Sepekan Perang Melawan Iran, AS Sudah Tekor Rp102 Triliun
Amerika Serikat (AS) sudah kehilangan sekitar USD6 miliar (lebih dari Rp102 triliun) dalam pekan pertama perang bersama Israel melawan Iran. Dari jumlah itu, USD4 miliar di antaranya habis untuk membiayai amunisi dan pencegat rudal canggih.
Angka kerugian itu telah dipaparkan pejabat Pentagon kepada Kongres Amerika.
Menurut laporan New York Times, Senin (9/3/2026), Amerika menghabiskan banyak biaya untuk menembak jatuh rudal-rudal Iran.
Baca Juga: Mojtaba Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Trump: Dia Harus Dapat Persetujuan AS, Jika Tidak...
Selama diskusi di Kongres, para pejabat pertahanan senior juga mengindikasikan bahwa pendanaan lebih lanjut akan diperlukan untuk mempertahankan operasi militer dan mengisi kembali persediaan amunisi yang menipis.
Menurut laporan surat kabar Amerika tersebut, sekitar 4.000 target Iran telah dihantam, termasuk peluncur rudal, kapal Angkatan Laut, dan pertahanan udara, yang secara signifikan mengikis kemampuan Teheran untuk membalas serangan.Kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan peluncuran rudal balistik Iran telah turun 90 sejak hari pertama pertempuran, sementara serangan drone turun 83.Namun negara Islam tersebut masih memiliki persenjataan yang tangguh, termasuk sekitar 50 dari program rudalnya.
Para anggota Parlemen Amerika bersiap menghadapi permintaan anggaran tambahan dari pemerintah Presiden Donald Trump dalam beberapa minggu mendatang.
Pengeluaran yang cepat ini telah menarik perhatian dari kedua kubu politik.
Para kritikus berpendapat bahwa pencegat rudal yang mahal, beberapa di antaranya bernilai jutaan dolar, dikonsumsi dengan kecepatan yang dapat membebani basis industri pertahanan AS dan menyebabkan kekurangan di teater strategis lainnya.Perang pecah dengan serangan gabungan AS dan Israel terhadap target militer Iran, tetapi konflik tersebut sejak itu meluas ke seluruh Timur Tengah. Iran telah membalas melalui serangan rudal balistik dan drone yang membutuhkan respons pertahanan yang mahal dari Amerika dan Israel.
Saat perdebatan tentang pendanaan perang semakin intensif di Washington, para pejabat Pentagon menekankan perlunya mempertahankan momentum melawan kemampuan Iran sambil menyeimbangkan prioritas pertahanan nasional jangka panjang.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Iran membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah Timur Tengah, serta beberapa kota di Israel. Serangan terus meningkat.
Konflik ini juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi global di tengah penurunan tajam lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur utama yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.







