Sering Body Shaming Orang Lain? Ini Peringatan Al-Qur'an
Sebagaimana perundungan (bullying), body shamingtermasuk tindakan yang dapat menyakiti orang lain secara verbal. Pelakunya mungkin merasa sedang bercanda atau sekadar melontarkan komentar spontan. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, ucapan tersebut bisa meninggalkan luka emosional yang tidak mudah dilupakan.
Di era media sosial, perilaku ini semakin mudah dilakukan. Seseorang dapat melontarkan komentar tentang bentuk tubuh, warna kulit, wajah, atau kekurangan fisik orang lain melalui kolom komentar tanpa memikirkan dampaknya.
Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan.
Allah SWT menegaskan pentingnya menjaga kehormatan sesama manusia dalam Al-Qur'an. Salah satunya melalui firman-Nya dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:Baca juga:Body Shaming, Bukan Sekadar Bercanda tetapi Bisa Menjadi Dosa
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan beragam latar belakang dan karakteristik. Perbedaan itu mencakup suku, bangsa, warna kulit, rambut, bentuk wajah, hingga postur tubuh.
Keragaman tersebut bukan alasan untuk saling merendahkan. Sebaliknya, Allah SWT memerintahkan manusia agar saling mengenal dan membangun hubungan yang dilandasi penghormatan.Dalam ayat itu pula ditegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh penampilan fisik, kekayaan, ataupun kedudukan sosial, melainkan oleh ketakwaannya.
Karena itu, menjadikan kekurangan fisik seseorang sebagai bahan tertawaan merupakan perilaku yang bertentangan dengan semangat penghormatan terhadap sesama manusia.
Islam Melarang Saling Mengolok-olok
Larangan menghina orang lain juga ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11. Allah SWT berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (QS Al-Hujurat: 11).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa seseorang tidak boleh merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena memiliki penampilan fisik yang dianggap ideal oleh masyarakat.Mengolok-olok tubuh seseorang, baik secara langsung maupun melalui media sosial, dapat menjadi bentuk penghinaan yang merendahkan martabatnya. Apalagi jika komentar tersebut dilakukan berulang kali hingga membuat korban merasa malu, minder, atau terasing dari lingkungan sosialnya.
Tidak sedikit orang yang menganggap ejekan fisik sebagai bahan candaan biasa. Namun, ukuran sebuah candaan tidak semata-mata ditentukan oleh niat orang yang melontarkannya. Dampak ucapan terhadap orang lain juga perlu diperhatikan.
Perjalanan Cinta Andre Taulany dan Amanda Rigby, Ketemu di Acara TV hingga Akhirnya Menikah
Baca juga:Benarkah Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan? Begini Penjelasan Al Quran!









