Keram di Tengah Marathon Bisa Dicegah? Begini Cara Namira Adjani Membaca Sinyal Tubuh
RASA terbakar pada kaki hingga ancaman keram menjadi salah satu tantangan yang kerap dirasakan pelari ketika menempuh jarak jauh. Kondisi tersebut bisa membuat pelari merasa tidak sanggup melanjutkan lomba.
Bagi selebriti sekaligus runner, Namira Adjani, pengalaman mengikuti marathon membuatnya semakin mengenali sinyal yang diberikan tubuh. Dia pun beberkan kiat untuk mengatasi kondisi tersebut.
1. Keram di Tengah Marathon Bisa Dicegah?
Namira Adjani berbagi cerita soal pengalamannya dalam dunia lari dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone. Diketahui, anak dari Alya Rohali itu juga baru saja finis di salah satu seri Abbott World Marathon Majors, yakni Sydney Marathon 2026.
Saat menjalani marathon, kekhawatiran soal keram saat berlari juga menghantui Namira. Menurutnya, kunci utama bukan menunggu sampai keram benar-benar terjadi, melainkan mengantisipasinya sejak tanda-tanda awal mulai terasa.
“Nah jadi kalau misalnya aku, mungkin karena aku udah lumayan sering marathon ya. Jadi aku udah tau sinyal-sinyal badanku gitu lah,” cerita Namira.
Ketika mulai merasakan tanda-tanda seperti kaki terasa akan mengalami keram, ia segera melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan meningkatkan asupan cairan yang mengandung elektrolit.
Namira biasanya mengonsumsi minuman isotonik dan elektrolit. Selain itu, Namira menggunakan salt stick yang mengandung garam atau elektrolit. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan sebelum kram benar-benar terjadi.
“Sebelum itu terjadi, itu harus diatasin dulu. Jadi kayak biasanya tuh kalau, oh ini kayaknya aku ngerasa kaki ku tuh udah mau keram deh. Oke kalau gitu aku minum isotonik yang lebih banyak, elektrolit, sama namanya salt stick,” jelas Namira.
“Itu jadi kayak, karena kadang kita tuh keram karena kurang garam kan. Jadinya dapetnya dari isotonik, elektrolit, sama si salt stick itu. Jadi sebelum keram, langsung diatasin,” lanjutnya.
2. Jangan Memaksa
Bagi pelari jarak jauh, kemampuan membaca kondisi tubuh memang menjadi bagian penting dalam menjaga performa. Rasa lelah, kaki terasa berat, atau munculnya tanda-tanda kram dapat menjadi sinyal untuk mengevaluasi kembali kondisi tubuh sebelum memaksakan diri.
Namun, kebutuhan cairan dan elektrolit setiap pelari berbeda. Konsumsi elektrolit maupun produk garam sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh, durasi aktivitas, cuaca, serta strategi hidrasi masing-masing.
Yang terpenting, jangan menunggu tubuh benar-benar “memaksa berhenti”. Mengenali sinyal sejak awal dapat membantu pelari mengambil keputusan lebih cepat dan menjaga tubuh tetap dalam kondisi yang aman selama berlari.
“Karena emang, iya karena emang to be honest kalau udah keram, itu udah lebih susah. Lebih susah ngebalikin dia ke kondisi awal. Jadi itu harus sebelum itu,” tutup Namira.









