Israel Buka Rafah Setelah 2 Tahun, Tapi Warga Gaza Dibatasi Ketat

Israel Buka Rafah Setelah 2 Tahun, Tapi Warga Gaza Dibatasi Ketat

Global | okezone | Senin, 2 Februari 2026 - 06:27
share

GAZA – Israel dilaporkan membuka kembali sebagian penyeberangan Rafah di Gaza sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “operasi percontohan”, setelah perbatasan vital tersebut ditutup selama hampir dua tahun. Pergerakan warga dijadwalkan mulai berlangsung pada Senin (2/2/2026), dengan jumlah terbatas.

Media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sekitar 150 warga diperkirakan akan meninggalkan Gaza setiap hari, sementara hanya sekitar 50 orang yang diizinkan kembali ke wilayah tersebut. Pembukaan ini dilakukan di tengah situasi keamanan yang masih memanas, meskipun gencatan senjata secara resmi diberlakukan.

Penyeberangan Rafah merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk Gaza yang tidak dikendalikan langsung oleh Israel dan menjadi pintu utama bagi warga sipil, pasien medis, serta distribusi bantuan kemanusiaan. Namun, perbatasan ini ditutup sejak Mei 2024, ketika pasukan Israel mengambil alih wilayah tersebut selama operasi militer besar-besaran di Gaza.

 

COGAT, badan Kementerian Pertahanan Israel yang mengoordinasikan urusan sipil Palestina, menyatakan pada Minggu bahwa penyeberangan Rafah dibuka untuk lalu lintas terbatas bagi penduduk saja. Operasi ini dilakukan dengan koordinasi Mesir, pengawasan Uni Eropa, serta pemeriksaan keamanan individu oleh Israel.

 

Seorang pejabat kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa sekitar 200 pasien saat ini menunggu izin untuk keluar dari wilayah tersebut guna mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, seorang pejabat Palestina menyebutkan, bahwa sekitar 40 warga Palestina yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina telah tiba di sisi Mesir untuk kemudian masuk ke Gaza dan mulai bertugas.

Pembukaan kembali Rafah dilakukan tak lama setelah Israel mengumumkan penemuan dan pemakaman jenazah Ran Gvili, sandera Israel terakhir yang ditahan di Gaza. Sebelumnya, Israel menegaskan tidak akan membuka kembali penyeberangan tersebut sebelum jenazah Gvili dikembalikan.

COGAT menyebut langkah ini sebagai “fase uji coba awal”, seraya menambahkan bahwa persiapan sedang dilakukan untuk memungkinkan pengoperasian penuh penyeberangan Rafah dalam waktu dekat. Meski demikian, hingga kini belum ada kesepakatan pasti mengenai jumlah warga Palestina yang akan diizinkan keluar atau masuk.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak agar perbatasan Rafah dibuka sepenuhnya, tidak hanya untuk pergerakan warga, tetapi juga kargo kemanusiaan dan sektor swasta. Menurut PBB, akses tersebut sangat penting untuk memulihkan perekonomian Gaza yang lumpuh akibat konflik berkepanjangan.

Dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Wakil Koordinator Timur Tengah PBB Ramiz Alakbarov menyoroti berbagai hambatan yang dihadapi pekerja kemanusiaan, termasuk penundaan dan penolakan kargo di perbatasan serta keterbatasan rute distribusi di dalam Gaza.

Meski pembukaan Rafah memunculkan secercah harapan bagi warga Gaza, banyak pihak menilai langkah ini masih jauh dari cukup untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah tersebut.

Topik Menarik