Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Dikabarkan Dirawat di Moskow karena Terluka, Rusia: Kami Tak Komentar

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Dikabarkan Dirawat di Moskow karena Terluka, Rusia: Kami Tak Komentar

Global | sindonews | Senin, 16 Maret 2026 - 21:11
share

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada hari Senin menolak berkomentar tentang laporan media yang mengklaim pemimpin baruIran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah tiba di Moskow untuk perawatan.

"Kami tidak berkomentar tentang laporan semacam itu dengan cara apa pun," kata Peskov dalam konferensi pers di Moskow, dilansir Anadolu.

Ayah dari pemimpin saat ini, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel terhadap Iran, yang telah berlangsung sejak 28 Februari.

Baik AS maupun Israel menyatakan niat mereka untuk terus membunuh para pemimpin Iran, termasuk Mojtaba Khamenei, yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi yang baru.

Sebelumnya, surat kabar Kuwait "Al-Jarida" melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei terluka dalam serangan AS-Israel lainnya dan dibawa ke Moskow untuk perawatan.Menanggapi klaim tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran mengkonfirmasi bahwa pemimpin baru itu terluka dalam serangan tersebut, dan mengatakan bahwa ia merasa baik-baik saja. Namun, kementerian menolak untuk mengungkapkan keberadaannya.

Peskov juga menahan diri untuk tidak berkomentar tentang klaim yang dibuat oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengenai dugaan pasokan drone Moskow ke Teheran.

Juru bicara tersebut mengalihkan pertanyaan kepada Zelenskyy, dengan mengatakan: "Anda perlu menghubungi kepala rezim Kyiv, menanyakan dari mana ia mendapatkan informasi tersebut. Kami tidak berkomentar tentang pernyataan seperti itu."

Ditanya tentang kelanjutan pembicaraan yang bertujuan untuk mengakhiri konflik di Ukraina, Peskov mengatakan Rusia terbuka untuk melanjutkan proses perdamaian di Ukraina dan menunggu putaran negosiasi berikutnya.Ia mengatakan tempat dan tanggal pertemuan baru tersebut belum disepakati.

Ia juga mencatat bahwa pernyataan Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa Ukraina adalah penghalang utama dalam proses perdamaian.

"Dia (Trump) sangat menyarankan agar Zelenskyy membuat kesepakatan. Dan dari pernyataan-pernyataan ini, dapat disimpulkan bahwa pihak Ukraina adalah penghambat utama dalam proses negosiasi," kata Peskov.

Rusia dan Ukraina telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan perdamaian yang dimediasi AS pada tahun 2026. Proses tersebut terhenti oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Topik Menarik