AS-Israel Klaim Serang Militer Iran, tapi Sekolah Dibom Tewaskan 85 Siswi SD
Serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel diklaim menargetkan situs-situs militer Iran. Namun faktanya, sebuah sekolah dasar (SD) putri di kota Minab, provinsi Hormozgan, ikut dibom, menewaskan 85 siswi.
Pihak berwenang di provinsi Hormozgan melaporkan bahwa setidaknya 85 siswi tewas dan 95 lainnya terluka. Rekaman yang diambil oleh jurnalis lokal menunjukkan bagian tubuh yang termutilasi dari anak-anak perempuan di tengah puing-puing dan reruntuhan gedung sekolah.
Baca Juga: Media Israel: Foto Jenazah Khamenei Ditunjukkan kepada Trump dan Netanyahu
Para pejabat Iran secara universal mengecam serangan itu, menggambarkannya sebagai kekejaman yang disengaja terhadap anak-anak yang tidak bersalah dan eskalasi terhadap bangsa Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengeluarkan pernyataan keras ketika berduka atas tragedi yang memilukan di SD Shajareh Tayyebah.Pezeshkian menggambarkan pengeboman gedung sekolah yang penuh dengan siswi yang tidak bersalah itu sebagai "tindakan biadab". Dia bersumpah bahwa itu akan menjadi bagian yang tak terhapuskan dari sejarah kejahatan para agresor terhadap Iran. Pernyataan Pezeshkian juga mengutuk keras tindakan tidak manusiawi tersebut dan menyerukan perawatan medis segera bagi para korban luka.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa serangan ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Dia menyebarkan gambar-gambar fasilitas yang hancur, menekankan bahwa pengeboman siang hari itu menargetkan lokasi yang penuh dengan siswi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mencatat bahwa serangan itu adalah tindakan agresi dan terorisme yang jelas. Baghaei mencatat bahwa tindakan tersebut memenuhi syarat sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Dunia harus menentang ketidakadilan yang serius ini dan Dewan Keamanan PBB harus bertindak sekarang dalam menjalankan tanggung jawab utamanya berdasarkan Piagam PBB,” tulisnya di X, seperti dikutip Tehran Times, Minggu (1/3/2026).
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menyatakan, “Keamanan dan martabat bangsa Iran adalah garis merah kami, dan tidak ada agresi yang akan dibiarkan tanpa konsekuensi.”
Aref lebih lanjut mengumumkan bahwa Republik Islam Iran akan menggunakan seluruh kapasitas hukum, politik, dan internasionalnya untuk menuntut kejahatan ini di badan-badan internasional, dan mengharapkan komunitas internasional untuk tidak tinggal diam mengenai kelanjutan tindakan agresi tersebut.










