Bocah Iran Kembali ke Sekolah Usai 42 Hari Hilang Kontak karena Perang, Disambut Pelukan Haru Teman-temannya
Sebuah momen mengharukan terjadi di sebuah sekolah internasional di China ketika seorang bocah asal Iran akhirnya kembali ke kelas setelah 42 hari menghilang tanpa kabar akibat konflik di negaranya. Kedatangannya langsung disambut pelukan hangat dari teman-teman sekelas yang selama ini khawatir akan keselamatannya.
Bocah bernama Radin itu kembali ke Shaoxing Boya International School pada 27 April 2026 setelah terjebak di Iran bersama keluarganya di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan tersebut. Video kepulangannya viral di media sosial China dan menyentuh hati jutaan orang.
Radin diketahui telah tinggal di China selama tiga tahun terakhir bersama keluarganya yang menjalankan bisnis perdagangan di Provinsi Zhejiang. Awalnya, perjalanan mereka ke Iran hanya untuk urusan keluarga dan diperkirakan berlangsung singkat. Namun situasi keamanan yang memburuk membuat keluarga itu kesulitan kembali ke China dan sempat kehilangan komunikasi dengan pihak sekolah selama lebih dari satu bulan.
Guru dan teman-teman Radin disebut terus menanyakan keberadaannya setiap hari.
Bahkan selama bocah itu menghilang, para siswa membuat gambar serta surat penyemangat untuk diberikan ketika Radin kembali ke sekolah.Saat akhirnya muncul kembali mengenakan seragam sekolah, suasana kelas berubah emosional.
Teman-temannya langsung berlari memeluknya sambil tersenyum lega. Radin mengaku sengaja meminta gurunya merahasiakan kepulangannya agar bisa menjadi kejutan bagi teman-temannya.
“Ketika berada di Iran, saya berharap bisa kembali ke China setiap hari. Saya sangat merindukan semuanya,” ujar Radin seperti dikutip dari laporan media setempat.
Ibu Radin juga mengungkapkan rasa syukur karena keluarganya akhirnya bisa kembali dengan selamat. Selama berada di Iran, mereka disebut kerap mendengar suara ledakan dan hidup dalam kecemasan akibat perang.
Kisah haru ini memicu banjir komentar emosional di media sosial. Banyak warganet berharap dunia bisa lebih damai agar anak-anak tidak lagi menjadi korban situasi konflik dan peperangan.








