Jaga Kesehatan Anak di Tengah Karhutla, IDAI Beri Rekomendasi Penting

Jaga Kesehatan Anak di Tengah Karhutla, IDAI Beri Rekomendasi Penting

Gaya Hidup | sindonews | Jum'at, 28 Agustus 2026 - 15:10
share

Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tengah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Kalimantan tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan kabut asap.

Menanggapi kondisi darurat ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan sejumlah rekomendasi langkah strategis untuk melindungi kesehatan fisik dan tumbuh kembang anak dari bahaya polusi udara yang ekstrem.

Baca juga: Inovasi AI Bantu Prediksi Risiko Karhutla di Kalbar hingga 24 Bulan

Rekomendasi tersebut diunggah langsung oleh IDAI dalam unggahan di akun instagram resminya. Dalam unggahan itu, mereka memberikan beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh masyarakat guna menjaga dan melindungi kesehatan anak-anak di tengah kabut asap akibat dampak Karhutla yang tengah merebak di masyarakat.

Langkah utama yang paling krusial untuk dilakukan orang tua adalah meminimalkan interaksi anak secara langsung dengan udara luar. Selama masa krisis kabut asap, anak-anak disarankan untuk tetap beraktivitas di dalam rumah dengan memastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat. Penggunaan pendingin ruangan dengan mode sirkulasi udara tertutup serta pengoperasian pemurni udara atau air purifier sangat dianjurkan untuk menjaga kualitas udara di dalam hunian. Selain itu, segala bentuk aktivitas di luar ruangan maupun kegiatan rumah tangga yang berpotensi menambah polusi udara indoor harus dihentikan sementara.

Baca juga: 4 Ton Garam Ditebar di Langit IKN Agar Turun Hujan demi Tangani Karhutla Kalimantan

Bagi anak-anak yang berada dalam kelompok risiko tinggi, opsi pemindahan lokasi tinggal ke wilayah dengan udara yang lebih bersih menjadi langkah antisipasi yang sangat disarankan.

Apabila situasi memaksa anak untuk beraktivitas di luar rumah atau terpapar asap pekat, penggunaan perlindungan pernapasan yang tepat menjadi hal yang wajib. Masker jenis respirator N95 merupakan pilihan utama karena memiliki efisiensi filter hingga 95 persen terhadap partikel mikro berukuran 0,3 mikron.

Masker tersebut harus terpasang secara rapat pada wajah anak dan rutin diganti apabila sudah kotor. Kendati demikian, perlindungan masker hanyalah tindakan sementara, sebab cara paling efektif untuk menjaga pernapasan anak tetap aman adalah segera membawa mereka menjauh dari lokasi yang terpapar kabut asap parah.Bagi anak-anak yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, kesiapan medis menjadi prioritas yang tidak boleh diabaikan. IDAI mengingatkan pentingnya ketersediaan obat-obatan rutin seperti antiinflamasi steroid dan bronkodilator untuk meredakan gangguan pernapasan.

Namun, penggunaan seluruh jenis obat-obatan ini harus sepenuhnya berdasarkan indikasi medis serta pengawasan langsung dari dokter, dan tidak diperuntukkan bagi penggunaan jangka panjang.

Begitu pula dengan pemberian suplementasi oksigen, baik yang dilakukan di rumah sakit maupun di rumah, wajib mengikuti petunjuk medis yang tepat karena terapi oksigen sementara tidak akan memberikan manfaat optimal jika udara di lingkungan sekitarnya masih terkontaminasi polusi berat.

Ketika kualitas udara di suatu wilayah sudah berada pada tingkat yang membahayakan, tindakan evakuasi yang terorganisir menjadi opsi mendesak yang harus diambil. Proses evakuasi ini diprioritaskan bagi anak-anak yang mengidap penyakit kronis, memiliki kebutuhan medis khusus, serta anak-anak dengan disabilitas.

Orang tua dan petugas di lapangan perlu menyiapkan perbekalan darurat minimal untuk kebutuhan lima hari, mencakup pasokan obat rutin, masker cadangan, air bersih, bahan makanan, dokumen penting, hingga alat bantu khusus.

Selama proses evakuasi, pemilihan tempat penampungan sementara harus memenuhi kriteria aman, memiliki udara yang lebih bersih, mudah diakses, serta ramah terhadap anak. Jika kondisi kesehatan anak mengalami penurunan secara signifikan selama masa darurat, rujukan dan evakuasi ke fasilitas kesehatan dengan layanan medis yang lebih memadai harus segera dilakukan.

Penanganan bencana ini pun harus dituntaskan hingga tahap pasca-evakuasi dengan memastikan proses reunifikasi keluarga berjalan lancar serta pemberian dukungan psikologis yang optimal untuk memulihkan trauma pada anak.

Topik Menarik