PM Israel Netanyahu: Perang Iran Belum Berakhir, China Bantu Teheran Membuat Rudal
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang melawan Iran belum berakhir sampai uranium yang diperkaya Teheran dihilangkan dan fasilitas nuklir yang tersisa dibongkar. Dia juga juga menuduh China membantu Teheran dalam pembuatan rudal.
Dalam wawancara dengan CBS yang ditayangkan pada hari Minggu, Netanyahu mengatakan Iran masih memiliki uranium yang diperkaya dan infrastruktur pengayaan operasional meskipun terjadi eskalasi militer selama berbulan-bulan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Trump Marah atas Respons Iran terhadap Proposal AS: 'Sama Sekali Tak Dapat Diterima!'
“Ini belum berakhir, karena masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya, yang harus dikeluarkan dari Iran," katanya. "Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar,” ujarnya.
Ketika ditanya bagaimana uranium dapat dihilangkan, pemimpin Zionis Israel itu menjawab: “Anda masuk dan Anda mengambilnya.”
Setelah Raih Kemenangan, Ini 5 Alasan Iran Tak Mau Berkompromi dalam Perundingan Gencatan Senjata
Netanyahu juga mengindikasikan bahwa Presiden AS Donald Trump secara umum memiliki tujuan yang sama, meskipun dia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut tentang opsi militer spesifik.“Saya tidak akan berbicara tentang cara militer, tetapi presiden, apa yang dikatakan Presiden Trump kepada saya, ‘Saya ingin masuk ke sana',” kata Netanyahu.
Pernyataan tersebut tampak lebih agresif daripada komentar publik Trump baru-baru ini tentang Iran.
Dalam wawancara terpisah yang ditayangkan pada hari Minggu, Trump mengatakan Teheran telah “dikalahkan secara militer” dan bersikeras AS tetap memiliki pengawasan penuh atas aktivitas nuklir Iran.
“Kita akan mendapatkannya pada suatu saat, kapan pun kita mau,” kata Trump, merujuk pada persediaan uranium Iran.
“Jika ada yang mendekati tempat itu, kita akan mengetahuinya dan kita akan meledakkannya.”Presiden AS menghadapi tekanan domestik yang meningkat untuk menghindari keterlibatan militer yang lebih dalam dan sebaliknya mendorong untuk mengakhiri konflik.
Namun, Netanyahu menyatakan bahwa tujuan Israel melampaui persediaan nuklir Iran. Dia menunjuk pada kelompok proksi regional Teheran dan program rudal balistik sebagai ancaman yang berkelanjutan.
“Masih ada proksi yang didukung Iran, rudal balistik mereka yang masih ingin mereka produksi,” katanya.
“Kita telah mengurangi banyak di antaranya, tetapi semua itu masih ada dan masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," imbuh dia.
Netanyahu juga menyatakan bahwa uranium berpotensi dapat dikeluarkan melalui kesepakatan yang dinegosiasikan. “Saya pikir itu bisa dilakukan secara fisik. Itu bukan masalahnya. Jika Anda memiliki kesepakatan dan Anda masuk dan mengeluarkannya, mengapa tidak? Itu cara terbaik,” kata Netanyahu.
Ketika ditanya apakah tindakan militer tetap menjadi pilihan jika negosiasi gagal, Netanyahu menolak untuk membahas detail operasional atau jadwalnya, menyebut masalah itu sebagai “misi yang sangat penting".
Dia juga mengakui kekhawatiran atas jaringan dukungan internasional Iran, menuduh bahwa China membantu Teheran dalam pembuatan rudal.
“China memberikan sejumlah dukungan (kepada Iran), dan komponen-komponen tertentu dalam pembuatan rudal,” kata Netanyahu. “Tapi saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu.”
Pemimpin Israel itu selanjutnya berpendapat bahwa melemahkan Iran pada akhirnya dapat berdampak pada kelompok-kelompok yang didukung Teheran di seluruh kawasan, termasuk Hizbullah, Hamas, dan Houthi, meskipun dia tidak sampai memprediksi runtuhnya kepemimpinan Iran.
“Apakah itu mungkin? Ya. Apakah itu dijamin? Tidak,” kata Netanyahu.








