Pejabat Zionis Israel Waswas Mesir dan Turki Ikut-ikutan Kembangkan Senjata Nuklir
Seorang pejabat Zionis Israel mendesak pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu waspada atas apa yang dia gambarkan sebagai kemungkinan ambisi nuklir di antara kekuatan regional, termasuk Mesir dan Turki.
Yuval Steinitz, ketua dewan direksi Rafael Advanced Defence Systems, sebuah perusahaan teknologi pertahanan dan militer milik negara Israel, mengatakan Israel sedang mempersiapkan kemungkinan bahwa negosiasi Amerika Serikat (AS) dengan Iran dapat runtuh dan konflik meningkat. Namun, dia menekankan apa yang disebutnya sebagai "risiko regional yang lebih luas".
Baca Juga: Pangeran Arab Saudi: Zionis Ingin Wujudkan Israel Raya dari Nil hingga Eufrat
Pernyataan Steinitz muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut atas program nuklir Iran, menjelang dimulainya kembali perundingan antara Washington dan Teheran di Jenewa pada hari Selasa (17/2/2026). Masih ada kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat melakukan serangan militer terhadap Iran.
Dalam sebuah wawancara dengan Yedioth Ahronoth, Steinitz mengatakan: “Negara seperti Israel harus mengkhawatirkan segalanya, dan kita harus memantau dengan cermat negara-negara lain di Timur Tengah, seperti Mesir dan Turki, untuk memastikan mereka tidak secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir.”Dia menegaskan kembali posisi Israel yang telah lama dipegang bahwa Iran yang bersenjata nuklir akan menimbulkan ancaman yang lebih besar daripada persenjataan rudal yang dimilikinya saat ini. “Saya lebih memilih hidup di bawah ancaman 10.000 rudal balistik daripada di bawah ancaman satu bom nuklir,” katanya, merujuk pada Iran.
Steinitz juga mengatakan bahwa sistem pertahanan udara berlapis Israel akan mencegat setiap serangan.
Dia menambahkan bahwa dia mengharapkan Amerika Serikat akan memainkan peran operasional yang lebih besar dalam konflik di masa depan, dengan menunjuk pada pangkalan udara AS di dekat Iran dan kapal induk yang dapat membantu menargetkan sistem rudal musuh.
Tidak jelas mengapa pejabat Zionis tersebut khawatir Mesir dan Turki ikut-ikutan mengembangkan senjata nuklir secara diam-diam. Sejauh ini tak ada indikasi yang menguatkan kekhawatiran tersebut.
Iran Latihan Perang sambil Berunding dengan AS
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada hari Senin memulai serangkaian latihan perang di Selat Hormuz. Manuver ini dimulai menjelang perundingan Iran dengan AS dan pada saat kapal induk Amerika, USS Abraham Lincoln, terlacak satelit berada di dekat wilayah negara Islam tersebut.Menurut siaran televisi pemerintah Iran, latihan perang ini, yang durasinya tidak ditentukan, bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi potensi ancaman keamanan dan militer di Selat Hormuz setelah Amerika mengerahkan kekuatan Angkatan Laut yang besar ke kawasan tersebut.Para politisi garis keras Iran telah berulang kali mengancam akan memblokir selat tersebut, terutama selama masa ketegangan yang meningkat dengan Amerika Serikat, tetapi selat itu tidak pernah ditutup.
Sekitar seperempat dari seluruh minyak yang diangkut melalui laut dan seperlima dari gas alam cair dunia melewati selat tersebut, menurut Badan Energi Internasional.
Rangkaian latihan perang Iran, yang diawasi oleh Kepala IRGC Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan IRGC untuk bereaksi cepat, menurut lapor media Iran. IRGC adalah sayap ideologis militer Iran.
IRGC memulai latihan dari Pulau Abu Musa—titik teritorial paling selatan Iran—dengan Pakpour mengatakan pasukan membangun "benteng yang kuat di sekitar pulau."Laporan televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa unit-unit berbasis pulau di Teluk dapat beroperasi tanpa dukungan daratan. "Dengan rudal yang mampu menghancurkan kapal perusak musuh dalam radius 1.000 kilometer," bunyi siaran televisi tersebut, yang dikutip AFP, Selasa (17/2/2026).
Laporan itu juga menunjukkan video buram sebuah drone, tetapi menghindari memberikan detail operasional, yang tetap dirahasiakan.
Latihan tersebut berlangsung ketika Teheran dan Washington bersiap untuk putaran perundingan baru di Jenewa pada hari Selasa, yang dimediasi oleh Oman. Hal ini juga terjadi pada saat pengerahan militer AS yang besar di wilayah tersebut.
Dua negara yang telah lama bermusuhan tersebut melanjutkan negosiasi pada 6 Februari di Oman, yang pertama sejak diplomasi runtuh Juni lalu ketika Israel memicu perang 12 hari dengan serangan mendadak terhadap Iran, yang sempat diikuti Amerika Serikat dengan menyerang fasilitas nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump telah menekan Iran untuk mencapai kesepakatan, terutama dengan pengerahan pasukan Angkatan Laut AS baru-baru ini ke wilayah tersebut yang dia gambarkan sebagai "armada besar".Setelah mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang pengawal ke Teluk pada bulan Januari, Trump mengatakan pada hari Jumat pekan lalu bahwa kapal induk super kedua, USS Gerald R. Ford, akan berangkat segera ke Timur Tengah.
Pada hari Senin, pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh memperingatkan, "Semua kapal asing di wilayah tersebut berada di bawah pengawasan intelijen penuh dan dalam jangkauan kekuatan pertahanan kami."
"Angkatan bersenjata sepenuhnya siap, memantau pergerakan musuh dan tidak pernah mengabaikan ancaman," paparnya, yang dilansir IRNA.










