Israel Larang Umat Kristen Rayakan Misa Minggu Palma di Yerusalem, Picu Kemarahan

Israel Larang Umat Kristen Rayakan Misa Minggu Palma di Yerusalem, Picu Kemarahan

Global | sindonews | Senin, 30 Maret 2026 - 08:41
share

Pemerintah Israel telah melarang umat Kristen untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci di Yerusalem. Larangan ini memicu kemarahan komunitas Nasrani.

Lantaran mendapat respons marah, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu meminta otoritas terkait pada Senin (30/3/2026) pagi untuk mengizinkan Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin, memasuki Gereja Makam Suci di Yerusalem pada Minggu Palma. "Dan mengadakan ibadah sesuai keinginannya," katanya.

Baca Juga: Trump: Sejujurnya, Hal Favorit Saya Adalah Mengambil Alih Minyak Iran!

Pada hari Minggu, Patriarkat Latin di Yerusalem mengatakan polisi Israel mencegah para pemimpin senior gereja untuk masuk dan merayakan Misa. Ini merupakan pertama kalinya larangan ini terjadi dalam beberapa abad.

“Untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, para Pemimpin Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci,” kata Patriarkat Latin dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, seperti dikutip dari CNN.

“Insiden ini merupakan preseden yang serius dan mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia yang, selama minggu ini, menantikan Yerusalem," lanjut pernyataan tersebut.

Minggu Palma menandai dimulainya Pekan Suci, periode paling sakral dalam kalender Kristen, dengan liturgi hari Minggu memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem. Gereja tersebut diyakini sebagai tempat pemakaman dan kebangkitan Yesus.

Langkah pelarangan ini diambil ketika otoritas Israel membatasi akses ke situs-situs keagamaan di Yerusalem Timur di tengah perang dengan Iran, termasuk Masjid al-Aqsa dan Tembok Barat, dengan alasan kekhawatiran keamanan. Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania dalam perang tahun 1967, dan telah berperang berkali-kali sejak itu, tetapi pembatasan akses yang luas ke situs-situs suci—terutama selama periode keagamaan besar—jarang terjadi.

Dalam pernyataannya di X, Netanyahu mengatakan: “Iran telah berulang kali menargetkan situs-situs suci dari ketiga agama monoteistik di Yerusalem dengan rudal balistik selama beberapa hari terakhir."

Dia menambahkan bahwa satu serangan menghantam hanya beberapa meter dari Gereja Makam Suci.

Polisi Israel juga mengeluarkan pernyataan yang mengkonfirmasi bahwa mereka telah menyetujui pengaturan doa terbatas di Gereja Makam Suci bekerja sama dengan perwakilan Patriark Latin, setelah penilaian situasi yang dipimpin oleh Wakil Komisaris Distrik Yerusalem Avshalom Peled dan para perwira senior lainnya. Pihak berwenang menambahkan bahwa situs-situs keagamaan utama lainnya, termasuk Lapangan Tembok Barat dan kompleks Bukit Bait Suci, tetap ditutup bagi para jemaat karena kekhawatiran akan keselamatan publik.

Pemerintah Italia telah mengkritik keputusan polisi Israel yang melarang akses ke gereja, dan berencana untuk memanggil duta besar Israel di Roma.

Patriarkat Latin telah membatalkan prosesi Minggu Palma tradisional di Yerusalem."Dua pejabat senior Gereja, termasuk Kardinal Pierbattista Pizzaballa, dihentikan di tengah jalan, saat mereka berjalan secara pribadi dan tanpa ciri-ciri prosesi atau upacara, dan dipaksa untuk berbalik,” kata Patriarkat Latin.

"Mencegah masuknya mereka merupakan tindakan yang jelas-jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional,” imbuh dia.

Patriarkat Latin juga menuduh otoritas Israel mengambil keputusan yang tergesa-gesa dan pada dasarnya cacat, yang diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat.

Kantor PM Netanyahu mengeklaim tidak ada niat jahat sama sekali dalam larangan tersebut, dan hanya kaerena kekhawatiran akan keselamatan para jemaat.

“Namun, mengingat kesucian minggu menjelang Paskah bagi umat Kristen di seluruh dunia, aparat keamanan Israel sedang menyusun rencana untuk memungkinkan para pemimpin gereja beribadah di tempat suci tersebut dalam beberapa hari mendatang,” imbuh kantor Netanyahu.

Polisi Israel mengatakan bahwa semua tempat suci di Kota Tua Yerusalem telah ditutup untuk para jemaat, terutama lokasi yang tidak memiliki ruang terlindungi standar, untuk menjaga keselamatan dan keamanan publik.“Kota Tua dan tempat-tempat suci merupakan area kompleks yang tidak memungkinkan akses bagi kendaraan darurat dan penyelamatan besar,” kata polisi dalam sebuah pernyataan.

Jumlah orang Yahudi yang diizinkan untuk berdoa di Tembok Barat di Yerusalem telah dibatasi hingga 50 orang per hari, sementara umat Muslim sepenuhnya dilarang mengakses Masjid al-Aqsa sejak perang dimulai pada akhir Februari, termasuk seluruh bulan suci Ramadan.

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, seorang pendukung Israel yang terkenal, merilis pernyataan di X yang mengkritik keputusan Israel tersebut, menyebutnya sebagai “tindakan berlebihan yang disayangkan dan telah menimbulkan dampak besar di seluruh dunia.”

Dia mencatat bahwa gereja-gereja, sinagoge, dan masjid-masjid di seluruh Yerusalem telah menerapkan pembatasan 50 orang atau kurang karena alasan keamanan. “Sulit untuk memahami atau membenarkan pelarangan masuknya Patriark ke Gereja pada Minggu Palma untuk upacara pribadi,” katanya.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan pemerintahnya mendukung Kardinal Pizzaballa dan para pemimpin agama lainnya.

“Makam Suci di Yerusalem adalah tempat suci Kekristenan, dan karena itu harus dilestarikan dan dilindungi,” tambah Meloni. "Mencegah para pemimpin gereja memasuki gereja merupakan penghinaan bukan hanya terhadap umat beriman, tetapi juga terhadap setiap komunitas yang mengakui kebebasan beragama,” kata Meloni.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan di X bahwa larangan tersebut tidak dapat diterima. Dia telah menginstruksikan duta besar Italia di Israel untuk memprotes kepada pemerintah dan akan memanggil duta besar Israel di Roma pada hari Senin.

Selama Misa di Vatikan pada hari Minggu, Paus Leo mengatakan bahwa Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki “tangan yang penuh darah".

Dia juga mengatakan bahwa doanya lebih dari sebelumnya bersama umat Kristen di Timur Tengah, yang menderita akibat konflik brutal dan, dalam banyak kasus, tidak dapat sepenuhnya menjalankan liturgi hari-hari suci ini.

Berbicara kepada puluhan ribu orang di Lapangan Santo Petrus pada Minggu Palma, perayaan yang membuka pekan suci menjelang Paskah bagi 1,4 miliar umat Katolik di dunia, Paus Leo menyebut konflik tersebut “mengerikan” dan mengatakan Yesus tidak dapat digunakan untuk membenarkan perang apa pun.

Awal bulan ini, Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab, Qatar, Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Turki mengutuk penutupan berkelanjutan kompleks Masjid al-Aqsa di Yerusalem oleh Israel bagi para jamaah Muslim.

Topik Menarik