Salah Memilih Teman Bisa Jadi Petaka, Ini Adab Berteman dalam Islam

Salah Memilih Teman Bisa Jadi Petaka, Ini Adab Berteman dalam Islam

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 28 September 2026 - 05:15
share

Salah memilih temanbisa membawa seseorang kepada masalah dan petaka. Fenomena ini kerap terlihat dalam berbagai persoalan sosial, termasuk kasus selebritas yang menjadi sorotan setelah hubungan pertemanan berujung pada saling lapor ke kepolisian.

Lantas, bagaimana sebenarnya Islam mengatur pertemanan? Adakah kriteria tertentu yang perlu diperhatikan seorang Muslim ketika memilih teman?

Dalam Islam, pertemanan bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga bagian dari hablum minannas atau hubungan baik antarsesama manusia. Jika dijalani dengan adab yang benar dan dilandasi karena Allah Ta'ala, hubungan pertemanan dapat menjadi jalan meraih pahala sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah Muhammad memberikan teladan dalam menjalin hubungan dengan para sahabat. Beliau senantiasa menjaga perkataan, menghormati perasaan orang lain, serta mengedepankan akhlak mulia ketika berinteraksi.

Rasulullah bersabda:أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Baca juga:Mengemis Jadi Profesi, Ini Ancaman Keras Rasulullah SAWHadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Karena itu, ketika berbicara dengan teman, hendaknya menggunakan perkataan yang baik, lembut, dan tidak menyakiti perasaan.

Saling Menasihati dalam Kebaikan

Adab pertemanan lainnya yang tidak boleh ditinggalkan adalah saling menasihati dalam kebaikan. Seorang Muslim hendaknya tidak hanya menjadi teman ketika senang, tetapi juga saling mengingatkan ketika saudaranya melakukan kekeliruan.

Allah Ta'ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS Ali Imran: 110).Menurut Ustaz Abu Ihsan Al-Atsari, terdapat beberapa kriteria yang perlu diperhatikan seorang Muslim dalam memilih teman.

1. Memilih Teman yang Mukmin

Rasulullah bersabda:

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

"Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang Mukmin, dan janganlah makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertakwa." (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Teman yang baik semestinya dapat membawa kita semakin dekat kepada kebaikan dan mengingatkan ketika mulai lalai.

2. Menghindari Teman yang Jahil

Teman yang jahil atau bodoh dapat membawa pengaruh buruk dalam pergaulan. Ia cenderung menolak kebenaran, tidak menggunakan akal secara baik, serta mudah terpancing emosi hanya karena persoalan sepele.

Pergaulan dengan orang semacam ini berpotensi menimbulkan berbagai persoalan. Alih-alih saling menguatkan dalam kebaikan, hubungan tersebut justru dapat menjadi beban dan menyeret seseorang ke dalam perilaku yang tidak terpuji.

3. Memilih Teman yang Berakhlak Mulia

Akhlak menjadi salah satu pertimbangan penting dalam memilih sahabat. Tidak banyak manfaatnya menjalin kedekatan dengan orang yang gemar berbohong, pemarah, kikir, penakut, mengikuti hawa nafsu, atau tidak berusaha memperbaiki akhlaknya.

Sebaliknya, pertemanan dengan orang yang memiliki akhlak baik dapat menjadi sarana untuk saling mengingatkan dan meneladani kebiasaan yang terpuji.

4. Berhati-hati dalam Pergaulan yang Membawa Syubhat

Ustaz Abu Ihsan Al-Atsari juga mengingatkan agar seorang Muslim berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan yang dapat membawa kepada pemahaman atau praktik keagamaan yang menyimpang.Syubhat yang terus-menerus didengar dapat memengaruhi seseorang, terlebih jika diterima tanpa pengetahuan dan pemahaman yang memadai. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga lingkungan pergaulannya agar tidak mudah terbawa kepada sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan agama.

Saling Memberi Hadiah

Selain menjaga ucapan dan saling menasihati, pertemanan juga dapat diperkuat dengan saling memberi hadiah. Hadiah tidak harus mahal atau mewah. Pemberian sederhana pun dapat menjadi bentuk perhatian yang menumbuhkan kasih sayang.

Rasulullah bersabda:

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

"Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad).

Islam juga mengingatkan bahwa lingkungan pertemanan dapat memberikan pengaruh terhadap diri seseorang. Karena itu, memilih teman bukan perkara yang sepele.

Rasulullah bersabda:الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

"Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya teman." (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadis tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak sembarangan memilih lingkungan pergaulan. Teman bukan hanya seseorang yang menemani dalam keseharian, tetapi juga dapat memengaruhi kebiasaan, cara berpikir, akhlak, bahkan perjalanan seseorang dalam menjalankan agamanya.

Karena itu, membangun pertemanan hendaknya tidak hanya didasarkan pada kesamaan kesenangan, tetapi juga mempertimbangkan akhlak, ketakwaan, dan pengaruh yang ditimbulkannya.

Baca juga:Kapan Mengemis Dibolehkan? Ini Penjelasan dalam Islam

Topik Menarik