Trump: Sejujurnya, Hal Favorit Saya Adalah Mengambil Alih Minyak Iran!
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Amerika dapat mengambil alih minyak di Iran. Dia juga mengemukakan kemungkinan merebut pusat ekspor minyak utama negara Islam itu, yakni Pulau Kharg.
Itu disampaikan Trump dalam wawancaranya dengan Financial Times, yang dikutip Iran International Senin (30/3/2026), saat AS mengirim ribuan tentara ke Timur Tengah untuk potensi invasi darat ke Iran.
“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan: ‘mengapa Anda melakukan itu?’ Tetapi mereka orang bodoh,” kata Trump.
Baca Juga: Iran Merudal Pesawat Mata-mata AS hingga Hancur Total, Ini Penampakannya
Langkah tersebut, kata Trump, akan melibatkan perebutan Pulau Kharg, pusat penempatan minyak mentah utama Iran untuk ekspor.“Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin tidak. Kita memiliki banyak pilihan,” kata Trump, menambahkan bahwa operasi apa pun kemungkinan akan membutuhkan pasukan AS untuk tetap berada di sana untuk beberapa waktu.
Trump telah meningkatkan pasukan AS di wilayah tersebut, dengan Pentagon memerintahkan pengerahan 10.000 tentara yang terlatih untuk merebut dan mempertahankan wilayah.Sekitar 3.500 tentara tiba di wilayah tersebut pada hari Jumat, termasuk sekitar 2.200 personel Korps Marinir. 2.200 personel Korps Marinir lainnya sedang dalam perjalanan, sementara ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 juga telah diperintahkan ke wilayah tersebut.
Namun, serangan terhadap pusat ekspor minyak Iran tersebut akan berisiko, meningkatkan kemungkinan lebih banyak korban jiwa di pihak AS dan memperpanjang biaya serta durasi perang.
Ketika ditanya tentang keadaan pertahanan Iran di Pulau Kharg, Trump berkata: “Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah.”
Konflik telah meluas dalam beberapa hari terakhir, dengan serangan Iran terhadap pangkalan udara di Arab Saudi pada hari Jumat yang melukai 15 tentara Amerika dan merusak pesawat pengintai E-3 Sentry AS senilai USD270 juta. Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman juga menembakkan rudal balistik ke Israel, mengancam fase eskalasi baru yang menurut para analis dapat memperburuk krisis energi global.
Namun, terlepas dari ancaman Trump untuk merebut produksi minyak Iran, presiden AS itu menekankan bahwa pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran melalui "utusan" Pakistan berjalan dengan baik.
Trump telah menetapkan tenggat waktu 6 April bagi Iran untuk menerima kesepakatan yang mengakhiri perang atau menghadapi serangan AS terhadap sektor energinya.
Ketika ditanya apakah kesepakatan gencatan senjata dapat dicapai dalam beberapa hari mendatang yang akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur air tempat seperlima minyak dunia biasanya mengalir, Trump menolak untuk memberikan rincian spesifik.
"Kita masih memiliki sekitar 3.000 target yang tersisa—kita telah mengebom 13.000 target—dan beberapa ribu target lagi yang harus dibom," katanya. “Kesepakatan bisa dibuat dengan cukup cepat.”
Pekan lalu, dia mengatakan bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz sebagai “hadiah” untuk Gedung Putih. Jumlah kapal tanker tersebut kini telah digandakan menjadi 20, katanya kepada Financial Times, yang tidak dapat segera diverifikasi.
“Mereka memberi kami 10,” katanya. “Sekarang mereka memberi 20 dan 20 kapal itu sudah mulai berlayar dan mereka langsung menuju tengah Selat [Hormuz].”





