Pakar Militer Ini Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir Jauh sebelum Iran Tembak kapal Perang AS

Pakar Militer Ini Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir Jauh sebelum Iran Tembak kapal Perang AS

Global | sindonews | Senin, 4 Mei 2026 - 20:30
share

Kantor berita Fars Iran, mengutip sumber lokal, melaporkan dua rudal menghantam kapal angkatan laut AS di dekat pulau Jask setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan dari Garda Revolusi untuk berhenti.

Serangan yang dilaporkan ini terjadi setelah Presiden Trump mengatakan AS akan memulai "Proyek Kebebasan" pada hari Senin untuk "membimbing" kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz.

Komando Pusat AS mengatakan akan mendukung upaya tersebut dengan 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta kapal perang dan drone.

Kemudian, ditanya apakah pengumuman tentara Iran tentang serangannya terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz berarti berakhirnya gencatan senjata AS-Iran, analis Foad Izadi mengatakan kepada Al Jazeera dari Teheran bahwa gencatan senjata berakhir jauh lebih awal.

“Gencatan senjata dimulai pada 7 April dan berakhir pada 8 April ketika Amerika Serikat memblokade pelabuhan Iran. Berdasarkan hukum internasional dan hukum AS, blokade adalah tindakan perang,” kata Izadi, seorang profesor di Universitas Teheran, kepada Al Jazeera.

Ia juga mengatakan bahwa 24 jam sebelum putaran kedua pembicaraan AS-Iran di ibu kota Pakistan, Islamabad, AS menembak kapal Iran sebelum menyitanya “seperti bajak laut”.

“Menyerang mesin kapal Iran juga merupakan tindakan perang, jadi ini bukan pertama kalinya ada yang menembak,” tambahnya.

Kemudian, misi angkatan laut presiden AS yang disebut Proyek Kebebasan dapat dilihat sebagai upaya terbaru Trump untuk menunjukkan bahwa "dia sedang melakukan sesuatu" tentang blokade Selat Hormuz.

"Trump juga melakukannya untuk merebut pengaruh dari Iran," kata Mohamad Elmasry, profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha, kepada Al Jazeera.Namun, rencana tersebut menimbulkan serangkaian pertanyaan, menurut analis tersebut.

“Apakah ini akan berhasil? Seperti apa jadinya jika berhasil? Apakah ini hanya upaya Trump untuk memanipulasi pasar menjelang pembukaannya pada hari Senin? Atau apakah ini upaya untuk memprovokasi Iran agar melakukan pembalasan yang akan menyebabkan perang habis-habisan?” kata Elmasry.

Pemerintah Iran melihat ini sebagai "pertempuran eksistensial" yang membutuhkan kemenangan signifikan dan kemungkinan akan menggunakan setiap alat yang dimilikinya untuk mengganggu rencana Trump, tambahnya.

Topik Menarik