energi global.

"Kami Ingin Selat Hormuz Dibuka"

AS menghentikan serangannya terhadap Iran bulan lalu tetapi memulai blokade terhadap pelabuhan negara Islam tersebut. Teheran mengatakan tidak akan membuka blokade Selat Hormuz tersebut sampai AS mengakhiri blokadenya. Trump telah mengancam akan menyerang Iran lagi jika tidak menyetujui kesepakatan.

"Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, kami ingin selat dibuka," kata Trump di Beijing.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada hari Jumat bahwa Teheran telah menerima pesan dari AS yang menunjukkan bahwa Washington bersedia untuk melanjutkan pembicaraan dan keterlibatan. Dia tidak segera menjelaskan lebih lanjut tentang masalah ini.

Iran, yang membantah berniat membangun senjata nuklir, menolak untuk mengakhiri program nuklirnya atau melepaskan persediaan uranium yang diperkaya yang disembunyikannya, yang membuat Trump frustrasi.

"Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," kata Trump dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Kamis malam di program "Hannity" Fox News, yang menunjukkan bahwa uranium yang diperkaya hanya perlu diamankan oleh AS untuk tujuan public relation.

Harga minyak naik sekitar 3 menjadi mendekati USD109 per barel karena kekhawatiran atas kurangnya kemajuan dalam menyelesaikan konflik.Setelah pembicaraan antara Trump dan Xi pada hari Kamis, Gedung Putih mengatakan bahwa Xi telah memperjelas penentangan China terhadap upaya Iran untuk mengenakan biaya tol atas penggunaan Selat Hormuz.

Trump mengatakan Xi juga berjanji untuk tidak mengirimkan peralatan militer ke Iran. "Dia mengatakan dia tidak akan memberikan peralatan militer, itu pernyataan besar," kata Trump di program "Hannity".

Iran Tidak Mempercayai Amerika

Perang ini telah menjadi beban elektoral bagi Trump karena terus berlanjut menjelang pemilu paruh waktu AS yang penting pada bulan November mendatang.

China telah menepis laporan bahwa mereka berencana memasok senjata ke Iran sebagai "fitnah tanpa dasar", tetapi para analis meragukan Xi akan bersedia menekan Iran dengan keras atau mengakhiri dukungan untuk militernya, mengingat nilainya sebagai penyeimbang strategis terhadap Amerika Serikat.

"Saya tidak butuh bantuan," kata Trump kepada wartawan di pesawatnya yang kembali dari Beijing, ketika ditanya apakah dia telah meminta bantuan China.

Pembicaraan tentang mengakhiri perang, yang dimediasi oleh Pakistan, telah ditangguhkan sejak pekan lalu ketika Iran dan AS masing-masing menolak proposal terbaru dari pihak lain.Araghchi mengatakan pada hari Jumat bahwa Iran akan menyambut masukan apa pun dari China, menambahkan bahwa Teheran mencoba memberi kesempatan pada diplomasi tetapi tidak mempercayai AS.

Iran siap untuk kembali berperang maupun mencari solusi diplomatik, kata Araghchi, menegaskan kembali bahwa kapal-kapal yang tidak terkait dengan negara-negara yang menyerang negaranya dapat melintasi Selat Hormuz.

Kepala Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi Hatami, mengatakan angkatan bersenjata berjanji akan terus membela negara "sampai tetes darah terakhir".

Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global serta pupuk dan pasokan penting lainnya melewati jalur air tersebut. Serangan terhadap kapal telah mencegah hampir semua lalu lintas meskipun sebuah kapal tanker besar China dan kapal lain yang terkait dengan Jepang melintasi selat tersebut pada hari Rabu.

Uni Emirat Arab mengatakan akan mempercepat pembangunan jalur pipa baru ke pelabuhan Fujairah di luar Selat Hormuz, setelah sebuah kapal yang menuju ke sana ditenggelamkan minggu ini dan kapal lain dibajak dan dialihkan ke Iran.

Pembicaraan Lebanon untuk Perpanjang Gencatan Senjata

Ribuan warga Iran tewas selama serangan udara AS dan Israel, dan ribuan lainnya tewas dalam pertempuran yang kembali terjadi di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Dengan gencatan senjata yang rapuh di Lebanon yang akan berakhir pada hari Minggu, diskusi antara pejabat Lebanon dan Israel dijadwalkan untuk berlanjut pada hari Jumat setelah apa yang dikatakan oleh seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS sebagai pembicaraan yang produktif pada hari Kamis.

Hizbullah menentang pembicaraan tersebut, di mana Israel bersikeras agar kelompok itu dilucuti senjatanya.

Trump mengatakan tujuannya memulai perang adalah untuk menghancurkan program nuklir Iran, mengakhiri kemampuannya untuk menyerang negara-negara tetangga, dan mempermudah Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka.

Iran berupaya agar sanksi dicabut, ganti rugi atas kerusakan perang, dan pengakuan atas kendalinya terhadap selat tersebut.

Topik Menarik