Paspampres AS Tembak Mati Pria Bersenjata karena Terobos Keamanan Kediaman Trump

Paspampres AS Tembak Mati Pria Bersenjata karena Terobos Keamanan Kediaman Trump

Global | sindonews | Senin, 23 Februari 2026 - 10:02
share

Agen Secret Service Amerika Serikat (AS) telah menembak mati seorang pria bersenjata senapan yang menerobos perimeter keamanan kediaman Presiden Donald Trump di Mar-a-Lago, Florida. Insiden ini terjadi pada Minggu dini hari waktu setempat.

Trump berada di Washington pada saat kejadian. Menurut Secret Service, tersangka, seorang pria berusia awal 20-an, terlihat di gerbang utara properti Mar-a-Lago, membawa senapan dan jeriken bahan bakar.

Baca Juga: Secret Service Tembak Pria Bersenjata di Dekat Gedung Putih, Presiden Trump Dipastikan Aman

Secret Service merupakan agen federal yang bertugas sebagai pasukan pengamanan presiden (paspampres) AS dan keluarganya.

Para agen menghadapi pria itu dan menyuruhnya untuk meletakkan senjatanya, tetapi dia malah mengangkat senapannya.

“Satu-satunya kata yang kami ucapkan kepadanya adalah ‘jatuhkan barang-barang itu',” kata Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, kepada wartawan.“Pada saat itu dia meletakkan jeriken bahan bakar, mengangkat senapan ke posisi menembak,” ujar Bradshaw, seperti dikutip dari AFP, Senin (23/2/2026).

Seorang deputi dan dua agen Secret Service kemudian menembaknya. Pria itu dinyatakan tewas dan tidak ada petugas AS yang terluka.

Secret Service mengatakan tidak ada seorang pun di bawah perlindungannya yang berada di Mar-a-Lago pada saat itu.

Bradshaw, sheriff Palm Beach, mengidentifikasi pria bersenjata tersebut sebagai Austin Tucker Martin (21) tahun, penduduk sebuah kota kecil di North Carolina sekitar 700 mil (1127 kilometer) di utara Mar-a-Lago.

Martin adalah seorang ilustrator lanskap dan lapangan golf, dan memiliki seorang kakak perempuan yang meninggal tiga tahun lalu pada usia 21 tahun.

Kekerasan Politik Meningkat

Trump, yang sering menghabiskan akhir pekannya di Mar-a-Lago, telah menjadi target beberapa rencana atau upaya pembunuhan.

Awal bulan ini, Ryan Routh (59), yang merencanakan pembunuhan terhadap Trump di lapangan golf Florida pada September 2024, dua bulan sebelum pemilu AS, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Serangan yang direncanakan Routh terhadap Trump terjadi dua bulan setelah upaya pembunuhan terhadap presiden dari Partai Republik tersebut di Pennsylvania, di mana Matthew Crooks yang berusia 20 tahun melepaskan beberapa tembakan selama kampanye Trump. Salah satu peluru menyerempet telinga kanan Trump.

Serangan itu, di mana seorang peserta kampanye tewas, terbukti menjadi titik balik dalam kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan. Peristiwa itu menghasilkan foto terkenal Trump yang berlumuran darah mengangkat tinjunya ke arah kerumunan dan mendesak para pengikutnya untuk "berjuang".

Crooks segera ditembak dan dibunuh oleh pasukan keamanan dan motifnya tetap tidak diketahui.Kekerasan politik telah meningkat di negara yang sangat terpolarisasi di mana wacana politik menjadi semakin agresif dan provokatif.

Pada September tahun lalu, tokoh berpengaruh sayap kanan dan sekutu setia Trump, Charlie Kirk, ditembak mati selama acara di sebuah universitas di Utah.

Sebelumnya, pada bulan Juni, seorang penembak bertopeng membunuh anggota Parlemen Minnesota, Melissa Hortman, seorang politisi Partai Demokrat, dan suaminya di rumah mereka. Seorang pejabat terpilih lainnya dan istrinya juga menjadi sasaran dan terluka parah.

Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro—yang tahun lalu disebut-sebut sebagai calon presiden AS—rumahnya dibakar pada bulan April dalam dugaan upaya pembunuhan.

Secret Service AS bertanggung jawab atas keselamatan presiden, wakil presiden, dan mantan presiden, serta keluarga mereka, serta kandidat pemilu dan kepala negara asing yang berkunjung.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyalahkan Partai Demokrat atas penutupan (shutdown) sebagian pemerintah yang sedang berlangsung yang memengaruhi Departemen Keamanan Dalam Negeri(DHS)—yang mencakup Secret Service.

Partai Demokrat menentang pendanaan baru untuk DHS sampai perubahan besar diterapkan dalam cara pemerintahan Trump menjalankan kampanye deportasi besar-besaran dan seringkali penuh kekerasan.

Topik Menarik