Sudah Operasi Katarak tapi Masih Harus Pakai Kacamata? Ini Penjelasan Dokter

Sudah Operasi Katarak tapi Masih Harus Pakai Kacamata? Ini Penjelasan Dokter

Gaya Hidup | inews | Rabu, 30 September 2026 - 16:06
share

JAKARTA, iNews.id - Operasi katarak identik dengan harapan penglihatan kembali jelas. Namun, menjalani operasi katarak tidak selalu berarti pasien bisa langsung terbebas dari kacamata.

Hal ini berkaitan dengan tujuan operasi, kondisi mata pasien, serta jenis lensa intraokular atau intraocular lens (IOL) yang ditanam untuk menggantikan lensa mata yang sudah keruh.

Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih mengalami kekeruhan. Kondisi tersebut dapat membuat penglihatan menjadi buram seperti berkabut, lebih mudah silau, hingga menyebabkan warna terlihat berbeda.

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics dr Milzan Murtadha, SpM. (Foto: Istimewa)

Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals and Clinics dr Milzan Murtadha, SpM, mengatakan keberhasilan operasi katarak tidak hanya dilihat dari kemampuan pasien melihat lebih jelas, tetapi juga dari kualitas penglihatan yang mendukung aktivitas sehari-hari.

"Tujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari," ungkap dr Milzan, Rabu (30/9/2026).

Dia melanjutkan, "Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pendekatan operasi serta pilihan lensa yang paling sesuai."

Mengapa Setelah Operasi Katarak Masih Bisa Membutuhkan Kacamata?

Operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa alami mata yang keruh dan menggantinya dengan IOL. Namun, jenis lensa yang digunakan memiliki karakteristik dan titik fokus yang berbeda.

Salah satunya adalah lensa monofokal. Lensa ini memiliki satu titik fokus dan umumnya ditujukan untuk membantu penglihatan jarak jauh. Setelah menggunakan lensa tersebut, pasien masih dapat membutuhkan kacamata untuk aktivitas pada jarak lain, seperti membaca, sesuai dengan target koreksi yang ditentukan.

Sementara itu, terdapat lensa multifokal yang dirancang untuk mendukung penglihatan pada jarak jauh, menengah, dan dekat. Pilihan ini dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap kacamata untuk berbagai aktivitas, meski hasilnya tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Ada pula lensa EDOF atau Extended Depth of Focus yang memberikan rentang penglihatan dengan manfaat yang lebih dominan pada jarak menengah. Jenis lensa ini dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pasien yang banyak melakukan aktivitas seperti menggunakan komputer atau melihat dashboard kendaraan.

Untuk pasien dengan astigmatisme atau mata silinder, tersedia pula lensa toric yang ditujukan untuk membantu mengoreksi kondisi tersebut. Lensa toric dapat dikombinasikan dengan jenis lensa tertentu sesuai kebutuhan pasien.

Tidak Ada Satu Lensa yang Cocok untuk Semua Pasien

Pemilihan lensa tidak seharusnya dilakukan hanya berdasarkan keinginan untuk bebas kacamata. Dokter perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum menentukan pilihan.

"Tidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi," jelas dr Milzan.

Menurut dia, berbagai faktor tersebut perlu dibicarakan antara dokter dan pasien agar pilihan lensa sesuai dengan kondisi mata sekaligus kebutuhan visual masing-masing.

Dengan demikian, pasien yang masih menggunakan kacamata setelah operasi katarak tidak serta-merta berarti tindakan tersebut gagal. Kebutuhan kacamata dapat berkaitan dengan target penglihatan yang ditetapkan sebelum operasi dan karakteristik lensa yang digunakan.

Operasi Katarak Bukan Hanya soal Penglihatan Jelas

Kebutuhan penglihatan masyarakat juga semakin beragam, termasuk pada usia lanjut. Banyak orang tetap aktif membaca, bekerja, menggunakan perangkat digital, berkendara hingga bepergian.

Karena itu, konsep quality of vision atau kualitas penglihatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan katarak.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak sepanjang 2025. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi 81,2 persen.

Sementara itu, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas telah mencapai 11,97 persen dari total populasi Indonesia.

Kondisi tersebut membuat kesehatan mata menjadi semakin penting untuk menjaga kemampuan masyarakat lanjut usia agar tetap aktif dan mandiri.

Dokter Milzan menegaskan bahwa perkembangan teknologi memberikan semakin banyak pilihan dalam operasi katarak. Namun, keputusan mengenai tindakan dan jenis lensa tetap perlu disesuaikan dengan kondisi pasien.

"Teknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya," tuturnya.

Karena itu, pasien yang mengalami katarak sebaiknya tidak menentukan pilihan lensa hanya berdasarkan pengalaman orang lain. Pemeriksaan mata secara menyeluruh dan diskusi dengan dokter diperlukan untuk menentukan target penglihatan serta pilihan penanganan yang sesuai.

Topik Menarik