Trump Ancam Lenyapkan Iran dari Muka Bumi Jika Serang Kapal AS, tapi Dicueki Teheran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengancam akan melenyapkan Iran dari muka bumi jika pasukan Teheran menyerang kapal-kapal Amerika yang dipandu oleh misi “Project Freedom" di Selat Hormuz. Alih-alih gentar, Iran mengabaikan ancaman itu dengan tetap menyerang kapal-kapal Washington.
Koresponden Fox News, Trey Yingst, mengatakan dia telah berbicara dengan Trump selama sekitar 20 menit mengenai situasi dengan Iran. Selama percakapan tersebut, Trump membanggakan “Project Freedom"—sebuah upaya militer AS yang bertujuan untuk memandu kapal-kapal perdagangan melewati Selat Hormuz—, dan mengeluarkan ancaman keras kepada Teheran.
Baca Juga: Iran dan AS yang Perang, Mengapa UEA yang Diserang Teheran?
Menurut Yingst, Trump menyatakan bahwa jika pasukan Iran mencoba menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz, "mereka akan lenyap dari muka bumi.”
Pada hari Senin, rudal dan drone menyerang kapal-kapal perang AS saat misi "Project Freedom" di Selat Hormuz, yang memicu repons balasan dari militer Amerika. Insiden ini meluas ketika rudal dan drone Iran juga menyerang Uni Emirat Arab.Kepala CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan militer AS telah menangkis serangan drone, rudal, dan kapal kecil bersenjata milik Iran di Selat Hormuz.“Kami telah menembak tujuh kapal kecil atau, seperti yang mereka sebut, kapal ‘cepat’,” kata Presiden Donald Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social, menambahkan bahwa Menteri Perang Pete Hegseth akan mengadakan konferensi pers pada hari Selasa (5/5/2026). Namun, Iran membantah klaim Trump tersebut.
Menambah ketegangan, UEA mengatakan telah mencegat rudal jelajah Iran dan menyalahkan serangan drone Iran atas kebakaran besar di situs minyak di Fujairah yang menyebabkan tiga orang dirawat di rumah sakit.
Negara Teluk tersebut mengeluarkan beberapa peringatan serangan rudal kepada penduduknya untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata antara Washington dan Teheran dimulai 8 April.
Peringatan tersebut dikeluarkan setelah sebuah kapal tanker minyak milik perusahaan minyak negara UEA, Abu Dhabi National Oil Co, dihantam oleh drone Iran dalam insiden terpisah di luar Selat Hormuz.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pertahanan udaranya telah mencegat 15 rudal dan empat drone yang ditembakkan oleh Iran. Hal ini juga memicu seruan agar AS dan sekutunya, Israel, memperbarui serangan terhadap Iran setelah kampanye yang sebelumnya telah menghantam ribuan target, menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat tinggi lainnya, serta menutup Selat Hormuz yang vital—menyebabkan harga energi global melonjak.
Senator Partai Republik Lindsey Graham mengatakan di X bahwa pilihan Iran untuk menyerang UEA dan kapal kargo lebih dari cukup untuk membenarkan respons yang besar, kuat, dan singkat untuk menimbulkan kerusakan lebih lanjut pada mesin perang Iran.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan serangan Iran terhadap UEA sama dengan deklarasi pembaruan perang Iran terhadap sekutu Amerika Serikat dan Israel di seluruh wilayah.








