Beda Masuk Angin dan Serangan Jantung, Jangan Salah Kira Kenali Gejalanya
JAKARTA, iNews.id - Beda masuk angin dan serangan jantung penting dikenali karena sejumlah keluhan yang dirasakan tubuh terkadang dianggap sebagai kondisi ringan. Badan terasa tidak enak, lemas, berkeringat, atau merasa seperti masuk angin bisa saja membuat seseorang menunda pemeriksaan, padahal pada kondisi tertentu keluhan tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Istilah “masuk angin” sendiri merupakan istilah yang umum digunakan masyarakat untuk menggambarkan berbagai keluhan seperti badan tidak enak, lemas, meriang, atau tidak nyaman. Kondisi tersebut bukan merupakan diagnosis medis tertentu sehingga penyebabnya tidak bisa dipastikan hanya dari istilah tersebut.
Sementara itu, serangan jantung merupakan kondisi medis serius yang terjadi ketika aliran darah menuju otot jantung terganggu. Chairman & Founder Siloam Heart Hospital sekaligus Professor in Interventional Cardiology, Profesor dr Harry Suryapranata, MD, PhD, FESC, FACC, FIHA menjelaskan, serangan jantung akut terjadi ketika pembuluh darah koroner yang sebelumnya mengalami penyempitan kemudian tersumbat secara tiba-tiba oleh bekuan darah.
Salah satu persoalan yang dapat terjadi adalah pasien tidak langsung menyadari bahwa keluhan yang dialaminya membutuhkan pertolongan medis. Prof Harry pun membagikan pengalaman terkait seorang pasien serangan jantung yang sempat mengira kondisinya sebagai “masuk angin”.
Pasien tersebut bahkan sempat menjalani kerokan sebelum akhirnya mendapatkan penanganan di rumah sakit. Pengalaman tersebut menjadi gambaran pentingnya tidak langsung menyimpulkan penyebab keluhan hanya berdasarkan istilah yang umum digunakan sehari-hari.
Pada serangan jantung, keluhan dapat berupa rasa nyeri atau tidak nyaman di dada. Kondisi tersebut juga dapat disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa tidak nyaman yang menjalar ke bagian tubuh lain. Gejala yang muncul dapat berbeda pada setiap orang.
Karena itu, keluhan yang terasa berat, muncul secara tiba-tiba, menetap, atau disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan perlu mendapat perhatian lebih. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Prof Harry menjelaskan, penanganan serangan jantung akut memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan keputusan medis yang cepat. Ketika pembuluh darah mengalami sumbatan total, tujuan utama penanganan adalah mengembalikan aliran darah ke otot jantung sesegera mungkin.
“Logikanya, kalau pembuluh darah tersumbat, harus dibuka secepat mungkin,” kata Prof Harry dalam Media Session Heart Festival 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).
Dia juga menjelaskan mengenai terapi trombolitik yang digunakan pada kondisi tertentu untuk membantu mengatasi bekuan darah.
“Dulu kita punya thrombolytic therapy, yaitu kita kasih blood thinner. Tapi itu ada komplikasinya, yaitu perdarahan,” ujar Prof Harry.
Terapi trombolitik memiliki risiko sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien dan pertimbangan medis.
Dalam kasus yang diceritakan Prof Harry, pasien tersebut kemudian mengalami komplikasi perdarahan setelah mendapatkan terapi untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah.
“Dia meninggalnya bukan karena serangan jantung, tapi karena perdarahan,” kata Prof Harry.
Kisah tersebut tidak berarti kerokan menjadi penyebab kematian pasien. Komplikasi yang dialami terjadi setelah terapi trombolitik yang memiliki risiko perdarahan.
Hal yang perlu diperhatikan masyarakat adalah mengenali perbedaan antara keluhan ringan dengan tanda kondisi yang membutuhkan pemeriksaan segera. Tidak semua kondisi yang disebut “masuk angin” merupakan serangan jantung, tetapi keluhan yang tidak biasa juga sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masuk angin.
Jika muncul nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, atau keluhan berat yang muncul mendadak dan menetap, segera cari pertolongan medis untuk memastikan penyebabnya.









