Kenapa Lagu The Hanging Tree dari The Hunger Games Identik dengan Simbol Perlawanan?
JAKARTA, iNews.id - Lagu The Hanging Tree kembali menjadi sorotan setelah dimainkan dalam aksi demonstrasi pelajar di Paris, Prancis. Lagu dari waralaba film The Hunger Games ini bukan sekadar musik dengan melodi yang terdengar sendu. Di baliknya, tersimpan kisah eksekusi, penindasan, dan pemberontakan yang membuatnya identik dengan semangat perlawanan.
Lagu tersebut dimainkan oleh Orchestre du Nouveau Monde saat mendukung demonstrasi pelajar di Paris pada Selasa (13/10/2026). Beberapa hari kemudian, kelompok orkestra yang sama kembali menjadi perhatian ketika pertunjukan mereka di Place de la République pada Sabtu (17/10/2026) terhenti akibat gas air mata.
Menurut laporan Le Monde, gas air mata mulai menyebar ketika orkestra memainkan The Hanging Tree. Insiden tersebut membuat pertunjukan mereka hanya berlangsung sekitar 20 menit sebelum para musisi harus meninggalkan lokasi.
Lantas, mengapa lagu ini begitu lekat dengan simbol perlawanan? Jawabannya tidak terlepas dari kisah yang melatarbelakangi lagu tersebut dalam semesta The Hunger Games.
Berawal dari Kisah Kelam di District 12
The Hanging Tree berasal dari dunia fiksi Panem dalam novel karya Suzanne Collins. Lagu tersebut pertama kali diperkenalkan dalam novel The Hunger Games, kemudian mendapat peran penting dalam film The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 yang dirilis pada 2014.
Dalam kisah aslinya, lagu ini memiliki latar yang kelam. Prekuel The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes mengungkap bahwa lagu tersebut diciptakan Lucy Gray Baird, karakter yang diperankan Rachel Zegler dalam film adaptasinya.
Lucy Gray menulis lagu itu setelah menyaksikan eksekusi Arlo Chance di District 12. Arlo dituduh membunuh dua penjaga perdamaian dan seorang bos tambang batu bara. Peristiwa tersebut menjadi latar bagi lagu yang memuat gambaran tentang seseorang yang digantung dan kekasih yang dipanggil untuk menemuinya.
Kisah di balik lagu itu mempertemukan cinta, kematian, hukuman, dan ketakutan yang muncul di bawah kekuasaan represif. Karena itu, The Hanging Tree sejak awal tidak memiliki nuansa seperti lagu cinta biasa.
Latar tersebut juga membuat lagu ini menyimpan makna yang lebih luas daripada cerita tentang dua orang. Di dalamnya terdapat gambaran tentang kekerasan dan kehidupan masyarakat yang berada di bawah kekuasaan yang menakutkan.
Katniss Everdeen Mengubahnya Menjadi Simbol Pemberontakan
Makna The Hanging Tree semakin kuat ketika lagu tersebut dinyanyikan Katniss Everdeen, karakter utama yang diperankan Jennifer Lawrence dalam film The Hunger Games: Mockingjay – Part 1.
Katniss mengenal lagu itu sejak kecil dari ayahnya. Namun, setelah ayahnya meninggal, lagu tersebut menjadi kenangan yang menyimpan pengalaman pahit keluarganya.
Dalam film, Katniss menyanyikan The Hanging Tree ketika kembali ke District 12 bersama tim yang merekam perjuangannya. Rekaman tersebut kemudian disebarkan sebagai bagian dari propaganda pihak pemberontak untuk melawan Capitol, pemerintahan otoriter yang menguasai Panem.
Di sinilah fungsi lagu itu berubah. Musik yang semula menceritakan kisah tragis menjadi seruan yang membangkitkan semangat masyarakat untuk menentang penguasa.
Lagu tersebut bukan hanya menggambarkan penderitaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dapat memperoleh makna politik baru.
Dalam konteks film, The Hanging Tree akhirnya menjadi salah satu simbol perlawanan terhadap Capitol.
Mengapa Lagu Ini Dianggap sebagai Lagu Perlawanan?
Ada beberapa hal yang membuat The Hanging Tree identik dengan pemberontakan.
Pertama, cerita di baliknya berkaitan dengan hukuman mati dan kekuasaan yang menimbulkan ketakutan. Gambaran tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat District 12 yang berada di bawah kendali Capitol.
Kedua, lagu ini memiliki makna yang berubah mengikuti konteks. Bagi sebagian karakter, lagu tersebut merupakan kenangan pribadi yang menyakitkan. Namun, ketika dinyanyikan Katniss dan disebarkan kepada masyarakat, lagu yang sama berkembang menjadi simbol perlawanan.
Ketiga, musiknya terdengar sederhana dan menyerupai balada rakyat. Bentuk seperti ini membuatnya terasa seperti lagu yang dapat diwariskan dan dinyanyikan bersama, bukan sekadar musik latar sebuah film.
Perjalanan Cinta Andre Taulany dan Amanda Rigby, Ketemu di Acara TV hingga Akhirnya Menikah
Perpaduan antara kisah tragis, melodi yang mudah dikenali, dan penggunaannya dalam gerakan pemberontakan menjadikan The Hanging Tree memiliki daya simbolis yang kuat.
Dalam cerita The Hunger Games, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Lagu tersebut juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan ketika kekuasaan berusaha mengendalikan masyarakat dan informasi.
The Hanging Tree Menggema di Tengah Demonstrasi Paris
Makna simbolis tersebut kembali menarik perhatian ketika The Hanging Tree dimainkan dalam demonstrasi pelajar di Paris pada Oktober 2026.
Orchestre du Nouveau Monde hadir untuk mendukung gerakan pelajar yang menyuarakan persoalan pendidikan, termasuk kekurangan guru dan kondisi ruang kelas. Kelompok musik tersebut dikenal menggunakan seni untuk menyampaikan aspirasi mengenai persoalan sosial dan lingkungan.
Pada 13 Oktober, para musisi tampil di Place de l'Hôtel de Ville. Mereka memainkan sejumlah lagu dalam demonstrasi tersebut, termasuk The Hanging Tree.
Pada Sabtu (17/10/2026), kelompok yang sama kembali menggelar pertunjukan di Place de la République. Namun, suasana berubah ketika gas air mata menyebar di sekitar lokasi. Menurut Le Monde, insiden tersebut terjadi saat orkestra memainkan The Hanging Tree, sehingga konser terpaksa dihentikan.
Peristiwa ini menghadirkan gambaran yang kuat: lagu yang dikenal sebagai simbol pemberontakan dalam film terdengar di tengah demonstrasi nyata yang diwarnai ketegangan.
Meski demikian, tidak ada keterangan yang memastikan bahwa lagu tersebut sengaja dipilih untuk menyindir aparat atau pemerintah Prancis. Makna perlawanan yang melekat pada lagu itu berasal dari cerita The Hunger Games, sedangkan tujuan khusus pemilihannya dalam demonstrasi perlu didasarkan pada pernyataan langsung para musisi.
Pada akhirnya, The Hanging Tree menjadi contoh bagaimana sebuah lagu fiksi dapat melampaui layar film. Ketika dimainkan dalam konteks yang berbeda, maknanya dapat kembali ditafsirkan oleh pendengar, terutama saat musik bertemu dengan persoalan kebebasan, ketidakadilan, dan aspirasi masyarakat.









