Menteri Perang AS Pete Hegseth Ditanya Apakah Trump Stabil Secara Mental, Jawabannya Jadi Viral
Di tengah perang melawan Iran, Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth diinterogasi di Kongres mengenai "kestabilan mental" Presiden Donald Trump dan ocehan media sosialnya yang "tidak terkendali", di mana pada satu titik, Trump mengancam keselamatan seluruh peradaban Iran.
Jawaban Hegseth atas pertanyaan tersebut selama sidang di Capitol Hill sejak itu menjadi viral di media sosial, di mana dia mencoba membela presiden—alih-alih memberikan jawaban ya atau tidak secara langsung.
Dalam video dalam sidang Kongres, anggota parlemen Partai Demokrat Sara Jacobs terlihat bertanya kepada Hegseth: "Apakah Trump cukup stabil secara mental untuk menjadi panglima tertinggi?".
Baca Juga: 3 Opsi Militer Trump untuk Iran: Hujan Bom, Rebut Selat Hormuz, Ambil Uranium!
Bukannya menjawab secara langsung, Hegseth yang tampak frustrasi dengan cepat membela Presiden Trump dan bertanya apakah pertanyaan yang sama diajukan kepada pendahulu Trump, Joe Biden, selama empat tahun.Jacobs menjawab, "Joe Biden bukan presiden. Trump telah menjadi presiden selama satu setengah tahun."
Hegseth menyela: "Saya bahkan tidak akan terlibat dalam tingkat penghinaan yang Anda berikan kepada panglima tertinggi." Dia kemudian menambahkan, "Trump adalah panglima tertinggi yang luar biasa yang mengutamakan pasukan kita."Selama sidang pada hari Rabu dan Kamis, anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR dan Senat juga membahas proposal anggaran militer pemerintahan Trump tahun 2027, yang akan meningkatkan pengeluaran pertahanan menjadi USD1,5 triliun—anggaran militer terbesar sepanjang sejarah AS.
Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat, Hegseth mengatakan permintaan anggaran yang menembus rekor tebesar tersebut akan mempersiapkan pasukan AS untuk pertempuran saat ini dan masa depan sekaligus membalikkan "kurangnya investasi dan salah urus" selama bertahun-tahun.
"Anggaran USD1,5 triliun akan memastikan bahwa Amerika Serikat terus mempertahankan militer terkuat dan paling mumpuni di dunia," katanya.
Hegseth menggambarkan proposal tersebut sebagai pengaturan ulang kekuatan militer AS secara generasi, menyoroti investasi dalam kapasitas industri, senjata canggih, dan kesejahteraan pasukan. Dia menunjuk pada kenaikan gaji "tujuh persen" untuk personel militer berpangkat rendah dan mengatakan anggaran tersebut akan menghilangkan "semua barak yang buruk atau gagal"."Kemampuan suatu bangsa untuk membangun, berinovasi, dan mendukung kebutuhan penting para prajuritnya dengan cepat dan dalam skala besar adalah fondasi tempat pencegahan dan kelangsungan hidupnya bertumpu," katanya.
Kekhawatiran atas Ketangkasan Mental Trump
Di tengah kebuntuan dalam perundingan damai AS dengan Iran, Trump telah membuat unggahan yang mengancam—terkadang provokatif—di media sosial, beberapa di antaranya diunggah tengah malam, saat sebagian besar warga Amerika sedang tidur, yang memicu kekhawatiran atas ketangkasan mentalnya.Dalam satu kejadian tertentu, Trump mengancam keselamatan seluruh peradaban Iran. Dia menyatakan bahwa seluruh peradaban akan mati malam ini jika Iran tidak menerima tuntutannya.
Dia juga mengunggah gambar dirinya yang dihasilkan oleh artificial intelligence (AI), yang menggambarkannya sebagai sosok seperti Yesus Kristus dengan cahaya ilahi yang memancar dari tangannya. Trump akhirnya menghapus gambar tersebut setelah mendapat kecaman, tetapi membela diri dengan mengatakan, "Itu seharusnya saya sebagai dokter yang menyembuhkan orang."










