Psikolog: Bercerai Secara Hukum Belum Tentu Buat Seseorang Alami Emotional Divorce
PERCERAIAN secara hukum kerap jadi langkah yang diambil pasangan kala sudah mengalami banyak konflik dalam rumah tangga. Namun, perceraian secara hukum atau legal divorce ternyata belum tentu membuat seseorang alami emotional divorce juga.
Jika emotional divorce masih terjadi, high conflict divorce pun bisa saja terjadi. Lantas, apa faktor yang membuat rasa emosional masih terasa setelah perceraian?
1. Apa Itu Legal Divorce?
Legal divorce merupakan perceraian yang telah terjadi secara resmi dan diakui secara hukum. Artinya, pasangan telah melalui proses hukum dan pengadilan telah menetapkan bahwa keduanya telah bercerai.
Dengan demikian, status perkawinan mereka secara hukum telah berakhir. Namun, berakhirnya hubungan secara legal belum tentu membuat seluruh persoalan emosional di antara keduanya ikut berakhir.
2. Emotional Divorce, Ketika Ikatan Emosional Benar-Benar Terlepas
Berbeda dengan legal divorce, emotional divorce berkaitan dengan sejauh mana seseorang telah benar-benar melepaskan diri secara emosional dari berbagai persoalan yang sebelumnya membawa hubungan tersebut menuju perceraian.
Psikolog klinis dewasa, Hersa Aranti, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa dalam perceraian terdapat dua hal yang perlu dibedakan, yakni legal divorce dan emotional divorce.
Menurut Hersa, seseorang yang telah mencapai emotional divorce umumnya sudah dapat menerima kondisi yang terjadi. Apa pun yang dilakukan oleh mantan pasangan tidak lagi memiliki pengaruh emosional yang besar terhadap dirinya.
Sebaliknya, seseorang bisa saja secara hukum telah bercerai, tetapi secara emosional masih memiliki keterikatan dengan mantan pasangan. Misalnya, tindakan atau perkataan mantan pasangan masih dapat menjadi pemicu emosi atau membuat seseorang merasa terpengaruh.
Dalam kondisi seperti ini, proses perceraian secara hukum sebenarnya telah selesai. Namun proses perpisahan secara emosional belum sepenuhnya terjadi.
“Jadi gini divorce itu sebenarnya ada yang disebut dengan legal divorce sama emotional divorce, kalau legal itu adalah divorce yang terjadi memang secara legal secara pengadilan sudah ketuk palu bahwa oke kedua pasangan ini sudah bercerai gitu,” ujar Hersa.
3. Mengapa Legal Divorce Tidak Selalu Berarti Emotional Divorce?
Perceraian biasanya melibatkan berbagai persoalan yang kompleks. Ketika hubungan berakhir dalam kondisi penuh konflik, luka emosional, kekecewaan, atau persoalan yang belum terselesaikan, perasaan tersebut tidak otomatis hilang setelah putusan pengadilan keluar.
Karena itu, seseorang dapat berstatus sebagai mantan pasangan secara hukum, tetapi masih membawa berbagai emosi dari hubungan sebelumnya. Kondisi tersebut juga dapat membuat interaksi antara mantan pasangan tetap penuh ketegangan.
Hal-hal kecil yang dilakukan salah satu pihak bisa menjadi pemicu bagi pihak lainnya. Terlebih jika keduanya masih harus berkomunikasi karena memiliki anak atau tanggung jawab bersama.
“Kemudian, ada lagi yang disebut dengan emotional divorce, emotional divorce itu seberapa akhirnya kita sudah terlepas dari segala permasalahan yang akhirnya menuju ke perceraian itu sendiri. Nah ada yang tadi akhirnya sudah berdamai itu biasanya secara emosional memang sudah benar-benar terpisah, sudah dia ngapain sudah akhirnya tidak relevan pada kita gitu,” tutur Hersa.
“Nah jadi memang buat pasangan yang sudah mengalami legal divorce belum tentu akhirnya sudah mengalami emotional divorce, masih ada attachment tertentu dari sisi emosional yang akhirnya misalnya apa yang dilakukan masih triggering buat pasangan, apa yang saya lakukan untuk pasangan, dan sebagainya,” sambungnya.
“Jadi, dua hal itu adalah dua hal yang memang perlu dipisahkan karena ketuk palu itu gak berarti akhirnya secara emosional semuanya juga sudah berpisah gitu,” jelas Hersa.
3. Apa yang Harus Dilakukan Jika Belum Berdamai Secara Emosional?
Hersa menyarankan seseorang untuk terlebih dahulu memahami bagaimana perceraian dan pola hubungan dengan mantan pasangan memengaruhi dirinya.
Menurutnya, seseorang terkadang terlalu sibuk menghadapi konflik dan berbagai urusan perceraian sehingga lupa melakukan refleksi terhadap kondisi emosionalnya sendiri.
Seseorang dapat mulai dengan mengenali perasaan yang muncul, memahami apa yang menjadi pemicu emosi, serta melihat sejauh mana pengalaman dalam hubungan tersebut masih memengaruhi kehidupannya. Jika merasa kesulitan memahami kondisi tersebut, berkonsultasi dengan profesional dapat menjadi salah satu pilihan.
“Pertama tentunya dia perlu memahami dulu ya apa bagaimana akhirnya perceraian ataupun pola hubungan dengan pasangan itu berdampak pada dirinya,” jelas Hersa.
“Ini yang terkadang kan orang sibuk dengan berantemnya, sibuk dengan yaudah apa yang saya harus urus gitu ya, tapi akhirnya tidak berefleksi dan tidak mengambil waktu untuk oke saya tuh perasaannya gimana sih, ini tuh mempengaruhi diri saya sejauh apa sih,” sambungnya.
4. Profesional Bisa Membantu Proses Pemulihan
Ketika masih terdapat luka, persoalan yang belum selesai, atau konflik dengan mantan pasangan yang belum menemukan titik tengah, bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan.
Pihak profesional dapat berperan sebagai pihak yang lebih netral dalam membantu kedua orang tersebut memahami persoalan dan, jika memungkinkan, mencari jalan keluar.
Namun, tidak semua pasangan berada dalam kondisi siap untuk langsung membicarakan persoalan bersama. Jika intensitas emosinya masih terlalu tinggi, masing-masing pihak dapat terlebih dahulu menjalani proses terapi secara individual.
Tujuannya adalah membantu menurunkan intensitas emosi sehingga pembicaraan mengenai berbagai persoalan perceraian dapat dilakukan dengan kondisi yang lebih tenang.
“Setelah dan kalau pun misalnya memang kebingungan itu tentunya boleh akhirnya dikonsultasikan ke profesional untuk akhirnya bisa benar-benar memahami apa dinamika diri yang terjadi. Kemudian setelah itu baru akhirnya dicari kira-kira jalan keluar seperti apa, kalaupun masih ada luka yang masih mengganjal permasalahan yang belum kelar ataupun permasalahan dengan pasangan yang belum ada titik tengahnya, itu tentunya boleh juga melibatkan profesional untuk menjadi pihak yang akhirnya lebih netral dan semoga bisa memediasi gitu ya,” tutur Hersa.
“Pun akhirnya misalnya belum siap nih untuk mencapai titik tengah bersama itu masing-masing dulu biasanya ada terapinya gitu ya untuk akhirnya oke healing dulu dari segi intensitas emosional diturunkan dulu gitu supaya dalam membicarakan segala perkara yang menjadi pembahasan di dalam proses perceraian itu bisa dilakukan secara kepala dingin gitu. Karena kalau memang masih emosional gimana akhirnya kita bisa mencapai titik tengahnya gitu kan ya,” tutup Hersa.









