Influenza A Merebak pada Anak, Kenali Gejala hingga Tanda Bahaya Wajib Diwaspadai
JAKARTA, iNews.id - Influenza A tengah ramai diperbincangkan seiring kabar meningkatnya kasus di sejumlah daerah. Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menyerang anak dan menimbulkan gejala yang cukup berat.
Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan, influenza merupakan infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, mulai dari hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Influenza terbagi dalam beberapa kategori, yakni Influenza A, B dan C.
Influenza A diketahui berkaitan dengan wabah flu musiman dan pandemi global. Sementara Influenza B lebih banyak menyebabkan wabah lokal, sedangkan Influenza C umumnya menimbulkan gejala yang lebih ringan dan tidak menyebabkan wabah.
Dokter Spesialis Anak, dr. Ardi Santoso, menjelaskan Influenza A bukan sekadar flu atau pilek biasa. Dalam unggahan di akun Instagram-nya, dia menyebut penyakit tersebut dapat muncul secara mendadak dengan sejumlah gejala.
"Demam tinggi, batuk dengan intensitas yang cukup berat, sakit kepala, pegal dan nyeri otot, menggigil dan lemas," tulis dr. Ardi, dikutip Jumat (18/9/2026).
Selain itu, penderita dapat mengalami sakit tenggorokan, hidung berair hingga hidung tersumbat. Pada anak kecil, muntah atau diare juga dapat terjadi.
"Tidak semua influenza harus demam, tetapi demam jauh lebih umum dibanding common cold," katanya.
Meski memiliki sejumlah gejala khas, dr. Ardi mengingatkan gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi Influenza A. Pemeriksaan seperti PCR diperlukan untuk memastikan penyebab infeksi karena gejala influenza dapat menyerupai infeksi virus pernapasan lainnya.
"Tapi ingat, gejala saja tidak selalu memastikan penyebabnya butuh PCR. Influenza dan virus pernapasan lain bisa sangat mirip," ujarnya.
Influenza A juga mudah menular melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara. Penularan bahkan dapat terjadi sejak awal infeksi, sebelum seseorang menyadari dirinya sedang sakit.
"Jadi tidak aneh bila satu anak sakit, lalu anggota keluarga lain menyusul," katanya.
Sebagian besar Influenza A tanpa komplikasi dapat membaik dalam waktu sekitar tiga hingga tujuh hari. Namun, hilangnya demam tidak selalu berarti seluruh gejala langsung menghilang.
Batuk dan rasa lelah dapat bertahan lebih dari dua minggu pada sebagian pasien. Kondisi tersebut tidak otomatis menandakan infeksi belum sembuh atau membutuhkan antibiotik.
"Jangan kaget kalau demam sudah hilang, sementara batuk dan lemas belum sepenuhnya hilang. Batuk dan rasa lelah setelah influenza dapat bertahan lebih dari 2 minggu pada sebagian pasien," ujarnya.
Pada anak, influenza juga dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih berat jika terjadi komplikasi, salah satunya pneumonia. Karena itu, orang tua perlu mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan medis.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak mengalami sesak atau dada tertarik saat bernapas, bibir dan kulit tampak kebiruan, tanda dehidrasi, sulit dibangunkan, kejang, serta demam dan batuk yang sempat membaik tetapi kembali memburuk.
Untuk mencegah penularan, orang tua dapat mengurangi kontak dekat dengan banyak orang, tetap berada di rumah atau tempat perawatan saat sakit, mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menggunakan masker serta menjaga ventilasi dan kualitas udara di dalam ruangan.
"Jangan lupa vaksin influenza setiap tahun — AAP merekomendasikan untuk semua anak usia ≥6 bulan tanpa kontraindikasi. Influenza bukan sekadar batuk-pilek biasa. Kenali gejalanya, cegah penularannya, dan tahu kapan anak harus diperiksa," katanya.









